Dalam ritus pengelukatan ada namanya Banten Pengeseng Lara, menggunakan kapas digiling dicelupkan pada minyak, lalu dibakar dan ditatab oleh seseorang yang sedang melakukan ritual pembersihan.
Ida Bagus Made Bhaskara, dari Geria Sunia Tampaksiring, Gianyar menjelaskan ketika api dalam wujud asap atau Duma Ketu berfungsi untuk mengantarkan doa-doa serta pengharapan kita kepada para leluhur, Dewa-Dewi, dan Tuhan. “Karena asap membumbung ke atas,” sebutnya.
Api takepan menghadirkan api yang membara, dengan demikian api takepan ini lebih memenuhi fungsi Jualanam, membersihkan sebagai mala, pengaruh negatif, dan sakit non medis.
Baca Juga: Begini Makna Api Takepan, Sebagai Pemujaan terhadap Duma Ketu, Dibutuhkan Asapnya
Dalam tradisi ritus keagamaan Hindu di Bali kedua bentuk itu (Duma Ketu dan Uja Wala Gni) digunakan secara simultan.
Artinya, tradisi Hindu di Bali menempatkan Dewa Agni sebagai yang Maha, sebagai Saksi atas berbagai aktivitas keagamaan, dan juga sebagai pembersih diri, alam, dan lingkungan.
Melalui Dewa Agni, puja dan matra diteruskan dan juga diri dan alam semesta dibersihkan dari pengaruh leteh dan kotor.
Tradisi Bali menempatkan api takepan sebagai fungsi Jualanam, untuk membersihkan diri dan lingkungan. Api takepan tidak saja penting, tetapi sangat bermakna.
“Sehingga dianggap sangat lengkap jika menggunakan api sebagai asap dan api yang sangat membara dalam praktik agama. Jadi dua fungsi dipraktekkan,” katanya.
Penggunaan batok kelapa dalam pembuatan pasepan, tidak terlepas dari sumber teks Kelapa Tattwa. Dalam lontar ini dijelaskan, dalam kelapa berbentuk bungkak memiliki unsur amerta.
Kemudian buah kelapa saat kering, maka unsur kala yang dominan. Makanya air bungkak saat kelapa sudah tua, unsur alkoholnya tinggi.
“Sehingga api takepan digunakan dalam ritus-ritus caru,” sebutnya.
Posisi api takepan diatur sedemikian rupa. Bentuknya juga menyerupai tapak dara, dan sebagai simbol yang sangat tua.
Ini merupakan penyelarasan keempat sumber arah mata angin, sehingga menjadi seimbang. “Menggunakan batok kelapa sebagai unsur Bhuta kala adalah penyelarasan arah mata angin,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika