BALIEXPRESS.ID- Dalam beberapa ritual atau tradisi Hindu Bali, ada upacara atau yadnya yang menggunakan persembahan darah.
Hal ini bisa dilihat dari prosesi ngereh, melaspas, atau sakralisasi bangunan suci.
Lalu apa sebenarnya makna persembahan darah dalam beberapa ritual Hindu Bali?
Dalam tradisi Tantrayana, darah memiliki peran penting sebagai simbol kekuatan astral yang menghubungkan alam semesta dengan manusia.
Salah satu upacara yang erat kaitannya dengan darah adalah Durga Puja, di mana lima aspek dari Dewi Durga, yang disebut sebagai 'Panca Durgha', memainkan peran sentral.
Kelima kekuatan ini adalah Kala Durgha, Durgha Suksmi, Sri Durgha, Sri Dewi Durgha, dan Sri Aji Durgha, yang masing-masing menguasai lima penjuru angin.
Menurut Lontar Purwa Gamasasana, setelah semua kekotoran dilebur, kekuatan ini diyakini membawa kemakmuran bagi umatnya.
Dalam wawancara dengan penulis keagamaan I Nyoman Supatra, ia menjelaskan, "Kehidupan dalam bingkai Tantra, khususnya bagi pemuja Dewi Durga, mencakup unsur darah, daging, air, susu, dan tetabuhan. Setiap elemen ini penting untuk menopang kehidupan, baik yang terlihat maupun tak kasat mata. Tidak ada kehidupan tanpa darah dan daging."
Makna Darah dalam Upacara Sakralisasi
Dalam berbagai upacara umat Hindu Bali, seperti maplaspas, petapakan, atau sakralisasi bangunan suci, darah memiliki makna penting sebagai esensi kehidupan. Darah yang diambil dari kucit butuan (anak babi) dalam upacara ngereh atau ngerehan, misalnya, ditempatkan dalam wadah khusus yang disebut takir.
"Darah ini bukan hanya sekedar persembahan, tapi juga refleksi dari kekuatan alam semesta yang menjaga keseimbangan hidup," lanjut Supatra.
Darah ini juga berfungsi sebagai media yang menghubungkan kekuatan transenden dengan dunia materi.
Namun, persembahan darah ini harus dilakukan dengan hati-hati dan mengikuti aturan yang tertuang dalam sastra.
Jika darah ditumpahkan secara sembarangan atau tanpa konsep yang jelas, seperti darah ayam atau kelinci yang diteteskan ke banten pesucian, maka persembahan tersebut dianggap tidak sah dan mengotori upacara.
Kesakralan Persembahan Darah dalam Ritual Hindu Bali
Persembahan darah dalam konteks upacara ngereh memiliki tujuan yang lebih dalam daripada sekadar ritual.
Ini adalah representasi kekuatan ilahi yang diundang untuk melindungi dan memberi berkah kepada umat.
Namun, ada perbedaan besar antara darah yang digunakan dengan niat dan konsep yang benar, dan darah yang tumpah tanpa tujuan jelas.
"Darah yang ditempatkan dengan benar dalam takir adalah simbol kekuatan alam semesta. Tetapi jika darah menetes sembarangan, itu justru mengotori persembahan," pungkas Supatra.
Dengan kesakralan yang melingkupi penggunaan darah dalam ritual Tantrayana, ini menjadi salah satu elemen penting yang menjaga keharmonisan antara manusia, alam, dan kekuatan gaib.
Upacara ini menegaskan betapa setiap elemen dalam kehidupan, bahkan darah sekalipun, memiliki makna yang mendalam dalam menjaga keseimbangan spiritual. ***
Editor : I Putu Suyatra