BALIEXPRESS.ID - Banyak orang sering salah kaprah tentang makna upacara Ngaben dalam Hindu Bali.
Ada yang menganggapnya sebagai sesuatu yang "berlebihan" atau dikenal dengan istilah ‘Ngabehin’.
Namun, sejatinya, Ngaben memiliki filosofi mendalam yang berkaitan erat dengan kesucian dan pengembalian unsur alam semesta.
Bagaimana sebenarnya makna ritual ini dari sudut pandang filsafat Hindu?
Ida Pandita Mpu Daksa Charya Manuaba Ungkap Makna Ngaben
Dalam tulisan bertajuk Tata Titi Lengkap Indik Ngaben, Ida Pandita Mpu Daksa Charya Manuaba, seorang tokoh agama Hindu yang nama walakanya adalah Prof. Dr. Sucipta, menjelaskan bahwa Ngaben tidak hanya sekadar mengubah jasad menjadi abu (ngabuin).
Lebih dalam, ia memaparkan asal kata ‘Ngaben’ yang berasal dari ‘api’, dengan prefiks ‘Ang’ menjadi ‘Ngapi’, lalu diubah menjadi ‘Ngapen’, dan akhirnya menjadi ‘Ngaben’ setelah perubahan fonem.
Menurut Ida Pandita, Ngaben adalah ritual pengembalian unsur-unsur Panca Maha Butha—pertiwi (tanah), teja (api), akasa (udara), bayu (angin), dan apah (air)—kepada Sang Pencipta.
Proses ini menandai penyucian jasad fisik atau Stula Sarira agar siap kembali ke asalnya.
Pitra Yadnya dan Filosofi Gugurnya Resi Bisma
Ngaben juga dikenal sebagai bagian dari Pitra Yadnya, yaitu persembahan suci kepada leluhur.
Dalam Lontar Yama Purwana Tattwa, Ngaben diartikan sebagai ritual yang menghormati leluhur yang telah tiada.
Filosofi ritual ini terinspirasi dari kisah gugurnya Resi Bisma dalam perang Bharatayudha.
Tubuhnya yang tertusuk ribuan panah Arjuna tidak menyentuh tanah, menjadi simbol bahwa jasad manusia memerlukan proses penyucian agar siap menuju alam yang lebih tinggi.
Resi Bisma sendiri berasal dari kata wisma, yang berarti tempat atau wadah jiwa, yakni tubuh fisik manusia.
Dengan demikian, prosesi Ngaben bertujuan untuk memurnikan unsur-unsur Panca Maha Butha yang ada dalam tubuh, mengembalikannya kepada alam semesta.
Arjuna, Seribu Panah, dan Proses Penyucian
Filosofi lain yang diungkap adalah tentang simbolisme seribu panah Arjuna, yang melambangkan pengembalian unsur-unsur alam ke hadapan Sang Pencipta.
Angka seribu diambil dari konsep Samkhya, yang merujuk pada perjalanan unsur Panca Maha Butha dari alam Bhur Loka (dunia fisik) menuju Swah Loka (alam roh).
Selain itu, terdapat ritual penting lainnya, yaitu permintaan air suci (Toya Pemanah) yang menggambarkan pengembalian unsur alam melalui ketulusan hati.
Tirta ini diambil oleh sanak keluarga pada malam hari tanpa penerangan, sebagai simbol pemurnian jiwa yang kembali kepada asalnya.
Proses Pembersihan Hingga Ke ‘Sunya Mertha’
Ida Pandita juga menjelaskan bahwa sebelum jasad dibakar, Resi Bisma berpesan agar tubuhnya dibakar dengan senjata Geni Astra, yang disimbolkan sebagai Tirta Pangentas untuk memutus keterikatan duniawi.
Upacara pembakaran ini bertujuan untuk mengembalikan jiwa kepada kekuatan amertha, kembali kepada Sang Siwa Merta.
Dalam ritual ini, penggunaan page (penyangga) dan simbol leluhur menggambarkan perpindahan dari alam Bhur, Bwah, hingga Swah Loka.
Penolakan Duniawi dan Makna Kesucian
Salah satu bagian menarik dari kisah ini adalah saat Resi Bisma menolak air yang diberikan Duryudana menggunakan tempayan emas, simbol dari gemerlap duniawi.
Sebaliknya, Resi Bisma menerima air yang diberikan Arjuna dengan menggunakan panah, simbol dari intuisi dan suara hati.
Hal ini menunjukkan pentingnya ketulusan hati dalam proses pemurnian.
Ngaben: Lebih dari Sekadar Ritual, Tapi Pengembalian kepada Asal
Upacara Ngaben, dengan segala simbol dan filosofinya, bukanlah sekadar prosesi fisik.
Di balik ritual ini terkandung nilai-nilai penyucian, pengorbanan suci, dan pengembalian jiwa kepada asal mula yang maha agung.
Dengan pemahaman yang lebih mendalam, Ngaben menjadi lebih dari sekadar “menghancurkan” jasad, melainkan juga sarana untuk mencapai pencerahan spiritual bagi yang hidup dan yang telah tiada. ***