Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Makna dan Prosesi Ritual Ngereh dalam Tradisi Hindu Bali: Dilaksanakan di Pura atau Kuburan Saat Tengah Malam di Hari Keramat

I Putu Suyatra • Rabu, 11 September 2024 | 18:11 WIB
Prosesi ngereh dalam tradisi Hindu Bali.
Prosesi ngereh dalam tradisi Hindu Bali.

BALIEXPRESS.ID - Ritual Ngereh atau Ngerehan dalam tradisi Hindu Bali, selalu dikaitkan dengan upacara sakral yang melibatkan prosesi Pasupati, Ngatep, dan Mintonin.

Di balik kata-kata ini tersimpan makna mendalam —Ngereh berarti memusatkan pikiran dengan mengucapkan mantra dalam hati.

Sedangkan Pasupati merepresentasikan kekuatan dari Dewa Siwa, Ngatep bermakna mempertemukan, dan Mintonin adalah Bahasa Jawa Kuno yang berarti menampakkan diri.

Namun, sebelum melaksanakan Ngereh, ada tiga tingkatan upakara yang wajib dilalui, seperti Prayascita, Mlaspas, Ngatep, Pasupati, Masuci, dan Ngerehin.

Setiap tingkatan memiliki makna tersendiri. I Nyoman Supatra, seorang penulis keagamaan, mengungkapkan bahwa tujuan utama ritual ini adalah untuk menghilangkan noda, baik sekala maupun niskala, yang melekat pada bahan pembuatan Petapakan Betara Rangda.

"Noda ini bisa disebabkan oleh proses pengukiran (sangging) atau bahan itu sendiri," ungkapnya.

Dalam prosesi ini, upakara dihaturkan kepada Sang Hyang Surya, Sang Hyang Siwa, dan Sang Hyang Sapujagat.

Upacara ini tidak hanya dilakukan oleh pemangku, tapi juga oleh sangging, yang berperan dalam proses kelahiran (Utpeti) dari Petapakan Betara Rangda.

Setelah itu, Petapakan tersebut dipercaya dapat berfungsi sebagai perwujudan roh atau kekuatan gaib yang menjadi pelindung penyungsungnya.

Pada tahap akhir, yaitu Masuci dan Ngerehin, Petapakan Betara Rangda disucikan sehingga menjadi keramat dan bebas dari gangguan.

Ritual ini bertujuan untuk memasukkan kekuatan gaib yang diharapkan mampu melindungi masyarakat.

Upacara tersebut dilakukan di pura atau kuburan pada malam hari, terutama pada hari-hari keramat seperti Kajeng Kliwon.

Jika dilakukan di kuburan, tiga tengkorak manusia digunakan sebagai alas duduk, sedangkan di pura, tengkorak digantikan dengan kelapa gading muda.

Keberhasilan ritual ini ditandai dengan fenomena alam gaib—seberkas cahaya yang jatuh tepat pada orang yang memundut (pengusung).

Pengusung tersebut akan kesurupan dan menari-nari, sementara Petapakan Betara Rangda bergoyang tanpa disentuh.

Ritual Ngereh dilakukan di setra (kuburan) pada malam hari yang kelam, diawali dengan pemujaan dan penghaturan caru serta penyembelihan babi jantan.

Suasana mistis semakin terasa ketika pengereh duduk berhadapan dengan Petapakan Betara Rangda, ditemani darah yang ditaruh dalam daun pisang sebagai persembahan.

Tidak sembarang orang bisa menjadi pengereh. Dibutuhkan mental kuat, keberanian, serta pikiran dan tubuh yang suci.

Mereka yang terlibat harus bersikap tulus dan ikhlas, tanpa membawa benda-benda sakti lainnya, karena kekuatan Ida Bhatara yang akan datang tidak boleh terganggu oleh energi asing.

Namun, perjalanan ini penuh dengan cobaan gaib. Pengereh akan diuji oleh berbagai gangguan, seperti semut raksasa, nyamuk menyengat, hingga ular besar yang melintas.

Bahkan, celeng (babi) yang mendekat bisa menjadi tantangan yang menggugurkan konsentrasi.

Jika mereka bertahan, tanda keberhasilan datang dalam bentuk api atau bola cahaya yang masuk ke Petapakan Betara Rangda.

Lidah Petapakan pun menjulur dan menyedot darah persembahan hingga habis, diikuti dengan pengereh yang kesurupan.

Puncak dari ritual ini adalah ketika roh gaib Petapakan Betara Rangda siap melindungi dan menjaga ketentraman masyarakat penyungsungnya.

Dengan begitu, kekuatan gaib Ida Betara telah menyatu dalam wujud Petapakan yang disucikan. ***

 

Editor : I Putu Suyatra
#ritual #bali #pasupati #setra #kajeng kliwon #hindu #pura #kuburan #tradisi #ngerehan