Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sejarah Desa Sesetan: Berawal dari Kisah Keris Sakti Dalem Waturenggong hingga Daerah Hunian Setan

Nyoman Suarna • Jumat, 20 September 2024 | 02:23 WIB
SESETAN: Omed-omedan merupakan salah satu saksi bisu sejarah Desa Sesetan, terkait dengan keris sakti Dalem Waturenggong hingga babad keluarga Bhujangga.
SESETAN: Omed-omedan merupakan salah satu saksi bisu sejarah Desa Sesetan, terkait dengan keris sakti Dalem Waturenggong hingga babad keluarga Bhujangga.

BALIEXPRESS.ID - Sesetan merupakan salah satu desa di Kecamatan Denpasar Selatan, Kota Denpasar, dengan luas wilayah mencapai 739 hektar.

Dari beberapa informasi dan menurut cerita-cerita dari tokoh masyarakat serta didukung oleh bukti-bukti peninggalan yang ditemukan,  terungkap bahwa pada waktu Pemerintahan Dalem Waturenggong kira-kira abad ke 15, Desa Sesetan konon  menjadi satu kesatuan dengan Desa Pedungan.

Dikutif dari Blogger.com sumber lainnya, Desa Pedungan pada mulanya bernama Desa Peduwungan.

Nama ini bermula dari sebelah keris sakti yang dimiliki wakil Dalem Waturenggong di wilayah Badung yang bernama Arya Waringin.

Keris sakti tersebut dibuatkan tempat atau pelinggih dengan nama Pura Peduwungan yang artinya keris. Pura tersebut kini terletak di Banjar Kepisah.

Lama kelamaan kata Peduwungan ini dilafalkan menjadi Pedungan, yang kemudian diambil untuk menjadi nama sebuah desa yaitu Desa Pedungan.

Pada saat itu mata pencaharian penduduk di Desa Peduwungan adalah sebagai petani.

Beberapa orang penduduk yang tinggal di Desa Peduwungan melakukan kegiatan pertanian di bagian Timur Desa Peduwungan.

Karena tempat di bagian  timur Desa Peduwungan  ini sangat subur dan sangat baik untuk bercocok tanam, maka banyak penduduk yang akhirnya menetap.

Tempat itu diberi nama Kesetan atau sepihan yang artinya pecahan dari Desa Peduwungan.

Kemudian lama kelamaan seiring dengan perjalanan waktu dan karena proses perubahan kata, maka kata Kesetan berubah menjadi Sesetan.

Di Desa Sesetan ini penduduk mulai mendirikan tempat suci (Pura Kahyangan Tiga), dan hidup dengan berkelompok di bawah suatu wadah yang disebut banjar.

Ada beberapa banjar yang ada di Desa Sesetan yang namanya disesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat.

Di antaranya Banjar Gaduh karena yang bermukim di sini  adalah mayoritas keluarga dari Pasek Gaduh.

Kemudian Banjar Lantang Bejuh  yang artinya panjang membujur, karena geografi dari banjar ini  panjang membujur.

Banjar Pegok yang artinya berada di dalam, karena pada mulanya tempat agak di dalam (jauh dari tempat keramaian).

Banjar Suwung Batan Kendal,  karena dulu disana ada pohon Kendal (sejenis kepah). Banjar Kaja  yang artinya utara  karena banjar ini terletak di wilayah paling Utara Desa Sesetan.

Banjar Tengah yang artinya di tengah-tengah, karena letak banjar ini di tengah-tengah Desa Sesetan.

Selain versi di atas, ada versi lain tentang sejarah sejarah Desa Adat Sesetan.

Dalam naskah babad miliki salah satu warga Bhujangga di Desa Adat Sesetan, disebutkan, Sesetan berasal dari kata “setan”, karena wilayah Sesetan dahulu dihuni oleh beberapa setan yang menakutkan.

Kemudian, datanglah leluhur Bhujangga dan melakukan ritual untuk memindahkan para setan tersebut ke wilayah lain, sehingga wilayah yang dihuni setan tersebut menjadi Desa Adat Sesetan.

Meski demikian, mitos ini tidak banyak diketahui warga sebagaimana mitos tentang Sesetan dari kesetan Pedungan.

Editor : Nyoman Suarna
#waturenggong #Dalem #sesetan #keris #sejarah #desa #sakti #setan