BALIEXPRESS.ID - Pentas Calonarang yang digelar umat Hindu Bali selalu identik dengan ritual ekstrem dan penuh risiko. Salah satu adegan yang paling mengerikan adalah peran Watangan—mayat hidup yang diusung ke kuburan tengah malam.
Dalam pentas terbaru, seorang pemuda bernama Kadek Edi Wahyu Kususma Yudha rela menjadi Watangan demi kesembuhan ayahnya.
Apa yang memotivasi Kadek Edi untuk mengambil risiko besar ini, dan bagaimana prosesnya berlangsung?
Menjadi Watangan bukanlah hal yang sembarangan.
Lakon ini melibatkan berbagai risiko fatal, terutama bagi mereka yang berperan sebagai mayat hidup.
Calonarang sendiri terkenal sebagai pentas yang mengadu ilmu kanuragan antara aliran kiri dan kanan, dengan fokus utama pada sosok Watangan yang sudah menjalani prosesi kematian dan siap dibawa ke kuburan di tengah malam.
Bila nasib kurang beruntung, Watangan bisa saja benar-benar mati karena dikalahkan oleh kekuatan dari Ilmu Aji Ugig.
Meskipun demikian, hingga saat ini, pentas Calonarang di Bali belum pernah menyebabkan kematian nyata pada sosok Watangan.
Risiko besar ini tampaknya tidak menghalangi Kadek Edi, pemuda berusia 24 tahun asal Bedulu, Blahbatuh.
Edi memutuskan untuk menjadi Watangan setelah upaya pengobatan ayahnya yang sudah sakit selama 12 tahun tidak membuahkan hasil.
"Saya merasa sudah pasrah, dan menjadi Watangan adalah jalan terakhir untuk menyembuhkan ayah saya," ungkap Edi saat ditemui di rumahnya di Banjar Taman, Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar.
Edi percaya bahwa Pura Dalem merupakan tempat yang memiliki kekuatan kehidupan dan kematian.
Ia hanya mengandalkan ketulusan dan nekat tanpa membawa jimat atau perlindungan khusus.
"Saya berserah diri sepenuhnya dan hanya fokus pada niat ikhlas saya," ujarnya.
Persiapan untuk menjadi Watangan memakan waktu sekitar satu tahun.
Edi harus mempersiapkan diri secara moral dan mental, serta mendapatkan izin dari ibunya.
Selama proses tersebut, Edi melakukan meditasi dan berdoa untuk meminta izin dari ibunya serta memohon perlindungan kepada sasuhunan di Pura Dalem.
Ketika proses ngayah dimulai, Edi merasa seperti tidur biasa dan hanya berkonsentrasi pada keselamatan selama pentas berlangsung.
Ritual ini berlangsung sekitar satu setengah jam, di mana Edi dibungkus kain kafan dan diusung ke kuburan untuk menjalani prosesi upacara.
Usai menjalani ritual, Edi merasa bisa sadar dan bangun kembali seperti biasa.
Namun, beberapa hari setelahnya, ia mengalami mimpi yang menegangkan tentang seseorang yang mengajaknya berkelahi di tanah pamuhunan tempat ia menjalani proses menjadi Watangan.
Edi menganggap mimpi ini sebagai bagian dari sugesti atau efek dari ritual tersebut.
Edi menegaskan bahwa niatnya menjadi Watangan murni untuk kesembuhan ayahnya, tanpa adanya keinginan untuk mencari ketenaran atau kesaktian.
"Saya hanya ingin melakukan ini dengan ikhlas dan berharap ayah saya sembuh," tambahnya.
Menurut ayah Edi, Made Sueta, anaknya menjalani proses ini dengan ketulusan dan kepercayaan kepada kekuatan Tuhan.
Setelah satu tahun menjalani ritual Watangan, ayah Edi akhirnya sembuh dan tidak pernah lagi masuk rumah sakit.
Kisah Kadek Edi Wahyu Kususma Yudha sebagai Watangan adalah contoh ekstrem dari pengorbanan demi orang tercinta, dan memberikan pandangan mendalam tentang keyakinan dan tradisi yang kuat dalam masyarakat Bali. ***
Editor : I Putu Suyatra