BALIEXPRESS.ID - Tari Sanghyang merupakan salah satu seni yang sudah ada sejak jaman Pra-Hindu dan memiliki sejarah yang cukup panjang dalam tradisi pemujaan Umat Hindu di Bali, khususnya yang berkaitan dengan ritual penolak Bala (wabah penyakit).
Tapi dalam tradisi pemujaan di masa modern seperti saat ini, tari Sanghyang masih tetap eksis.
Karena menurut Budayawan Bali, Prof. Dr. Made Bandem, tari Sanghyang ini merupakan bagian dari Tari Bali, yang mana Tari Bali itu sendiri merupakan jenis tarian yang berfungsi untuk melanjutkan tradisi.
"Berdasarkan literatur yang ada, disebutkan tari Bali adalah tari tradisi yang berfungsi untuk melanjutkan tradisi yang sudah lama berkembang di Bali, sejak jaman prasejarah sampai sekarang," jelasnya.
Adapun ciri Tari Tradisi Bali adalah gerak tari, iringan musik (gamelan), iringan vokal (tembang), dan lakon (ceritera) yang diambil dalam tari tersebut adalah sesuai dengan tradisi dan adat istiadat yang ada di Bali sejak jaman Pra Hindu sampai dengan jaman modern seperti saat ini.
Sebagai sarana untuk melanjutkan tradisi di masa modern, seperti saat ini, Tari Sanghyang yang termasuk tarian sakral ini juga memiliki landasan hukumnya.
Berdasarkan fungsi ritualnya dan sosialnya, jika dilihat dalam Keputusan Seni Sakral dan Profan dalam Bidang Tari Tanggal 21-23 Maret 1971, Tari Sanghyang menjadi salah satu bagian dari tiga tarian yang ada di Bali, yakni termasuk jenis tari Wali.
"Adapun tiga jenis tari tersebut berdasarkan kelompok dan fungsinya, tari tradisi terdiri dari Tari Wali, Tari Bebali dan Tari Balih-balihan. Tari Sanghyang ini, termasuk dalam kategori tari Wali, yang pementasannya identik dengan penari dalam kondisi trance," paparnya.
Selain Sanghyang Dedari, dalam tradisi pemujaan Umat Hindu di Bali, ada beberapa jenis tari Sanghyang lainnya yang juga sering dipentaskan di Bali, yakni, Sanghyang Dedari, Sanghyang Deling, Sanghyang Bojog, Sanghyang Jaran, Sanghyang Sampat dan Sanghyang Celeng.
Semua jenis Tari Sanghyang ini tujuan pementasannya adalah untuk memohon keselamatan dari bencana alam atau wabah penyakit baik yang menjangkiti manusia ataupun hewan peliharaan manusia.
"Kondisi ini tidak terlepas dari tradisi kehidupan agraris yang dianut oleh manusia Bali sejak jaman dahulu," tambahnya. (gek)
Editor : I Putu Suyatra