Gunung Bromo adalah gunung berapi aktif yang terletak di Jawa Timur, Indonesia, dan merupakan bagian dari Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Gunung ini menjadi salah satu destinasi wisata alam paling populer di Indonesia.
Dengan ketinggian 2.329 meter di atas permukaan laut, Gunung Bromo terkenal karena pemandangannya yang spektakuler, terutama saat matahari terbit. Kaldera Tengger yang luas, tempat Bromo berdiri megah, menjadi daya tarik utama bagi para wisatawan.
Gunung Bromo juga memiliki sejarah yang erat dengan Suku Tengger, yang dipercaya sebagai keturunan Roro Anteng dan Jaka Seger, dua tokoh legendaris yang melarikan diri dari Kerajaan Majapahit dan membangun komunitas di lereng gunung ini.
Suku Tengger menganut agama Hindu dengan pengaruh animisme yang kuat. Mereka menganggap Gunung Bromo sebagai gunung suci, tempat Dewa Brahma dan leluhur mereka bersemayam. Upacara Yadnya Kasada, yang diadakan setiap tahun pada bulan purnama Kasodo, adalah ritual terpenting bagi Suku Tengger.
Dalam ritual ini, mereka mempersembahkan sesaji dan berdoa kepada leluhur untuk memohon kesuburan dan perlindungan.
Kehidupan ritual Suku Tengger erat berhubungan dengan Pura Luhur Poten Bromo, yang terletak di hamparan pasir di kawasan Taman Nasional Bromo. Pura ini menjadi pusat kegiatan selama Upacara Kasada berlangsung.
Pura ini bisa diakses melalui jalur Probolinggo atau sisi utara Gunung Bromo. Akses jalan menuju kawasan ini terbilang baik, meski jalan menyempit saat mendekati Bromo, mengharuskan kendaraan melambat ketika berpapasan dengan kendaraan lain.
Meski jalannya berkelok dan menantang, pemandangan kebun sayur milik warga setempat dan deretan pohon cemara yang menghiasi pegunungan membuat perjalanan terasa menyenangkan.
Jarak tempuh dari Probolinggo sekitar dua jam dengan kendaraan pribadi. Saat mendekati kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), pengunjung akan diperiksa oleh petugas taman nasional.
Wisatawan dikenakan tiket masuk, namun bagi yang hendak bersembahyang dengan mengenakan pakaian adat, akses masuk diberikan secara gratis.
Mengingat medan yang curam dan berpasir, disarankan menggunakan kendaraan seperti Hard Top atau kendaraan 4WD, yang mudah disewa di sekitar kawasan Bromo.
Sesampainya di Pura Luhur Poten, para pengunjung disambut oleh lanskap memukau dari Pegunungan Bromo.
Di tengah hamparan pasir hitam Bromo, Pura Luhur Poten berdiri kokoh, memancarkan aura spiritual yang kuat. Pura ini terbagi menjadi tiga mandala dengan ukuran berbeda: nista mandala 30x30 meter, madya mandala 40x40 meter, dan utama mandala 50x50 meter.
Romo Mangku Sugiano, yang telah mengabdi di pura ini selama 33 tahun sejak dibangun pada 1991.
Ia menjelaskan bahwa pembangunan pura ini penuh perjuangan. Terwujudnya pura ini juga tak lepas dari inisiatif Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan peran tokoh-tokoh Hindu dari empat wilayah Tengger.
Nama "Poten" berasal dari kata "putih," dan pura ini dibangun dengan konsep tri mandala, menggabungkan arsitektur Jawa Timur dan Bali.
Lokasi pura dipilih karena dianggap sebagai tempat suci yang dihormati, dengan leluhur bernama Kaki Buyut Pranoto yang berstana di sana.
Di area utama mandala, terdapat padmasana yang diyakini sebagai perwujudan Tri Murti: Brahma, Wisnu, dan Siwa, serta pelinggih Panglurah, patung Dewa Brahma, dan Dewi Saraswati.
Upacara pujawali Kasada, yang dilaksanakan berdasarkan kalender Tengger saat Sasih Kasada, berlangsung selama tiga hari.
Setiap desa membuat sesajen khusus yang disebut ongkek, yang terdiri dari hasil bumi dan hewan seperti ayam atau domba.
Ongkek disucikan dengan doa oleh dukun pandita di setiap desa, sebelum dibawa ke Pura Luhur Poten pada malam hari kedua.
Sesajen utama yang rutin setiap tahun adalah sayuran yang dilarung ke kawah Bromo sebagai tanda syukur atas hasil panen yang melimpah.
Meskipun Pura Luhur Poten kerap terkena abu vulkanis saat erupsi, struktur bangunannya tetap bertahan dengan baik.
Pengunjung pura tidak hanya datang dari daerah sekitar, tetapi juga dari berbagai tempat di Nusantara, termasuk Jakarta, Bekasi, dan Bali, terutama saat pujawali, purnama, dan tilem. (dik)
Editor : I Putu Mardika