Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sate Renteng dalam Sarana Upacara Hindu Bali: Ada 6 Komponen yang Mulai Jarang Digunakan, Berikut Komponen Wajib dan Maknanya

I Putu Suyatra • Minggu, 15 September 2024 | 20:22 WIB
Sate Renteng
Sate Renteng

BALIEXPRESS.ID - Pemahaman masyarakat Hindu Bali terhadap tata cara pembuatan sarana upacara Hindu Bali seperti Sate Renteng kian memudar.

Tradisi yang seharusnya menjaga keutuhan nilai-nilai tattwa kini mengalami banyak pengurangan makna.

Fenomena ini terlihat jelas di Kota Denpasar, di mana banyak Sate Renteng yang digunakan dalam upacara tak lagi lengkap.

Apakah masyarakat mulai melupakan esensi dari sarana upacara ini?

Budayawan I Gede Anom Ranuara, S.pd, S.Sn, saat diwawancarai Bali Express (Jawa Pos Group), mengungkapkan bahwa pengabaian terhadap unsur-unsur penting Sate Renteng kian mengkhawatirkan.

“Banyak orang berpikir Sate Renteng hanyalah sekadar sate kulit babi yang dirangkai,” ujarnya.

Padahal, di balik itu, terdapat komponen wajib seperti senjata Dewata Nawa Sanga, hati, paru-paru, ginjal, dan empedu yang memegang peran penting dalam menjaga nilai tattwa upacara.

Namun, seiring perkembangan zaman, masyarakat cenderung berpikir praktis dan ekonomis, sehingga detail-detail penting dalam Sate Renteng sering diabaikan.

“Banyak yang berpura-pura tidak tahu dan enggan memahami tattwa,” tambah Anom dengan nada prihatin.

Yang lebih disayangkan lagi, penggunaan tulang babi sebagai unsur penyusun Sate Renteng, yang dikenal dengan nama Gayah dan tercatat dalam lontar agama, kini mulai ditinggalkan.

Tradisi yang seharusnya dihormati dan dijaga malah tergerus oleh modernitas dan ketidakpedulian.

Jenis dan Makna Sate Renteng:

  1. Sate Renteng Puspusan

    • Menggunakan kelapa sebagai alas dengan 13 tusuk sate.
    • Makna: Kelapa melambangkan bumi, dan 13 tusuk sate adalah simbol sakral yang harus dipertahankan.
  2. Sate Renteng Sari

    • Terdapat Bagia Pulekerti dan tetap menggunakan 13 tusuk sate.
    • Makna: Bagia Pulekerti melambangkan keseimbangan dalam upacara, yang memuat nilai-nilai tattwa.
  3. Sate Renteng Utuh

    • Menggunakan kepala babi utuh sebagai alas.
    • Makna: Kepala babi melambangkan kekuatan dan kelengkapan ritual, menandakan tingkat yang lebih tinggi dalam upacara.
  4. Sate Renteng Durga Dewi

    • Menggunakan kepala babi dengan cabai merah sebagai simbol taring Dewi Durga.
    • Makna: Melambangkan kekuatan Dewi Durga dan perlindungan dari energi negatif.

 

Baca Juga: Arca Bedogol Tabanan: Penjaga Gaib yang Melindungi Sejak Zaman Kerajaan di Bali

Komponen Wajib dan Makna dalam Sate Renteng

  1. Penjaga Nilai Tattwa

    • Sate Asem, Sate Serapah, Sate Lamat, Kekuwung, Bagia Pulekerti, Senjata Dewata Nawa Sanga, Penyelah, Aling-aling, Lawang, Japit Balung, Japit Babi.
    • Makna: Setiap komponen memiliki peran penting dalam menjaga nilai tattwa dan spiritualitas upacara.
  2. Penggunaan Kelapa atau Gedebong

    • Kelapa sebagai simbol bumi, sedangkan gedebong (batang pisang) untuk estetika dengan tiga buah melambangkan Tri Bhuwana (tiga alam).
    • Makna: Melambangkan koneksi antara alam semesta dan upacara.
  3. Tulang Babi (Gayah)

    • Merupakan rangkaian tulang babi di dasar Sate Renteng.
    • Makna: Simbol fondasi spiritual yang memperkuat kesakralan upacara.
  4. Cabai Merah

    • Simbol Banaspati dan perlindungan dari energi negatif, serta berfungsi biologis mengusir lalat.
    • Makna: Perlambang kekuatan Dewi Durga dan unsur pelindung dalam upacara.
  5. Kunyit

    • Digunakan untuk memperkuat rangkaian dan bertindak sebagai antibiotik alami.
    • Makna: Simbol pembersihan dan perlindungan spiritual, serta menjaga kesegaran sate.
  6. Penempatan Organ Babi

    • Paru-paru di timur, hati di selatan, empedu di barat, limpa di utara, ginjal di tengah.
    • Makna: Representasi dari Kanda Pat, pelindung spiritual yang dikaitkan dengan Dewi Durga.

Penekanan pada nilai tattwa dan komponen penting ini sangat diperlukan untuk menjaga kesucian Sate Renteng dalam upacara tradisional.

Meskipun komponen-komponen ini sangat penting untuk menjaga makna dan nilai tattwa, banyak dari mereka kini jarang digunakan atau bahkan diabaikan dalam pelaksanaan Sate Renteng modern.

Apakah ini pertanda semakin lunturya nilai-nilai luhur dalam pelaksanaan upacara di Bali?

Bagaimana menurut Anda, apakah masyarakat harus kembali menggali dan menjaga esensi tattwa dalam setiap upacara tradisional? ***

 
Editor : I Putu Suyatra
#bali #yadnya #hindu #tradisi #dewi durga #sate renteng