BALIEXPRESS.ID - Berbicara tentang Bali, pesona magisnya selalu menyimpan kisah yang tak pernah habis untuk dijelajahi. Salah satu tradisi Hindu Bali unik yang menarik perhatian adalah pembuatan Lelakut.
Di permukaan, Lelakut berfungsi sebagai pengusir burung pemakan padi.
Namun, di balik itu, terdapat dimensi mistis yang jarang diketahui. Bila diupacarai, Lelakut dipercaya mampu menjadi penolak bala, melindungi sawah dari berbagai gangguan yang tak kasat mata.
Lelakut biasanya dibuat dari bahan seadanya. Namun, dalam upacara tertentu, pembuatannya menjadi lebih sakral dan dipenuhi ritual khusus.
"Tak jarang masyarakat membuat Lelakut disertai dengan upacara dan ritual agar Lelakut dapat bermanfaat secara niskala," ungkap Wayan Jelantik, tokoh Subak Kota Denpasar.
Menurut Jelantik, untuk menjadikan Lelakut bertuah, diperlukan bahan khusus yang diyakini memiliki kekuatan magis. Salah satu bahan yang paling terkenal adalah Papah Nyuh Nunggal.
Bahan ini langka dan sulit ditemukan. Papah Nyuh Nunggal adalah pelepah kelapa tunggal yang berdiri sendiri di pohon, diyakini memiliki kekuatan magis luar biasa.
"Jika diupacarai, pelepah ini mampu menjadi penolak bala dan hama secara niskala," jelas Jelantik.
Proses pembuatan Lelakut ini tidak bisa sembarangan. Untuk memunculkan daya magisnya, Lelakut harus "dihidupkan" dengan sesaji dan mantra.
Setelah ditancapkan di sawah pada hari tertentu, Lelakut disembur dengan kesuna (bawang putih) dan jangu (sejenis rumput obat) yang telah dikunyah sebanyak tiga kali.
Sesaji berupa canang dan jajan satuh juga dihaturkan setiap 15 hari sekali, agar Lelakut semakin bertuah dan mampu melindungi sawah secara niskala.
Tradisi ini tidak hanya menggambarkan kearifan lokal masyarakat Bali dalam menjaga pertanian, tetapi juga menunjukkan betapa kuatnya keyakinan mereka terhadap kekuatan mistis yang ada di sekitar.
Kisah Lelakut ini mengundang kita untuk memahami lebih dalam tentang hubungan antara manusia, alam, dan spiritualitas di Bali. ***
Editor : I Putu Suyatra