Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Misteri Tempat Suci Hindu Bali Pura Toya Bubuh: Sembuhkan Penyakit dengan Malukat, Belut Sakral Jadi Tanda Kesembuhan, Diyakini Tempat Mohon Taksu

I Putu Suyatra • Selasa, 10 September 2024 | 19:50 WIB
empat suci Hindu Bali, Pura Toya Bubuh di Desa Petiga, Kecamatan Marga, Tabanan
empat suci Hindu Bali, Pura Toya Bubuh di Desa Petiga, Kecamatan Marga, Tabanan

BALIEXPRESS.ID - Tempat suci Hindu Bali, Pura Toya Bubuh di Desa Petiga, Kecamatan Marga, Tabanan, menyimpan kisah mistis yang membuat penasaran banyak orang.

Terkenal sebagai tempat matatamban (nunas tamba) atau pengobatan tradisional, tempat suci Hindu Bali ini kerap menjadi tujuan mereka yang berharap pulih dari penyakit.

Umat Hindu Bali setempat percaya, dengan memohon tirta dan melakukan malukat di mata air sakral yang terletak di bawah pura, kesehatan seseorang bisa kembali seperti sediakala.

Menurut Jro Mangku Alit, banyak orang yang datang dengan kondisi sakit, namun berhasil sembuh setelah memohon tirta dan melakukan malukat.

"Banyak yang sudah sembuh setelah nunas tirta dan malukat di sini," ungkapnya.

Rahasia Belut Sakral di Pura Toya Bubuh

Setibanya di pura, pamedek akan diarahkan untuk bersembahyang di palinggih yang terletak di dekat mata air.

Usai sembahyang, pamedek langsung melakukan malukat. Namun, yang paling membuat penasaran adalah kehadiran belut sakral di mata air tersebut.

Jika beruntung, kedatangan pamedek akan disambut oleh belut-belut dengan berbagai rupa dan ukuran yang dipercaya memiliki kekuatan magis.

Sebelum melakukan malukat, pamedek bisa memberi makan belut-belut tersebut dengan telur.

Belut-belut ini sangat dihormati oleh warga setempat, bahkan ada larangan keras untuk memakannya.

Meski tak sengaja tertangkap saat memancing di Sungai Yeh Sungi, warga tetap memilih melepaskan belut-belut itu.

"Warga tidak berani makan belut karena berkaitan dengan keberadaan pura ini. Jika ada yang nekat, dia akan jatuh sakit," tegas Jro Mangku Alit.

Belut Putih Sebagai Tanda Kesembuhan

Pemandangan yang paling luar biasa adalah ketika belut berwarna putih kekuning-kuningan muncul saat pamedek yang sakit parah melakukan malukat di dalam goa kecil.

Menurut Jro Mangku Alit, kemunculan belut putih ini adalah tanda kesembuhan yang hampir pasti.

"Jika belut putih menghampiri, biasanya yang sakit akan sembuh seperti sediakala," tambahnya.

Selain untuk pengobatan, banyak juga yang datang ke Pura Toya Bubuh untuk memohon taksu kepemimpinan, sesuai dengan isi purana pura tersebut.

"Permohonan pamedek berbeda-beda, tapi semuanya kembali kepada Yang Mahakuasa," jelas Jro Mangku Alit yang memiliki dua anak.

Odalan Pura Toya Bubuh: Saat Kuningan, Pemedek Datang Berbondong-bondong

Pura Toya Bubuh memiliki odalan yang jatuh setiap 210 hari sekali, bertepatan dengan Hari Raya Kuningan.

Pada hari itu, warga desa sibuk membagi waktu antara upacara di rumah dan persembahyangan di pura.

"Biasanya mereka menyelesaikan upacara di rumah lebih awal, lalu datang ke sini untuk sembahyang," kata Jro Mangku.

Menariknya, banyak pamedek yang datang dari luar desa setelah mengalami kesembuhan dari pengobatan di pura ini.

Mereka rutin datang untuk bersembahyang sebagai wujud syukur. ***

 

 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #Pura Toya Bubuh #hindu #tamba #taksu #kuningan #tabanan