Menurut Ida Bagus Made Baskara, seorang penekun lontar dari Geriya Gunung Kawi Tampaksiring, Gianyar, benang tidak hanya dianggap sebagai bahan dasar pembuat kain, tetapi memiliki makna dan fungsi yang sangat penting dalam upacara keagamaan di Bali.
Dalam Lontar Purwagama Sesana, disebutkan bahwa setelah para dewata menciptakan manusia, manusia harus diberi pengetahuan untuk dapat bertahan hidup, termasuk pengetahuan tentang pembuatan alat dari besi, kayu, dan cara memintal benang.
Pengetahuan tentang memintal benang dianggap sangat penting, karena diyakini bahwa Ida Bhatara mengajarkan proses ini untuk menyejahterakan umat manusia. Benang pun menjadi bagian esensial dalam berbagai upacara dan ritus di Bali.
Ida Bagus Baskara menjelaskan bahwa benang dapat diklasifikasikan berdasarkan warna dan bentuknya. Salah satu jenis benang yang digunakan dalam ritus keagamaan adalah benang utuh atau nagasari, yang tidak boleh terputus dan digunakan dalam bentuk melingkar, melambangkan keterhubungan.
Selain itu, ada pula benang yang memiliki ukuran dan panjang tertentu, digunakan sebagai simbol magis atau kedewataan, seperti benang Tri Datu yang melambangkan Trimurti.
“Dalam hampir setiap ritus keagamaan, unsur benang selalu ada, baik sebagai pembatas (wates) maupun sebagai pengikat (pengringkes),” katanya.
Fungsi benang sebagai wates terlihat dalam upacara pernikahan, di mana benang melambangkan batasan antara kehidupan sebelum dan sesudah menikah.
Dalam konteks lain, benang digunakan sebagai pelindung (pengraksa) dalam ritus magis, seperti dalam teks "Indik Penyengker Gerubug", di mana benang hitam digunakan untuk melindungi dari penyakit atau bencana.
Benang juga berperan dalam upacara kematian, sebagai pengikat unsur panca mahabuta sebelum dikembalikan ke asalnya, serta sebagai simbol arta brana, di mana benang diikatkan pada uang kepeng sebagai pelengkap dalam yadnya.
Benang sering digunakan untuk melengkapi hal-hal yang dianggap kurang dalam upacara yadnya dan juga berfungsi sebagai alat pembersihan (prayascita), seperti dalam prosesi pawintenan atau pada bangunan baru.
Benang tidak hanya berperan dalam upacara yadnya, tetapi juga memiliki peran penting dalam upacara magis, di mana benang sering diidentikkan dengan sosok naga. Saat benang diikat, seorang sulinggih akan melafalkan mantram.
Ida Bagus Baskara menjelaskan bahwa salah satu mantram yang diucapkan adalah "naga putih pinaka pengkrasa," yang biasa diucapkan dalam prosesi meotonan. Dalam upacara tersebut, benang diikat di tangan kanan dan dimantrai, menyebut sosok naga putih sebagai simbol penjaga.
Selain sulinggih, benang dapat diikat oleh pemangku, orang tua, atau penglingsir. Sejak tahun 2000-an, umat Hindu yang bersembahyang di pura di Bali sering menerima benang tridatu yang dibagikan oleh pemangku sebagai simbol berkat setelah mereka selesai muspa.
“Penggunaan benang dalam upacara harus mengikuti aturan tertentu, sesuai dengan prosesi yang dilakukan. Jika digunakan dalam ritual otonan, benang hanya boleh dipakai maksimal selama tiga hari,” imbuhnya.
Sementara itu, dalam upacara pernikahan atau pawiwahan, setelah natab banten, pengantin pria dan wanita yang mengenakan benang secara menyilang harus melepaskannya dan meletakkannya di tempat tidur.
Ida Bagus Baskara menambahkan, jika benang digunakan sebagai sarana perlindungan (pengraksa), benang harus dipakai di tangan kanan dan boleh digunakan selama benang masih dalam keadaan utuh.
“Jika benang sudah tidak utuh, maka sebaiknya dilepaskan. Namun, proses pelepasan tidak boleh sembarangan, benang tersebut harus dihancurkan dengan cara dibakar atau dihanyutkan, dan tidak boleh dibuang sembarangan ke tempat sampah,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika