Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Makna dan Filosofi Pakaian Adat yang Perlu Diketahui Umat Hindu Bali: Cara Melipat dan Masing-masing Komponen Ada Maknanya

I Putu Suyatra • Senin, 9 September 2024 | 18:56 WIB

 

Pakaian adat Bali
Pakaian adat Bali

BALIEXPRESS.ID - Seiring berjalannya waktu, arus globalisasi dan tren mode modern telah membawa banyak perubahan, termasuk pada cara berpakaian adat umat Hindu Bali.

Salah satu kelompok yang paling terpengaruh adalah anak muda, yang sering kali mudah terbawa arus perubahan tersebut.

Namun, ada hal penting yang harus dipahami, yakni makna dan filosofi yang terkandung dalam pakaian adat Bali itu sendiri.

Pakaian adat Bali bukan hanya sekadar busana sehari-hari, melainkan memiliki fungsi penting dalam prosesi adat dan persembahyangan.

Ida Pedanda Gde Manara Putra Kekeran menjelaskan bahwa dalam kegiatan adat maupun persembahyangan, terdapat aturan-aturan tertentu yang harus diperhatikan agar kesopanan tetap terjaga, sekaligus mencerminkan filosofi dari pakaian adat tersebut.

Konsep Tri Angga dalam Pakaian Adat Bali

Pakaian adat Bali didasari oleh konsep Tri Angga, yang membagi busana menjadi tiga bagian utama:

  1. Dewa Angga: Pakaian dari leher hingga kepala, seperti udeng atau ikat kepala.
  2. Manusa Angga: Pakaian dari atas pusar hingga leher, seperti baju, kebaya, dan saput.
  3. Butha Angga: Pakaian dari pusar hingga kaki, seperti kain (kamen).

Setiap elemen pakaian adat Bali memiliki makna mendalam. Sebagai contoh, pada pria, kamen dikenakan dengan lipatan dari kiri ke kanan (melawan arah jarum jam), simbol tanggung jawab menjaga Dharma.

Tinggi kamen juga diatur sekitar sejengkal dari telapak kaki, yang menunjukkan kewaspadaan terhadap jalan Dharma yang mereka pijak.

Kancut atau lelancingan dengan ujung yang menyentuh tanah merupakan simbol penghormatan kepada Ibu Pertiwi dan simbol kejantanan pria.

Untuk menutupi kejantanan ini, digunakan saput, yang melingkar berlawanan dengan arah jarum jam sebagai simbol pengendalian diri.

Evolusi Pakaian Adat Bali Pria dan Wanita

Di masa lalu, saput dikenakan di dada hingga ketiak, dan sering kali digunakan sebagai penghadang musuh, di mana sebilah keris diselipkan di pinggang.

Namun, seiring perkembangan zaman, saput kini dikenakan di pinggang, semata-mata untuk menutupi simbol kejantanan.

Setelah mengenakan kamen dan saput, pria Bali melanjutkan dengan penggunaan umpal, selendang kecil yang bermakna pengendalian diri dan emosi.

Umpal ini diikat di sisi kanan, yang melambangkan Dharma memegang kendali.

Pakaian adat wanita memiliki beberapa kesamaan dengan pria. Dimulai dengan kamen yang dilipat searah jarum jam, perempuan juga mengenakan selendang yang diikat di kiri sebagai simbol saktri atau pengendali.

Kebaya berlengan panjang menjadi bagian penting dari pakaian adat wanita dalam acara-acara formal.

Filosofi Pakaian Adat Bali: Penghormatan kepada Sang Hyang Widhi

Makna mendalam pakaian adat Bali berakar pada ajaran Sang Hyang Widhi, Tuhan yang dipercaya memberikan keteduhan, kedamaian, dan kegembiraan bagi umat Hindu Bali.

Pakaian adat ini mencerminkan kepatuhan dan penghormatan terhadap ajaran agama, serta filosofi yang menjunjung tinggi Dharma dan pengendalian diri.

Hal ini terlihat dari penggunaan udeng, ikat kepala yang melambangkan konsentrasi pikiran dan penghormatan kepada Sang Hyang Aji Akasa.

Pakaian adat Bali, meskipun terus mengalami evolusi, tetap berpegang pada filosofi dasar yang menggambarkan hubungan antara manusia dengan alam dan Tuhannya.

“Pakaian adat Bali pada dasarnya adalah simbol kepatuhan terhadap Sang Hyang Widhi dan menjaga keseimbangan dalam menjalani kehidupan ini,” ungkap Ida Pedanda Gde Manara Putra Kekeran.

Dengan memahami filosofi dan makna dari pakaian adat Bali, generasi muda diharapkan mampu menjaga warisan budaya ini dengan baik, di tengah derasnya arus globalisasi yang tak terhindarkan. ***

Subaru BRZIKO
Subaru BRZIKO
Editor : I Putu Suyatra
#bali #kamen #udeng #pakaian adat #hindu #Tri Angga #Dharma