Uang Kepeng atau Pis Bolong dalam Bahasa Bali, adalah mata uang yang bentuknya bundar dan berlubang segi empat sama sisi di tengah-tenganya terbuat dari bahan-bahan logam yang mengandung unsur-unsur Panca Dhatu, yaitu besi, perak, tembaga, emas, dan perunggu.
Besi simbol Dewa Wisnu, Perak simbol dari Dewa Iswara, Emas warna kuning simbol Dewa Mahadewa, Tembaga berwarna merah sebagai simbol Dewa Brahma dan Perunggu sebagai simbol dari Dewa Siwa.
Uang kepeng telah digunakan sejak abad ke- 7 Masehi berdasarkan berita China dari dinasti Tang. Bukti prasasti Sukawana A 1, berangka tahun 882 Masehi (abad ke-9) uang kepeng diduga telah mempunyai fungsi dalam hubungannya dengan upacara Agama Hindu di Bali.
Prof. Dr. Ida Bagus Putu Suamba, M.A. Ph.D selaku Akademisi Poltek Negeri Bali menyebutkan uang kepeng hingga saat ini masih tetap digunakan baik sebagai sarana upakara yadnya maupun digunakan sebagai sesari daksina. Indikasinya di dalam teks-teks tutur ada digunakan kata-kata mejinah, arthanya.
Baca Juga: Makna Daun Andong Merah dan Banten Bayakaon bagi Umat Hindu Bali: Cocok Ditanam di Pekarangan
Ada empat fungsi uang kepeng, yaitu sebagai sarana menghubungkan diri dengan dewa. Uang kepeng digunakan sebagai sarana untuk melengkapi upakara Panca Yadnya, misalnya dalam banten, kwangen, buah lis, orti, dan sebagainya. “Penggunaan kwangen menggunakan uang kepeng, buah lis,” jelasnya.
Uang kepeng juga berfungsi sebagai sesari, berfungsi sebagai alat-alat upakara, seperti : lamak tamiang, salang, payung pagut, panyeneng, pedagingan
Pertama, bentuknya yang bundar atau bunter (bahasa Bali) melambangkan Windu. Windu sebagai bagian dari Ongkara. Disamping itu, lubangnya berbentuk segi empat sama sisi merupakan bentuk yang sangat penting di dalam kosmologi Hindu.
Bentuk-bentuk yang melekat pada sebiji uang kepeng, yaitu bundar dan segi empat merupakan bentuk-bentuk yang digunakan di dalam membangun sebuah yantra di dalam ajaran Tantrayana.
Dalam konteks Bali, yantra ini bisa diterjemahkan sebagai banten karena di sini terlibat berbagai bentuk sebagai penjabaran dari kosmologi, antara lain bundar/lingkaran, segi empat, segi tiga, limas, dan sebagainya.
Baca Juga: Umat Hindu Wajib Tahu, Banten Disusun Tiga Unsur, Mulai dari Tumbuhan, Telur hingga Pertiwi
Bentuk-bentuk tersebut ditata/diatur sedemikain rupa dengan melibatkan seni warna, ukir, reringitan, seni bangunan berbagai bahan/material upakara sehingga melahirkan sebuah yantra yang mempunyai nilai kesucian dan keikhlasan.
Kedua, sebagai simbul kekuatan Panca Dewata yang menempati arah dik yaitu timur, selatan, barat, utara dan tengah.
“Mengapa unsur-unsur Panca Dhatu harus ada di dalam pis bolong. Kalau dimaknai Panca berarti lima; dhatu berarti elemen yang menyangga mahkluk/kehidupan. Panca Dhatu merupakan esensi dari pertiwi (bumi/tanah),” paparnya.
Dikatakan Prof Suamba, Dhatu-dhatu ini merupakan inti kekuatan bumi. Dhatu merupakan kekuatan karena berupa energi yang diperlukan oleh manusia di dalam kehidupan.
Bisa dibayangkan betapa peranan besi/baja di dalam pembangunan, dalam pengembangan teknologi, begitu juga tembaga, perak, kuningan, dan emas.
Menurut Siwa Tattwa, pertiwi merupakan tattwa yang paling kasar (sthula) tempat berkumpulnya semua tattwa (pupulaing sarwa tattwa). Oleh karena itu semuanya lahir dari sini.
Semua tattwa yang lebih halus/yang ada di atasnya, berkumpul di bumi. Apah, teja, wayu, akasa ada berakumulasi/berkumpul di dalam pertiwi (bumi/tanah). Energi apah (air), teja (panas), wayu (angin), dan akasa (ruang) ada di bumi.
Baca Juga: Segi Tiga Kuliner dalam Banten Berkonsep Tri Angga, Terdiri dari Nasi, Daging dan Buah
Tidak hanya matahari menjadi sumber energi, bumi pun mengandung berbagai energi seperti energi gas, energi panas bumi, energi air, energi minyak bumi, dan lain-lain.
Pertiwi dipersonifikasikan sebagai kekuatan sehingga disebut dewi, yaitu dewi bumi (Dewi Pertiwi). Dewi Pertiwi dengan Bapak Akasa merupana kekuatan Rwa Bhineda. Uang kepeng berhubungan dengan ajaran Siwa Buddha.
Kedua ajaran ini Siwa dan Buddha, khususnya Mahayana mengenal konsep dhatu yang pengertiannya luas.
Di dalam Buddhism, dhatu bermakna kehidupan dan benda-benda di dunia, contohnya tiga dunia/alam, kama, rupa, dan arupa empat elemen, indriya dengan objek-objeknya, konstituen material dan non-material.
Disamping itu, juga termasuk penderitaan/kenikmatan mental dan fisik, ketenangan, kebodohan, keinginan, penyerahan diri, kebencian; juga akasa dan nibbhana atau nirodha.
Konsep Panca Dhatu, yaitu elemen bumi/tanah:besi, perak, tembaga, emas, dan tembaga. Ajaran Siwa ini menekankan pada elemen tambang yang ada di dalam bumi; bumi merupakan kumpulan dari bhuta-bhuta lainnya.
Baca Juga: Daftar Nama dan Makna Sakral 17 Jajan dalam Banten Pulogembal: Misteri di Balik Upacara Hindu Bali
Jadi, keduanya ajaran Siwa-Buddha mempercayai keberadaan dan fungsi dhatu dalam tataran fisik, psikis dan metafisika.
“Namun di dalam ajaran Siwa tidak hanya mempercayai secara fisika dan metafisika, namun dhatu-dhatu ini mampu dijabarkan ke dalam bentuk fisika dalam upakara yadnya,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika