Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mengenal Ritual Nyambleh dalam Ritual Nangluk Merana Hindu Bali: Misteri Pacaruan dan Hujan yang Tak Terduga

Putu Agus Adegrantika • Minggu, 8 September 2024 | 20:46 WIB
Ritual nyambleh dalam tradisi nangluk merana umat Hindu Bali.
Ritual nyambleh dalam tradisi nangluk merana umat Hindu Bali.

BALIEXPRESS.ID - Desember hingga Tilem Sasih Kaenam selalu menjadi waktu yang penuh dengan ritual keagamaan bagi umat Hindu di Bali.

Dalam periode ini, banyak upacara digelar, termasuk Nangluk Merana, sebuah prosesi spiritual yang bertujuan untuk memohon keselamatan dan menetralisir bencana alam.

Sasih ini dipercaya memiliki energi kuat yang seringkali mendatangkan musibah, seperti hujan deras, angin kencang, hingga tanah longsor.

Fenomena Pacaruan di Banjar-Banjar Bali

Tak heran jika di bulan Desember, upacara pacaruan digelar hampir di setiap banjar di Bali.

Terutama di perbatasan banjar atau catus pata (perempatan), yang dikenal memiliki kekuatan magis. I Made Sadawan, tokoh Adat Banjar Mas, Desa Sayan, Ubud, Gianyar, menjelaskan bahwa pacaruan dilakukan setiap enam bulan sekali, dimulai dari pagi hingga sore menjelang malam.

"Pacaruan ini penting untuk menetralisir energi negatif atau bhuta kala yang ada di lingkungan sekitar, baik di rumah-rumah warga maupun di banjar," ujar Sadawan.

Dalam rentetan upacara Nangluk Merana, terdapat prosesi nyambleh, atau penyembelihan hewan, yang dilakukan di catus pata sebagai bagian dari pembersihan spiritual.

Tradisi Nyambleh dan Pengaruhnya pada Cuaca

Salah satu bagian paling menarik dari upacara ini adalah nyambleh yang dilakukan oleh pengamong sasuhunan Barong Landung.

Prosesi ini dipercaya dapat menetralisir energi negatif yang ada di pekarangan dan lingkungan banjar.

"Selama prosesi nyambleh, cuaca selalu menunjukkan fenomena aneh. Sebelum prosesi dimulai, hujan lebat biasanya turun. Tapi, saat nyambleh dilakukan, hujan tiba-tiba berhenti, hanya untuk turun lagi setelah prosesi selesai," ungkap Jro Mangku Made Ngastra, Pemangku Pura Masceti Sayan.

Pacaruan di Pantai: Ritual Tipat dan Tirta

Pacaruan juga melibatkan upacara di pantai, di mana warga banjar berkumpul sambil membawa tipat kelanan.

Setelah prosesi di Pantai Lebih selesai, tipat itu dibawa pulang bersama tirta yang digunakan untuk menyelesaikan upakara di banjar.

Ritual ini dipercaya membawa berkah dan keselamatan bagi warga yang mengikutinya.

Sebelum upacara Nangluk Merana, dua hari sebelumnya warga juga diwajibkan menancapkan sanggah cucuk di depan rumah sebagai perlindungan dari energi negatif.

Uniknya, sanggah cucuk ini dilengkapi dengan banten dan rajah (simbol) perwujudan Gana, ditempatkan di sebelah kanan pintu rumah sebagai penjaga spiritual.

Misteri Hujan dan Ritual Nyambleh

Fenomena unik yang selalu menyertai upacara Nyambleh membuat banyak warga takjub.

Tidak hanya berhenti pada kepercayaan tradisional, tetapi juga menyimpan misteri yang sulit dijelaskan.

Mengapa hujan selalu berhenti saat sasuhunan Barong Landung tedun dan kembali turun setelah prosesi selesai? Apakah ada kekuatan magis yang berperan dalam ritual ini?

Upacara Nangluk Merana di Banjar Mas, Desa Sayan, Ubud, bukan hanya sekadar tradisi.

Ia menyimpan kekuatan spiritual yang besar, dengan fenomena alam yang kerap kali menyertainya, membuat setiap upacara menjadi pengalaman yang penuh misteri dan mengundang rasa penasaran. ***

 
Editor : I Putu Suyatra
#ritual #bali #Nangluk Merana #nyambleh #hindu #tradisi #barong landung