Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Unik Menikah Massal di Bali: Warga Desa Pengotan Harus Mengikuti Jadwal Nganten Massal

I Made Mertawan • Sabtu, 14 September 2024 | 13:13 WIB
Tradisi nganten massal di Desa Pengotan, Bangli, Bali.
Tradisi nganten massal di Desa Pengotan, Bangli, Bali.

BALIEXPRESS.ID - Sebagai salah satu desa tertua di Bangli, Desa Pengotan kini mulai menarik perhatian masyarakat luas di Bali.

Terletak di Kecamatan Bangli, desa ini tidak hanya dikenal sebagai penghasil jeruk berkualitas, tetapi juga memiliki berbagai tradisi dan kesenian sakral yang masih jarang diketahui wisatawan.

Desa ini menyimpan kekayaan budaya yang unik, mulai dari Tari Jangkang Jojor, Tari Buntal, Tari Perancak, hingga Tari Baris Perang Papah Biu dan tradisi Nganten Massal serta Ngaben Massal.

Tokoh Desa Pengotan, Wayan Suardana, mengungkapkan bahwa desa ini memiliki posisi geografis yang menarik, berada di bagian utara Kecamatan Bangli dan berbatasan langsung dengan Desa Kedisan, Kecamatan Kintamani.

"Desa Pengotan terdiri dari delapan banjar adat," jelasnya.

Potensi Pertanian dan Kerajinan yang Mempesona

Desa Pengotan terkenal dengan perkebunan jeruknya, namun potensi desa ini tidak hanya terbatas pada pertanian.

Wayan Suardana menjelaskan bahwa desa ini juga memiliki kerajinan tangan yang berkembang pesat, seperti kerajinan dulang, anyaman bambu, dan pande gong.

"Sejak tahun 2000-an, kerajinan pande gong sudah menembus pasar luar Bali, menjadikannya salah satu kerajinan unggulan di Banjar Dajan Umah," tambahnya.

Desa Pengotan: Pusat Seni dan Tradisi Sakral

Suardana menegaskan bahwa Desa Pengotan merupakan gudangnya seni dan tradisi sakral.

Desa ini mempertahankan berbagai kesenian sakral, termasuk Tari Baris Babuang dan Tari Perang Papah Biu yang hanya dipentaskan saat upacara tertentu.

Keunikan ini menjadikan Pengotan sebagai destinasi yang potensial untuk wisata budaya, meskipun pelaksanaan kesenian tersebut dibatasi oleh status kesakralannya.

Salah satu tradisi yang paling menarik perhatian adalah Nganten Massal atau menikah massal, yang hanya dilaksanakan dua kali setahun, pada Sasih Kapat dan Kedasa.

Tradisi ini begitu kental di desa, bahkan pasangan yang ingin menikah harus menunggu pelaksanaan Nganten Massal jika telah ditentukan waktu upacaranya.

"Jika terdesak, mereka dapat mengikuti Nganten Massal di desa tetangga seperti Desa Landih, karena ketiga desa ini memiliki keterkaitan historis," jelas Suardana.

Potensi Wisata dan Pengembangan Budaya

Dengan segala potensi yang dimiliki, Suardana berharap Desa Pengotan bisa masuk dalam Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN). Namun, ia menegaskan bahwa pelaksanaan tradisi sakral tetap harus dijaga agar tidak terganggu oleh pengembangan pariwisata.

"Pelaksanaan seni dan budaya sakral di Pengotan tetap harus berlangsung sesuai dengan aturan adat, hanya dipentaskan saat wali-wali di pura tertentu," pungkasnya.

Desa Pengotan, dengan kekayaan budaya dan tradisi yang begitu mendalam, menjadi salah satu desa di Bangli yang patut diperhitungkan dalam peta pariwisata Bali.

Keunikan adat dan kesenian yang diwariskan turun-temurun membuatnya menjadi destinasi yang menawarkan pengalaman spiritual dan budaya yang tak terlupakan. ***

 
Editor : I Putu Suyatra
#bali #bangli #desa Pengotan #menikah massal #tradisi