BALIEXPRESS.ID – Tradisi Nunas Tipat Gong yang telah dikenal sebagai ritual sakral Hindu Bali untuk membantu balita lancar bicara ternyata memiliki variasi yang lebih luas dari sekadar dilakukan di gong.
Ritual ini juga bisa dilaksanakan di gender dan kentongan, masing-masing memiliki kekuatan spiritual tersendiri.
Jero Mangku Khayangan Tiga, Jero Mangku Ketut Weda, menjelaskan bahwa Nunas Tipat Gong di gender biasanya dilakukan sebelum pementasan wayang, terutama pada wayang Sapuh Leger.
"Untuk mendapatkan tuah yang kuat, ritual ini biasanya dilakukan saat pementasan wayang Sapuh Leger," jelasnya ketika diwawancarai di Jaba Pura Desa, Desa Sayan, Ubud, Gianyar, pekan lalu.
Ritual pada kentongan juga memiliki kekhususan tersendiri. Menurut Jero Mangku Weda, kentongan bukan hanya alat bunyi-bunyian biasa, tetapi juga mengandung kesakralan yang mendalam.
"Pada kentongan juga bisa dilakukan karena sebagai sumber bunyi-bunyian yang memiliki kesakralan," tambahnya.
Keampuhan Gender Wayang Sapuh Leger
Yang paling menarik dari penjelasan Jero Mangku Weda adalah pengakuan bahwa ritual Nunas Tipat Gong paling berkhasiat dilakukan pada gender wayang Sapuh Leger yang biasanya dipentaskan pada Tumpek Wayang.
Ritual ini dipercaya sangat efektif untuk memperlancar balita bicara pada usia yang tepat.
Prosesinya sendiri cukup sederhana, hanya menggunakan sarana berupa pajati. Anak yang menjadi tujuan dari ritual harus turut serta dalam upacara tersebut.
"Anak bersangkutan harus diajak juga mengikuti upacara tersebut. Supaya prosesinya tidak sia-sia, karena akan diberikan makan Tipat Gong," ungkapnya.
Tipat tersebut harus dimakan oleh balita dengan beberapa kunyahan sebagai bagian dari ritual.
Keyakinan yang Terus Dipegang Teguh
Pemuka agama Hindu Bali, Jero Mangku Pasek Swastika, menambahkan bahwa prosesi Nunas Tipat Gong dilaksanakan berdasarkan keyakinan yang telah turun-temurun.
"Diakui, memang sering berhasil, dilaksanakan sebelum sekaa gong magambel," jelasnya.
Saat prosesi berlangsung, tipat yang dihaturkan harus dimakan di tempat, sebagai simbol keberhasilan ritual.
"Tipat bisa dihabiskan dan juga bisa hanya sedikit saja sebagai simbol," katanya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa tidak ada pantangan khusus saat prosesi ini dilakukan, tetapi tipat tidak boleh dibawa pulang.
"Jika dibawa pulang dan dimakan di rumah, tidak akan ada gunanya dan bisa dikatakan sia-sia prosesinya," tegas Jero Mangku Pasek Swastika.
Tradisi yang Menyimpan Kekuatan Spiritual
Ritual Nunas Tipat Gong dalam berbagai variasinya menunjukkan betapa dalamnya keyakinan masyarakat Bali terhadap tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Kesakralan gong, gender, dan kentongan menjadi bagian penting dalam kehidupan spiritual masyarakat, yang terus dilestarikan dan diyakini dapat membawa kebaikan bagi mereka yang menjalankannya dengan penuh keyakinan. ***
Editor : I Putu Suyatra