BALIEXPRESS.ID - Naga Banda menjadi salah satu sarana bagi umat Hindu Bali saat melaksanakan upacara Ngaben.
Biasanya digunakan saat upacara Ngaben atau Palebon keluarga puri atau keturunan raja di Bali serta pandita Buddha di Desa Budakeling, Kecamatan Bebandem, Karangasem.
Sejarah lahirnya konsep Naga Banda terkait dengan perjalanan Dang Hyang Dwijendra ke Bali.
Menurut Ida Bagus Sidemen dalam buku “Dari Wilwatikta ke Swecapura, Perjalanan seorang actor religious”, lahirnya konsep naga banda bermula dari ujian bagi Dang Hyang Dwijendra untuk menjadi penasihat Raja Dalem Waturenggong.
Setelah lolos dari ujian ilmu pengendali air dan binatang, Dang Hyang Dwijendra harus mengikuti ujian berikutnya.
Dikisahkan, saat kembali dari Desa Padang menuju keraton Swecapura di Gelgel, rombongan raja melewati Tukad (sungai) Unda yang lebar.
Pada saat itu air sungai meluap, sehingga tidak bisa dilewati apalagi dengan kereta kuda.
Untuk bisa menyeberang, rombongan raja harus menunggu hingga air surut yang memakan waktu hingga sehari lebih.
Seluruh petinggi kerajaan meminta raja istirahat di tepi sungai menunggu air surut, tetapi Dang Hyang Dwijendra membisikkan raja agar menyeberangi sungai.
Raja ragu, tetapi setelah Dang Hyang Dwijendra membacakan mantra pengendali air dan ilmu pengendali kuda bernama Ajian Acwasiksa, kereta yang ditumpangi raja berhasil memecah arus sungai yang sedang meluap hingga sampai di tujuan dengan selamat.
Raja pun semakin yakin bahwa Dang Hyang Dwijendra adalah seorang pendeta sakti mandraguna sehingga diperkenankan masuk istana Swecapura.
Meski demikian, mata ujian bagi Dang Hyang Dwijendra masih berlanjut untuk mendapat kedudukan sebagai pendeta kerajaan.
Saat itu sang raja hendak melaksanakan upacara suci. Sebelum upacara dilaksanakan, raja memanggil seluruh pejabat kerajaan untuk menghadap ke baleirung (tempat pertemuan) terkait persiapan upacara.
Namun di balik acara tersebut, raja punya rencana lain untuk menguji kembali kehebatan Dang Hyang Dwijendra.
Sehari sebelum persidangan, raja memerintahkan abdinya untuk memasukkan seekor angsa putih ke dalam sumur tua yang sudah kering di belakang tempat pertemuan. Seharian angsa tersebut tidak diberi makan dan minum sehingga terus bersuara.
Di hadapan para pejabat tinggi kerajaan yang sedang rapat, raja bertanya kepada Dang Hyang Dwijendra, suara apa gerangan dari dalam sumur tersebut.
Semua orang sudah tahu bahwa suara itu berasal dari seekor angsa kelaparan yang berada di dalam sumur kering.
Namun sang raja ingin memastikan jawaban Dang Hyang Dwijendra. Sang pendeta sadar bahwa dirinya sedang diuji, maka ia menjawab bahwa suara itu berasal dari seekor naga hijau yang kelak menjadi kendaraan sang raja ketika arwahnya masuk nirwana.
Tentu saja jawaban Dang Hyang Dwijendra mengundang tawa para peserta sidang, termasuk raja karena sudah tahu bahwa yang ada di dalam sumur adalah seekor angsa putih.
Raja meminta abdinya mengambil angsa tersebut. Ketika tutup sumur dibuka, yang muncul bukanlah seekor angsa putih tetapi seekor naga dengan mulut menganga.
Naga tersebut menuju singasana sang raja sehingga membuat para pejabat kerajaan khawatir.
Melihat kepanikan para pejabat kerajaan termasuk raja, Dang Hyang Dwijendra membacakan mantra sakti sehingga membuat naga tersebut kembali masuk ke dalam sumur dan berubah menjadi angsa putih.
Kejadian aneh tersebut membuat raja takjub, lalu memutuskan untuk menobatkan Dang Hyang Dwijendra sebagai penasihat kerajaan.
Seiring peristiwa ajaib tersebut, raja mencetuskan sebuah bisama (keputusan) bahwa raja dan pejabat kerajaan yang berasal dari keturunannya akan menggunakan wahana naga saat upacara ngaben yang disebut dengan naga banda.
Naga Banda merupakan lambang dari tubuh manusia yang terikat oleh hawa nafsu atau sifat keduniawian.
Jika ditelisik lebih detail, Naga Banda ini berwujud seekor ular naga besar bertatah hiasan ukiran berwarna kuning keemasan.
Dosen Filsafat Hindu, STAHN Mpu Kuturan Singaraja Putu Ariyasa Darmawan mengatakan, Naga Banda merupakan seekor naga yang merupakan tali pengikat. “Naga adalah lambang dari badan tubuh manusia atau stula sarira,” jelasnya.
Ariyasa menjelaskan, dalam Lontar Tattwa Bhatara Astapaka secara filosofis disebutkan bahwa alat pengikat keduniawian berupa harta benda, indriya ataupun keinginan yang ditimbulkan oleh kebodohan atau awidya.
Manusia harus mampu melepaskan diri dari keterikatan tersebut, sehingga bebas.
Kebebasan yang dimaksud adalah bebasnya atma dari keterikatannya dengan badan, sehingga dapat bersatu kembali dengan Sang Hyang Parama Atma atau Ida Sang Hyang Widhi.
Dalam upacara Pitra Yadnya, lanjutnya, Naga Banda sebagai penuntun Sang Hyang Atma untuk mencapai surga ataupun moksa.
Selain itu, Naga Banda juga difungsikan sebagai penebusan karena melalui upacara Pitra Yadnya, seseorang diyakini dapat memutuskan diri dari ikatan duniawi.
Editor : Nyoman Suarna