BALIEXPRESS.ID - Pura Pucak Manik Ukir, yang terletak di Desa Bukit, Tampaksiring, Gianyar, tidak hanya menjadi pusat spiritual bagi umat Hindu Bali di sekitar lokasi, namun juga menyimpan berbagai kisah unik dan misteri yang mengundang penasaran.
Salah satu daya tarik utama di pura ini adalah minyak dari damaran (lilin) yang muncul saat piodalan, dan diyakini memiliki kekuatan penyembuhan untuk penyakit kulit, seperti kerambit.
Keajaiban minyak ini pertama kali terungkap ketika seorang warga memohon obat untuk penyakit kerambit naga.
Setelah menggunakan minyak sakral tersebut, penyakitnya sembuh dalam beberapa hari.
"Setelah sembuh, cerita ini tersebar di kalangan masyarakat, sehingga banyak orang dari luar desa datang untuk memohon obat, terutama yang memiliki penyakit kulit," ungkap Jero Mangku Sujendra, pemangku Pura Pucak Manik Ukir.
Namun, proses pengambilan minyak tersebut memerlukan upakara khusus berupa banten pajati, menambah kesakralan ritual ini.
Tidak hanya minyak yang menjadi pusat perhatian, Pura Pucak Manik Ukir juga dikenal memiliki empat pintu masuk yang menghadap ke arah barat, timur, utara, dan selatan, menjadikannya simbol "nyatur bhuana" atau penjaga empat penjuru mata angin.
Di dalam pura, terdapat palinggih yang disebut Bale Pawedan, tempat untuk menyimpan pratima saat piodalan berlangsung.
Keunikan lainnya terletak pada kulkul pajenengan, kentungan yang hanya dibunyikan saat ada karya agung.
Kulkul ini dikeramatkan karena memiliki kisah misterius. Dulu, pemukul kulkul ini menimbulkan suara aneh, dan ketika dibongkar, ternyata tidak ada apapun di dalamnya.
Sejak itu, kulkul pajenengan ini dianggap sakral dan disimpan di area utama mandala pura.
Yang lebih mengejutkan, saat kulkul dibunyikan, suaranya terdengar kecil di dekat pura, tetapi menggema keras hingga ke desa tetangga.
Selain itu, fenomena aneh lain sering terjadi di sekitar pura, seperti burung-burung yang terbang linglung setiap kali kulkul dibunyikan.
Tak berhenti di situ, kejadian aneh lainnya pernah dialami oleh seorang warga yang menemukan seekor kepiting kecil di area pura.
Saat diambil dan diletakkan dalam besek, kepiting tersebut tiba-tiba berubah menjadi sebesar besek tersebut.
Menyadari adanya kehadiran "penjaga" pura, warga tersebut segera mengembalikan kepiting itu ke tempat asalnya dan menghaturkan sesajen untuk memohon maaf.
Tokoh adat setempat, Ni Ketut Ekayanti, menambahkan bahwa ada aturan khusus yang harus diikuti saat memasuki pura, seperti larangan bagi anak-anak yang belum tanggal gigi dan orang yang sedang cuntaka. Hal ini untuk menjaga kesucian area pura.
Upacara di Pura Pucak Manik Ukir berlangsung selama tiga hingga lima hari, tergantung pada waktu pelaksanaan pujawali.
Jika bertepatan dengan Purnama atau Tilem, maka upakara akan ditambah. Ada juga tradisi unik seperti ngusaba kukus dan ngusaba goreng, di mana semua sanganan (jajan banten) harus direbus atau digoreng untuk sesajen, dan persiapannya bisa memakan waktu hingga satu setengah bulan.
Dengan segala keunikan dan misteri yang menyelimutinya, Pura Pucak Manik Ukir tidak hanya menjadi tempat sembahyang, tetapi juga mengundang rasa penasaran bagi siapa saja yang mendengar kisah-kisahnya. ***
Editor : I Putu Suyatra