BALIEXPRESS - Setra Ari-ari di Desa Bayunggede, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, menyimpan banyak misteri dan keunikan Hindu Bali yang membuat pengunjung penasaran.
Salah satu hal yang sering menjadi pertanyaan adalah mengapa ari-ari bayi hanya digantungkan di pohon Bukak di area setra tersebut.
Banyak yang percaya bahwa ari-ari disukai oleh makhluk halus, terutama oleh mereka yang mendalami ilmu aji ugig atau ilmu hitam.
Namun, menurut mantan Jero Kabayan, Jero Aryani, hingga kini tidak ada yang berani mengganggu ari-ari yang digantung di setra tersebut, bahkan mereka yang menguasai aji ugig sekalipun.
"Sudah ada tapak dara yang terbuat dari pamor sebagai pelindung. Selama ada penanda itu, tidak ada yang berani mengganggu, baik manusia maupun makhluk halus. Selain itu, areal setra juga dilingkupi tembok penyengker yang membatasi siapa saja yang bisa masuk," jelas Jero Aryani.
Masyarakat sekitar pun memiliki aturan ketat untuk masuk ke area setra.
Hanya orang yang mendapat izin, terutama dari Jero Kabayan, yang bisa masuk.
"Tanpa izin, bahaya bisa datang kapan saja. Misalnya, ada yang pernah diam-diam masuk dan tertimpa pohon tumbang atau bertemu dengan binatang buas," tambahnya.
Sebuah kejadian misterius pernah menimpa seorang mahasiswa yang tengah melakukan penelitian di desa tersebut.
Tanpa meminta izin atau melakukan ritual matur piuning, mahasiswa itu kehilangan semua data penelitiannya di laptop saat menjelang ujian.
"Saya tanya, apakah sudah menghaturkan canang atau memohon izin di Kahyangan Tiga? Ternyata belum. Setelah saya sarankan untuk meminta izin, datanya muncul kembali di laptop," ungkap Jero Aryani.
Ada aturan penting yang harus diikuti dalam tradisi setempat, seperti membawa ari-ari ke setra harus dilakukan pada pagi hari sebelum matahari terbit.
"Ini agar bayi yang baru lahir mendapat berkah seperti matahari yang bersinar terang, sehat, dan selamat," paparnya.
Selain itu, Tokoh Adat Bayunggede, I Gede Seriman, menjelaskan pentingnya menempatkan ari-ari bersama dengan tempurung lainnya di setra. Hal ini diyakini dapat memengaruhi kepribadian bayi di masa depan.
"Jika ari-ari terpisah, bayi akan tumbuh menjadi pendiam dan cenderung menyendiri. Buktinya ada pada keponakan saya yang suka menghindari keramaian karena ari-arinya terpisah dari yang lain," ujarnya.
Masyarakat setempat kini lebih memahami pentingnya menggantungkan ari-ari secara berkelompok agar bayi kelak mampu bersosialisasi dan hidup bermasyarakat.
Setra Kau di Bayunggede sendiri berada tak jauh dari objek wisata Penelokan Kintamani, dan dapat diakses hanya dalam satu setengah jam perjalanan dari Denpasar.
Pengunjung bisa mencapai desa ini melalui Pasar Payangan Gianyar dan Desa Katung di Kintamani, sebelum tiba di pos informasi yang menyediakan pemandu bagi mereka yang ingin menjelajahi misteri setra Ari-ari. ***
Editor : I Putu Suyatra