Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Menelusuri Keunikan Lelakut: Karya Seni Petani Bali yang Berfungsi Ganda sebagai Penolak Bala dan Penjaga Sawah

I Putu Suyatra • Minggu, 1 September 2024 | 03:33 WIB
Lelakut, karya seni petani Bali.
Lelakut, karya seni petani Bali.

BALIEXPRESS.ID - Saat Anda mengunjungi Bali, salah satu pemandangan menarik yang akan menemui mata adalah orang-orangan sawah, atau Lelakut, yang berdiri di tengah persawahan.

Karya seni ini tidak hanya berfungsi untuk menakut-nakuti burung pipit, tetapi juga memiliki makna mendalam sebagai penolak bala dan pelindung sawah.

Apa Itu Lelakut?

Lelakut adalah boneka dari jerami yang dipasang di sawah untuk mengusir burung.

Namun, lebih dari sekadar orang-orangan biasa, Lelakut juga diberi mantra dan sesaji khusus untuk menangkal kekuatan gaib negatif.

"Lelakut yang sudah diberi mantra dan sesaji tidak hanya menjaga padi dari gangguan burung, tetapi juga melindungi sawah dari gangguan ilmu hitam atau niat buruk dari pihak-pihak tertentu," jelas Wayan Jelantik, Ketua Majelis Subak Kota Denpasar, dalam wawancara dengan Bali Express.

Tradisi dan Kreativitas dalam Pembuatan Lelakut

Bagi para petani, Lelakut adalah bagian penting dari tradisi mereka, meski generasi muda mungkin tidak banyak tahu tentang maknanya.

Lelakut biasanya terbuat dari bahan-bahan alami seperti jerami atau batang pelepah kelapa yang dianyam dan dibentuk menyerupai manusia.

Kepala Lelakut sering kali dihiasi dengan rambut dari ijuk atau gambar wajah yang berwarna-warni menggunakan bahan alami seperti kapur, kunyit, dan arang.

"Penambahan topi seperti caping atau kukusan bekas memberikan kesan bahwa Lelakut benar-benar seorang manusia," tambah Jelantik.

Beberapa petani bahkan menambahkan sentuhan humor dengan menggunakan topi Korpri atau baret tentara yang sudah tidak terpakai.

Kekuatan Magis dan Ritual Kajeng Kliwon

Lelakut juga memiliki dimensi mistis yang kuat. Hari Kajeng Kliwon, yang dianggap sebagai hari keramat dalam kalender Bali, adalah waktu yang tepat untuk membuat dan 'menghidupkan' Lelakut dengan mantra dan sesaji.

Pada hari ini, para petani melakukan ritual khusus untuk memaksimalkan kekuatan magis Lelakut, sehingga mampu melindungi sawah dari berbagai ancaman.

Lebih dari Sekadar Penakut Burung

Lelakut, selain berfungsi sebagai penjaga sawah, juga memiliki peran penting dalam menjaga kesucian dan keberkahan hasil panen.

Sesaji yang diletakkan di tugu sawah sebagai bentuk terima kasih kepada Sang Hyang Sepuh dan Sang Hyang Pemunah Sakti, dipercaya membantu menjaga padi dari hama dan gangguan lainnya.

Dengan memadukan tradisi, seni, dan kepercayaan, Lelakut bukan hanya sekadar boneka pengusir burung, tetapi juga simbol kekayaan budaya Bali yang penuh makna dan filosofi. ***

Editor : I Putu Suyatra
#bali #petani #lelakut