Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mengungkap Misteri Pura Toya Bubuh di Bali: Perjalanan Menantang Menuju Sumber Kesakralan di Petiga

I Putu Suyatra • Selasa, 10 September 2024 | 14:47 WIB
Pura Toya Bubuh di di Desa Petiga, Kecamatan Marga, Tabanan, Bali.
Pura Toya Bubuh di di Desa Petiga, Kecamatan Marga, Tabanan, Bali.

BALIEXPRESS.ID - Pura Toya Bubuh, atau yang juga dikenal sebagai Yeh Bubuh, mungkin masih terdengar asing di telinga masyarakat Hindu Bali secara umum. Terletak di Desa Petiga, Kecamatan Marga, Tabanan, pura ini menyimpan misteri di tengah tebing yang dialiri Sungai Yeh Sungi di sisi timurnya.

Apa yang membuat Pura Toya Bubuh begitu disucikan oleh masyarakat setempat, dan bagaimana kisah sejarahnya yang penuh keajaiban?

Perjalanan Menantang ke Pura Toya Bubuh

Untuk mencapai Pura Toya Bubuh, persiapkan napas panjang dan stamina ekstra. Dari Desa Petiga, Anda harus menyusuri jalan tanah sepanjang satu kilometer di tengah hamparan sawah.

Meski bisa ditempuh dengan kendaraan hingga lokasi parkir, perjalanan selanjutnya harus dilakukan dengan berjalan kaki.

Anda akan menuruni tebing sekitar 300 meter melalui jalur setapak yang cukup curam.

Meski perjalanan terasa menantang, semua lelah akan terbayar dengan udara segar, pemandangan asri, dan suara burung serta gemericik air yang memanjakan indera.

Namun, tetap waspada karena beberapa tangga yang dilalui bisa cukup licin dan curam.

Legenda yang Menyucikan Pura Toya Bubuh

Jro Mangku Alit, yang dikenal sebagai Jro Mangku Gunastra, mengungkapkan bahwa keberadaan Pura Toya Bubuh tercantum dalam Lontar Tri Lingga Tattwa.

Diceritakan bahwa pada masa kemarau panjang yang melanda Bali, Ida Bhatara Manik Gumawang diturunkan oleh Bhatari Danuh untuk menstabilkan alam.

"Namun, tapanya untuk mendapatkan anugerah Siwa Amrita selalu diganggu oleh seekor belut raksasa," ungkapnya.

Setelah sekian lama bertapa, Ida Bhatara akhirnya mengutuk belut tersebut, yang kemudian terseret arus ke Sungai Yeh Sungi dan mati.

Ajaibnya, setelah proses spiritual yang dilakukan oleh Ida Bhatara, tebing di hutan Petiga terbelah dan mata air suci muncul.

Sungai Yeh Sungi pun menjadi sumber kehidupan yang tak pernah kering, menghidupkan kembali tanaman yang sebelumnya layu akibat kemarau.

Kisah Mistis di Balik Nama Toya Bubuh

Mata air yang muncul dari celah tebing awalnya dikenal dengan nama Toya Bapamaya, namun berubah beberapa kali seiring perjalanan waktu.

Dari Toya Praliwet hingga Toya Bubuh, nama ini memiliki kaitan erat dengan kesaktian yang diperoleh para tokoh setempat, seperti wangsa Arya.

Keajaiban air ini memberikan kekuatan dan keselamatan bagi mereka yang datang bersembahyang di pura.

Salah satu cerita paling mistis adalah saat Ki Gede Dalem Sekalan Bendesa Sembung, yang tengah dikejar pasukan Badung, ditolong oleh seekor ikan raksasa yang ternyata adalah kendaraan Hyang Siwa.

Setelah melewati banyak rintangan, Ki Gede bersama pengikutnya menemukan mata air yang terasa seperti makanan lezat, menyelamatkan mereka dari kelaparan.

Kesakralan dan Pengaruh Pura Toya Bubuh

Pura Toya Bubuh menjadi pusat spiritual yang sangat dihormati. Ki Gede Dalem Sekalan, yang mendapat anugerah dari Ida Bhatara di pura ini, dipercaya oleh raja-raja di Bali, termasuk Raja Tabanan, Mengwi, dan Marga.

Pengaruhnya begitu besar, hingga tidak ada yang berani berbuat jahat selama masa kepemimpinannya.

Hingga kini, Pura Toya Bubuh tetap berkaitan erat dengan Pura Dalem Sekalan di Marga, Tabanan, menjadi simbol spiritualitas dan kesucian yang abadi di tanah Bali. ***

 

 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #Pura Toya Bubuh #Lontar Tri Lingga Tattwa #hindu #tabanan