BALIEXPRESS.ID – Kain pitolo sutra berasal dari India dan digunakan para raja nusantara, termasuk Bali. Disebut pitolo sutra karena kain ini terbuat dari bahan serat sutra.
Hampir sama dengan kain tenun gringsing dari Tenganan, Karangasem, pitolo sutra diyakini memiliki kekuatan gaib. Karena sesuai kisah Gede Basur, kain ini dipakai selendang untuk terbang saat ia hendak mengamalkan ilmu leaknya.
Mungkin berpijak dari kisah tersebut, banyak tokoh sakti sepeti dukun, balian, paranormal dan tokoh spiritual meyakini bahwa hingga kini kain pitolo sutra masih menyimpan kekuatan gaib.
“Entah zat apa yang terkandung di dalamnya, kain tersebut diyakini bisa digunakan sebagai sarana untuk mengobati berbagai penyakit baik medis maupun non medis,” terang kolektor barang antik Wayan Adi Santika.
Oleh para balian pada zaman dulu, papar pria asal Jalan Ratna Denpasar ini, kain pitolo sutra dipakai untuk mengobati penyakit akibat terkena cetik (racun gaib), bebai (penyakit gangguan jiwa), acep-acepan, dedeluh, desti, terangjana dan penangkal black magic.
Tak heran jika kain yang sangat langka ini menjadi perburuan para dukun. “Tidak perlu kain yang panjang, sehelai benangnya saja sangat berharga untuk obat dan pagar gaib,” kata Adi.
Potongan kain kira-kira seukuran 2 cm atau sehelai benangnya saja cukup untuk sarana penangkal ilmu gaib. Bisa digunakan untuk gelang atau ditaruh di dompet. Namun sayangnya, kain ini sulit didapat karena kain ini hanya dikoleksi para raja-raja Bali pada zaman dulu.
Untuk sarana pengobatan, terang Adi, cukup menggunakan rendaman kain atau benangnya, tanpa campuran yang lain.
Air rendaman kain atau benang ini diminum untuk menyembuhkan penyakit terkena cetik dan bebai.
“Resep ini saya dapat dari para dukun yang sudah menyembuhkan banyak orang hanya dengan air rendaman secarik kain pitolo sutra,” tandas Adi.
Pengalaman Ketut Rempuh lain lagi. Balian yang tinggal di kawasan Desa Jagapati Badung ini pernah didatangi seorang pasien yang mengalami luka borok.
Luka tersebut berasal dari bekas operasi yang tak kunjung sembuh.
Pihak medis sudah angkat tangan karena tidak mampu menyembuhkan luka tersebut sampai bertahun-tahun.
Karena putus asa, gadis yang menderita luka tersebut diantar orangtuanya, minta tolong kepada balian Ketut Rempuh.
Lewat petunjuk gaib, Ketut Rempuh meminta sang ayah gadis tersebut mencari seutas benang dari kain pitolo sutra, tetapi sang dukun sendiri tidak tahu bentuk atau rupa kain tersebut.
Hanya saja ia mendapat petunjuk bahwa kain tersebut ada di kawasan Puri (kerajaan) Klungkung.
Dengan membawa sesaji, ayah gadis tersebut meminta ke pihak Puri di Klungkung dan hanya diberi sehelai benang.
Benang tersebut dibakar kemudian dimasukkan ke dalam minyak kelapa, dijadikan obat.
Setelah diolesi, luka bekas operasi di paha tersebut berangsur-angsur kering dan sembuh tanpa bekas.
Beberapa tokoh mencoba menganalisa kata pitolo yang dihubungkan dengan kekuatan magis kain tersebut.
Ada yang mengatakan bahwa kata Pitolo bukan merupakan bahasa India tetapi bahasa Bali yang berasal dari akar kata “Pitu” berarti tujuh dan “Ulu” berarti kepala.
Bisa jadi kain tersebut memiliki tujuh kekuatan inti yang disebut Sapta Petala sebagai lambang lapisan alam semesta.
ujuh kekuatan inilah diasosiasikan melekat pada kain sehingga memiliki kegunaan untuk pengobatan dan ilmu leak.
Secara umum, menurut Adi, kain-kain buatan lawas memang memiliki kegunaan untuk pengobatan, entah kandungan apa yang terdapat di dalamnya.
Kain Gringsing yang berasal dari Desa Tenganan, Karangasem, Bali, yang konon terbuat dari darah manusia untuk pewarnanya, memiliki kedahsyatan untuk menangkal blac magic terutama ilmu leak.
Namun Adi yakin kain tersebut sudah langka, walaupun di daerah produksinya sendiri. Jangan heran, jika harga kain tersebut mencapai ratusan juta.
Kain tenunan Bali yang lain adalah Kain Pelung. Disebut kain Pelung karena berwarna ungu (dalam bahasa Bali disebut pelung).
Pewarna kain ini berasal dari tumbuh-tumbuhan sehingga pada zaman dulu digunakan untuk mengobati penyakit perut.
Namun kain ini sudah langka karena hanya ada di tangan para kolektor benda antik.
Editor : Nyoman Suarna