BALIEXPRESS.ID - Tahukah Anda bahwa sebelum sumber air suci di Tirta Empul muncul, Pura Pegulingan sudah berdiri megah di timur lokasi tersebut? Tempat suci Hindu Bali yang terletak di Banjar Basangambu, Desa Manukaya, Tampaksiring, Kabupaten Gianyar ini menyimpan banyak cerita menarik, mulai dari tempat istirahat prajurit hingga kehadiran sumber air ajaib yang dipercaya mampu menyembuhkan racun.
Menurut Jero Mangku Weda, pemangku Pura Pegulingan, nama pura ini berasal dari kebiasaan prajurit Bhatara Indra yang sering "guling-guling" atau tidur-tiduran di sini selama masa perang.
“Saat itu, tempat ini dijadikan tempat beristirahat para prajurit. Karena sering digunakan untuk tidur-tiduran, maka dinamakan Pegulingan,” ujarnya pada Selasa (26/12/2017).
Tirta Empul: Dari Racun Hingga Sumber Penyembuhan
Namun, tak semua kisah di sini berakhir bahagia. Pada suatu masa, beberapa prajurit Bhatara Indra yang minum dari sumber mata air di barat pura mengalami keracunan.
Sumber air tersebut dikenal sebagai "tirta cetik" atau air beracun. Melihat hal ini, Bhatara Indra kemudian menancapkan lelontek (tongkat) di dekat air beracun tersebut, dan tiba-tiba muncullah sumber mata air baru yang kini dikenal sebagai Tirta Empul, air yang suci dan menyembuhkan.
Temuan Sejarah yang Menguak Masa Lalu
Di dalam area Pura Pegulingan, juga ditemukan sebuah candi yang unik, disebut Padmasa Asta Dala.
Menurut Weda, candi ini adalah peninggalan abad ke-8 yang ditemukan saat pemugaran pura.
Yang menarik, relief pada candi ini pertama kali hanya terlihat ujungnya saja sebelum kemudian digali dan ditemukan keseluruhan strukturnya.
“Penemuan ini bahkan dilaporkan kepada pihak purbakala untuk diteliti lebih lanjut,” tambahnya.
Selain candi, juga ditemukan lempengan-lempengan tanah liat bertuliskan huruf Prenegari berbahasa Sansekerta, yang berisi mantra pujian kepada Sang Buddha.
Penemuan lain yang tak kalah menarik adalah relief dua gajah yang diyakini menyimpan petunjuk angka tahun icaka 898 atau sekitar 976 Masehi, memperkuat jejak sejarah kuno di pura ini.
Tempat Memohon Keturunan dan Ritual Sakral
Tak hanya menjadi saksi sejarah, Pura Pegulingan juga diyakini memiliki kekuatan spiritual.
Jero Mangku Weda menyebutkan bahwa di pura ini terdapat sebuah Yoni, yang dipercaya mampu membantu pasangan yang belum dikaruniai anak.
“Sudah ada beberapa pasangan yang terbukti mendapatkan keturunan setelah menghaturkan pejati di sini,” ungkapnya.
Piodalan dan Pantangan di Pura Pegulingan
Piodalan (hari raya) di Pura Pegulingan biasanya jatuh pada saat Purnama Sasih Kalima, dengan ritual nyejer selama lima hari.
Salah satu warga setempat, I Nyoman Trisna Jaya, menjelaskan bahwa satu-satunya pantangan untuk memasuki pura ini adalah bagi orang yang sedang cuntaka (berhalangan karena adat).
Jika Anda ingin mengunjungi Pura Pegulingan, lokasinya hanya berjarak sekitar dua menit ke utara dari Pura Tirta Empul.
Pura ini tersembunyi di tengah persawahan yang asri, sekitar 300 meter dari jalan raya, memberikan sensasi ketenangan dan kesejukan yang memikat. ***
Editor : I Putu Suyatra