BALIEXPRESS.ID - Pementasan Calonarang selalu menyajikan momen-momen memukau, terutama pada adegan mandung, yang seolah-olah menyajikan perkelahian antara Rangda dan seorang patih.
Namun, ada sisi lain dari pementasan ini yang menarik untuk diungkapkan.
Di Balik Adegan Mandung: Kebenaran Tersembunyi
Sang Made Ari Budi, seorang pregina yang melakoni peran patih dalam pementasan Calonarang, mengungkapkan bahwa adegan tusuk-menusuk yang tampak seperti perkelahian sesungguhnya bukanlah perkelahian biasa.
Menurut Sang Made, yang akrab disapa Sang Ade, atraksi ini bertujuan untuk menetralisir keangkuhan, loba, dan keegoan yang ada dalam cerita Calonarang.
"Ketika saya mandung, rasanya seperti kena setrum," ungkap Sang Ade, yang mengaku pernah mengalami pengalaman tak terlupakan saat menyuntikkan salah satu sasuhunan.
Bahkan, ia mengaku sempat sakit berkepanjangan setelah melakoni peran patih untuk keempat kalinya, lantaran lupa melakukan prosesi mawinten sebelumnya.
Kejadian Tak Terduga dan Tantangan
Selama pentas, Sang Ade juga mengalami kejadian aneh. Ia menceritakan bagaimana dirinya sempat dikejar oleh pangabih (pendamping) sasuhunan yang sedang kasurupan, hingga harus melarikan diri keluar dari panggung.
"Ini pengalaman yang sangat tidak biasa, karena biasanya sasuhunan yang mengejar, tetapi kali ini pangabihnya yang mengejar," paparnya.
Ditanya mengenai hambatan dalam pementasan, Sang Ade mengakui adanya kendala teknis seperti penari yang kesurupan secara bergantian.
Meskipun sering menghadapi godaan dan ketidaknyamanan, ia tetap menjalani setiap pentas dengan penuh ikhlas.
"Saya hanya mengandalkan pasrah dan tekad, tanpa membawa jimat atau benda-benda khusus," tambahnya.
Filosofi di Balik Mandung
Sang Ade menjelaskan bahwa filosofi dari mandung adalah nyomia, yang berarti membersihkan segala kekuatan negatif agar tidak mengganggu.
"Yang dipandung adalah sasuhunan berupa Rangda untuk membunuh jiwa negatif dan mengubahnya menjadi positif," jelasnya.
Ia menekankan bahwa dalam pementasan ini, tidak ada istilah kalah atau menang, melainkan adanya Rwa Bhineda (baik dan buruk) yang saling berkaitan.
Dedikasi dan Keberhasilan dalam Seni Tari
Menggeluti dunia seni tari bagi Sang Ade bukanlah soal keuntungan materi, melainkan sebagai bentuk dedikasi dan rasa puas.
"Melalui seni tari, saya bisa mendapatkan banyak teman, saudara, dan pengalaman berharga. Jika mencari keuntungan, itu tidak mungkin," ujarnya.
Ia juga berbagi bagaimana kebiasaannya menjaga kesehatan dan suaranya selama pentas dengan pola makan yang sehat dan latihan rutin.
"Saat pentas sebagai patih, saya merasa sangat agung. Saya percaya bahwa ada taksu yang muncul saat saya memakai gelung," ungkapnya.
Unsur Keseimbangan dalam Calonarang
I Made Dwi Putra Yoga, salah satu pregina Calonarang, menambahkan bahwa dalam pementasan pandung terdapat unsur protagonis dan antagonis yang saling melengkapi.
"Tanpa kedua unsur ini, tidak akan ada keseimbangan dalam kehidupan. Pandung sebagai pelengkap cerita menggambarkan kekuatan baik dan buruk dalam dunia ini," jelas Kadek Ali, sapaan akrabnya.
Dengan keris sebagai simbol kekuatan, pementasan Calonarang bukan hanya sebuah pertunjukan seni, tetapi juga refleksi spiritual dari keseimbangan antara kebaikan dan keburukan. ***