BALIEXPRESS.ID - Saat melintasi Jalan Raya Penarungan, tepatnya di Banjar Blumbang, Desa Penarungan, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, ada sebuah tempat suci Hindu Bali yang mencuri perhatian di sebelah barat jalan, yakni Pura Dalem Hyang Soka.
Pura ini bukan hanya terkenal karena keunikannya, tetapi juga karena kekeramatannya. Mengapa pura ini begitu istimewa di mata masyarakat setempat?
Pura Dalem Hyang Soka dianggap sebagai pura yang sangat sakral dan memiliki sejarah panjang.
Tak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, pura ini juga dikenal sangat bertuah, menjadi tujuan banyak pamedek yang datang dengan berbagai niat—mulai dari memohon kesembuhan (nunas tamba), mencari taksu di bidang seni, hingga meminta restu untuk kepemimpinan.
Menurut penuturan Jro Mangku I Made Ari Arnawa dan Jro Mangku Acyutananda Wayan Gaduh, Pura Dalem Hyang Soka memiliki nilai sejarah yang mendalam.
Bahkan, keberadaan pura ini disebutkan dalam buku sejarah yang ditemukan di Belanda.
“Penelusuran sejarah oleh ahli lontar di Kapal membuktikan, buku yang mencatat keberadaan pura ini ditemukan di Belanda,” ungkap Jro Mangku Ari.
Pura Dalem Hyang Soka juga dikenal sebagai pura tertua di Penarungan, dengan pengempon utama berasal dari soroh Arya Kenceng. Saat ini, terdapat 120 keluarga dari berbagai daerah di Bali yang menjadi pengempon pura ini.
Nama Dalem Hyang Soka sendiri berasal dari pohon bunga soka besar yang pernah tumbuh di lokasi pura, yang dianggap memiliki kekuatan gaib (mahyang).
Tidak hanya itu, Pura Dalem Hyang Soka juga terkenal karena tirtha-nya yang dianggap memiliki khasiat luar biasa.
Jro Mangku Ari menuturkan, awalnya hanya ada 12 pengempon, namun seiring waktu, semakin banyak warga yang datang untuk memohon kesembuhan dan menjadi pengempon.
“Banyak yang datang ke sini sakit, memohon tirtha, dan sembuh. Bahkan pejabat pun sering datang untuk memohon restu,” ungkapnya.
Keistimewaan lain dari Pura Dalem Hyang Soka adalah upacara odalan yang digelar empat kali dalam setahun.
Odalan di palinggih utama, Pura Dalem Hyang Soka Gede, jatuh pada Buddha Cemeng Marakih. Sementara odalan lainnya digelar pada Buddha Kliwon Pegatwakan, Purnama Jyesta, dan Tumpek Krulut.
Melihat arsitekturnya, pura ini masih mempertahankan keaslian bangunan kuno, dengan beberapa bagian halaman yang masih ditutupi batu kali.
Di dalamnya terdapat beberapa palinggih seperti Gedong Ratu Gede, Palinggih Ratu Ngurah Batu Bolong, Gedong Luhur, dan lainnya.
Tak jauh dari pura, terdapat sebuah beji atau danau kecil yang disebut bebengan, yang airnya tak pernah surut meski kemarau panjang.
Penelusuran sejarah juga mengungkap bahwa nama pura ini sempat membingungkan. Beberapa orang yang karauhan menyebutnya dengan nama lain seperti Pura Kentel Bumi dan Pemuteran Jagat.
Namun, bukti sejarah mengukuhkan namanya sebagai Pura Dalem Hyang Soka, yang kini terus dijaga dan dilestarikan masyarakat. ***
Editor : I Putu Suyatra