Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kisah Perjalanan Mpu Kuturan Menaiki Menjangan ke Bali, Sejumlah nama Wilayah di Jembrana menjadi Jejak Historisnya

I Putu Mardika • Jumat, 30 Agustus 2024 | 04:03 WIB

Pelinggih Menjangan Saluang sebagai bentuk penghormatan terhadap Menjangan yang telah mengantarkan Mpu Kuturan
Pelinggih Menjangan Saluang sebagai bentuk penghormatan terhadap Menjangan yang telah mengantarkan Mpu Kuturan
BALIEXPRESS.ID-Dalam areal tempat pemujaan masyarakat Hindu di Bali pada khususnya dan di Indonesia pada umumnya terdapat beberapa bangunan, yang memiliki bentuk, penempatan, dan arti dan fungsi masing-masing, di antaranya disebut palinggih Rong Tiga, Taksu, Pangelurah, Padmasari, Padmasana, dan sebagainya.

Di luar merajan atau sanggah juga dibangun palinggih penunggun karang, indra plaka, dan pelinggih lain yang dianggap perlu.

Selain bangunan umum itu, ditemukan juga sebuah palinggih yang sejajar dengan lokasi palinggih taksu, catu meres catu munjung dan Padma (di sebelah utara jika di Bali Selatan).

Bangunan palinggih majangan saluang berbentuk bangunan rong siki (bangunan satu ruang) yang di depan tiang bangunan ditempeli dengan patung kepala menjangan.

Bangunan ini dinyasakan untuk menghormati Menjangan yang telah membantu Mpu Kuturan yang memiliki jasa terhadap perkembangan peradaban Hindu di Bali.

Mpu Kuturan salah seorang Rsi yang datang dari Jawa pada abad ke 10 hingga abad ke 11 Masehi, masa pemerintahan raja Udayana dari dinasti Warmadewa.

Salah satu jasa Mpu Kuturan adalah menyatukan sekte-sekte menjadi agama Hindu Siwa-Boda, dengan pemujaan terhadap Tuhan yang disebut Tri Murti, kepercayaan terhadap yakni Dewa Brahma, Dewa Wisnu, dan Dewa Siwa.

Baca Juga: Keajaiban Hindu Bali di Pura Luhur Pesimpangan Pucak Kedaton di Pupuan: Tempat Memohon Berkah dan Perlindungan, Dilarang Pakai Sendal

Di samping itu, Mpu Kuturan juga dikenal yang menata sistem desa adat di Bali. Oleh karena itu, pembahasan mengenai palinggih menjangan seluang tidak bisa dilepaskan dari perjalanan Mpu Kuturan dari Jawa ke Bali.

Menurut Cendikiawan Hindu, Ida Bagus Ketut Rimbawan menjelaskan sumber pelinggih Menjangan Seluang yang pertama sejarah perjalanan Ida Mpu Kuturan serta tattwa dalam bentuk lontar, yaitu Barong Swari.

“Lontar ini menjadi dasar Pembangunan pelinggih Menjangan Saluang,” katanya.

Dalam perjalanan Mpu Kuturan saat ke Bali, secara historis diceritakan bahwa ketika Mpu Kuturan tiba di Gilimanuk, beliau bingung mencari jalan menuju arah Timur.

Tiba-tiba muncul seekor Binatang bertanduk yang disebut Manjangan menawarkan dirinya untuk mengantarkan Mpu Kuturan berjalan dan menyeruak hutan lebat yang dilaluinya. “Beliau setuju menaiki Menjangan,” katanya.

Karena Mpu Kuturan untuk pertama kali menunggang binatang Menjangan, maka beliau berpegangan erat-erat pada leher binatang Menjangan, sampai-sampai leher Menjangan tercekik pegangan beliau.

Baca Juga: Misteri Pura Petitenget: Pantangan Sakral dan Penjaga Gaib di Pantai Kerobokan, yang Melanggar Alami Peristiwa yang Sulit Dipercaya

Itu sebabnya di daerah itu sampai hari ini disebut dengan desa Cekik. Menjangan terus mengantarkan beliau menuju rah Timur, sementara Mpu Kuturan juga tetap memegang erat-erat leher Sang Menjangan.

Saking eratnya (kelet, dalam Bahasa Bali, berarti erat) beliau memegang leher sampai-sampai Sang Menjangan tidak bisa leluasa bergerak, maka Sang Menjangan dan Mpu Kuturan berhenti dan beristirahat sejenak.

Desa ini hingga sekarang dikenal dengan desa Kelatakan. Selanjutnya Mpu Kuturan turun dari punggung Menjangan terus berjalan (melaja) ke arah Timur, sementara Sang Menjangan berada di depannya untuk mencarikan arah dan jalan menuju ke Timur.

Tempat beliau turun sambil berjalan ini kemudian diberi nama dengan desa Melaya dan sekarang Kecamatan Melaya.

Mengingat Jembrana itu daerah memiliki hutan sangat luas dan lebat (jimbarwana), maka Sang Menjangan berkata kepada Mpu Kuturan, bahwa Ia akan mengantarkan Mpu Kuturan sampai daerah terang (galang), jika sudah sampai di daerah yang terang, maka ia akan kembali ke dalam hutan di wilayah Jimbarwana.

Sang Menjangan terus berjalan ke arah Timur sampai di daerah Mendoyo (yang diperkirakan berasal dari kata Mando Yo berarti angin).

Sang Menjangan terus berjalan sehingga sampai di daerah Pekutatan, dan karena di Pekutatan telah kelihatan enjung kuta (kota-kota, desa-desa), di situlah Sang Menjangan memohon diri kepada Mpu Kuturan untuk kembali ke hutan Jimbarwana.

Sebelum Sang Menjangan kembali ke hutan, Mpu Kuturan berpesan bahwa “kelak engkau akan dihormati karena jasa-jasa dan kebaikanmu”

Baca Juga: Memahami Makna Ritual Hindu Bali, Melaspas: Rahasia di Balik Kelayakan Sebuah Rumah atau Bangunan Baru

“Itulah sebabnya, dibanguna palinggih Menjangan Saluang sebagai bukti hormat pada jasa Sang Menjangan. Akhirnya, sepeninggal Sang Menjangan, maka Mpu Kuturan meneruskan perjalan sendiri,” paparnya.

Tempat Mpu Kuturan memulai perjalanan sendiri, hingga saat ini disebut dengan desa Pengeragoan (ngeraga, artinya sendiri). Perjalanan Panjang, membuat Lelah Mpu Kuturan, lalu beliau istirahat di Yeh Leh.

Beliau istirahat dan mandi di Sungai yang airnya jernih, yang sekarang disebut Yeh Leh. Desa-desa yang dilalui oleh perjalanan Mpu Kuturan adalah nama hasil tinggalan historis perjalanan Mpu Kuturan abad 10 hingga 11 Masehi.

Selanjutkan menurut Tattwa lontar Barong Swari dijelaskan bahwa pemujaan terhadap Menjangan sebagai refleksi ‘sarana’ menuju kesucian dan penyatuan dengan Ida Bhatara Siwa. (dik)

Keterangan foto

Pelinggih Menjangan Saluang erat dengan perjalanan Mpu Kuturan ke Bali (ist)

Editor : I Putu Mardika
#RSI #saluang #hutan #cekik #sejarah #mpu kuturan #menjangan