BALIEXPRESS.ID - Mengatasi pamali sebenarnya tidak selalu sulit bagi umat Hindu Bali. Menurut Pinandita Ketut Pasek Swastika, pamali dapat diselesaikan dengan mudah jika kita tahu sumber masalah dan cara mengatasinya.
Terkadang, cukup dengan memindahkan atau memperbaiki benda yang menyebabkan pamali.
Selain itu, ada upacara khusus menggunakan banten berupa caru pamali sebagai sarana untuk mengatasi masalah tersebut.
“Sebenarnya hanya dengan memindahkan benda yang menjadi sumber pamali, masalah sudah selesai. Namun, ada perbedaan antara para bhakta dan apara bhakta,” katanya.
Para Bhakta dan Apara Bhakta: Tingkat Spiritual dalam Mengatasi Pamali
Para bhakta, menurut Pinandita Pasek, adalah mereka yang memiliki tingkat spiritual tinggi.
"Misalnya, seorang yogi yang mampu berkomunikasi langsung dengan alam gaib, bisa mengatasi pamali tanpa sarana apa pun," jelasnya.
Namun, bagi apara bhakta atau mereka yang masih berada di tingkatan spiritual yang belum mumpuni, diperlukan sarana seperti caru untuk menyelesaikan pamali.
"Ini juga berhubungan dengan rasa puas dan keyakinan bahwa pamali telah diatasi," tambahnya.
Pengalaman Pribadi Mengatasi Pamali
Pinandita Ketut Pasek Swastika, berbagi pengalaman pribadinya terkait pamali. Suatu ketika, keluarga beliau menghadapi masalah ketika rebung bambu milik mereka tumbuh melewati pagar dan masuk ke tegalan milik orang lain.
Akibatnya, ayahnya yang merupakan seorang sulinggih mengalami sakit pinggang.
Setelah memeriksa area selatan rumah, Pinandita Pasek menemukan rebung yang melewati pagar.
Berdasarkan petunjuk ayahnya, ia melakukan caru pamali sederhana menggunakan nasi kepel yang ditempatkan di daun pisang, serta melafalkan mantra suci:
"Om, Om, Om, Ih ta kita sang pamali, manusanta angaturken segehan kepelan telung kepel. Ayuwa ta kita ngrabeda, awehing manusanta kadigayusan mangda sukerta, rahayu, rahajeng."
Nasi tersebut kemudian dioleskan pada rebung sebelum dilakukan pemotongan, dan rebung yang dipotong digunakan sebagai obat luar untuk sakit pinggang.
Tak lama setelah ritual sederhana tersebut, sakit pinggang ayahnya pun sembuh.
"Percaya atau tidak, begitulah adanya," ujarnya.
Mengatasi Pamali pada Bangunan
Bagaimana jika pamali terjadi karena kesalahan pengukuran bangunan yang sudah selesai dibangun?
Menurut Pinandita Pasek, kesalahan semacam ini bisa diatasi dengan melakukan perbaikan pada bagian yang salah, atau secara berkala melakukan upacara macaru untuk menjaga keharmonisan rumah dan penghuninya.
Tingkat pamali juga mempengaruhi besar kecilnya caru yang diperlukan.
Dengan memahami cara yang tepat untuk mengatasi pamali, baik melalui sarana spiritual maupun pendekatan fisik, masyarakat dapat hidup harmonis dan terbebas dari gangguan yang dianggap membawa kesialan. ***