BALIEXPRESS.ID - Di tengah hutan Banjar Selat, Desa Buahan Kaja, Payangan, Kabupaten Gianyar, tersembunyi Beji Indrakila, sebuah tempat suci Hindu Bali dengan sejumlah pantangan dan aturan adat yang ketat.
Terlebih, tempat ini menyimpan misteri dan keunikan yang menarik perhatian banyak orang.
Pantangan Khas dan Sanksi Adat: Apa yang Perlu Diketahui?
Menurut Tokoh Desa Pakraman Selat Buahan, I Made Suarjaya, Beji Indrakila memiliki sejumlah aturan ketat.
Di antaranya, tempat ini tidak diperkenankan menggunakan daging babi dalam upakara dan tidak boleh dimasuki oleh ibu hamil.
Pelanggaran terhadap aturan ini akan dikenakan sanksi adat berupa upacara balik sumpah di areal pura.
Suarjaya menjelaskan, sanksi ini penting untuk menjaga kesucian dan keharmonisan tempat tersebut.
Sejarah Misterius dan Fungsi Beji Indrakila
"Beji Indrakila, yang masih menyimpan misteri mengenai sejarah awalnya, merupakan tempat yang dianggap mampu menyegarkan pikiran dan jiwa," ungkap Suarjaya.
Meskipun terletak di tengah hutan dengan akses yang licin dan rawan longsor, Beji ini menarik banyak orang untuk melukat atau melakukan upacara pembersihan diri.
Suarjaya mengungkapkan, Beji ini hanya memiliki tiga palinggih: satu paruman, satu palinggih sedan, dan satu pangapit lawang.
Risiko dan Pengamanan Saat Berkunjung
Suarjaya mengingatkan pentingnya keselamatan saat mengunjungi Beji Indrakila, terutama di musim hujan.
Jalur menuju Beji sangat licin dan berbahaya, sehingga penataan jalan sudah dilakukan untuk mempermudah akses.
Pengunjung disarankan untuk berhati-hati dan mematuhi pantangan yang ada.
Mengapa Dilarang Menggunakan Daging Babi dan Ibu Hamil?
Pantangan menggunakan daging babi dan melarang ibu hamil untuk memasuki area Beji Indrakila berkaitan dengan keyakinan bahwa hal tersebut dapat menimbulkan kecuntakan (kotor) dan bahaya.
Selain itu, risiko keselamatan bagi ibu hamil yang melewati jalur licin dan terjal juga menjadi pertimbangan penting.
Upakara dan Pemanduan Saat Berkunjung
Pemangku Beji, Jero Mangku Wayan Selang, menjelaskan bahwa jika ada pelanggaran pantangan, upakara yang harus dihaturkan adalah sesajen mirip pecaruan untuk membersihkan areal Beji.
Bagi yang baru pertama kali mengunjungi, disarankan untuk melapor dan meminta panduan dari pemangku atau tokoh adat setempat.
Beji Indrakila: Tempat Khusus dan Pantangan
Jero Mangku Wayan Selang menegaskan bahwa Beji Indrakila digunakan khusus untuk krama Selat Buahan Kaja, terutama untuk melasti saat piodalan.
Bagi krama dari desa tetangga, Beji ini hanya digunakan untuk nunas tirta atau melukat. Pantangan yang ada harus dipatuhi untuk menghindari sanksi adat yang berlaku.
Beji Indrakila bukan hanya sekadar tempat suci, tetapi juga menyimpan banyak aturan dan pantangan yang menarik untuk dipelajari.
Dengan memahami dan mematuhi aturan adat setempat, pengunjung dapat menjaga keharmonisan dan keselamatan saat berada di tempat ini. ***
Editor : I Putu Suyatra