Wayan Titra Gunawijaya, dosen Teologi Hindu di STAHN Mpu Kuturan Singaraja, menjelaskan bahwa Bade berfungsi sebagai tempat jenazah dalam upacara pengabenan, dan bentuk serta ukurannya bervariasi.
Dalam Lontar Siwa Purana Tattwa, disebutkan bahwa ritual adalah sarana untuk mencapai pelepasan roh.
Pelaksanaan upacara pengabenan bertujuan untuk mendoakan agar roh Sang Pitara bisa mencapai kelepasan, seperti yang dijelaskan dalam petikan Lontar tersebut.
Titra juga menyebut bahwa arsitektur Bade beragam, tergantung pada kasta dan status sosial. Misalnya, bagi kaum Brahmana, Bade berbentuk padmasana atau padmasari, yang menyerupai bangunan suci.
Bagi kaum Ksatria, desain Bade berbeda antara raja penguasa tunggal dan raja bawahan. Sedangkan untuk kaum Wesia dan Sudra, Bade memiliki motif yang lebih sederhana, seperti bedawangnala atau babogeman.
Selain itu, bentuk Bade juga disesuaikan dengan tingkatan upacara, baik nista, madya, maupun utama.
“Arsitektur Bade mengandung enam konsep, termasuk konsep gunung, tri loka, dewa raja, dan Siwa-Buddha,” katanya.
Upacara pengabenan ini bertujuan untuk melepaskan roh dari keterikatan duniawi. Setelah upacara ini, Tirta Panglepasan digunakan untuk menghilangkan ikatan-ikatan fisik sehingga roh tidak lagi terbelenggu oleh keinginan tubuh jasmani.
Setelah upacara pengabenan selesai, tahap selanjutnya adalah upacara nyekah, yang bertujuan sebagai persiapan pelepasan roh agar mencapai pembebasan. Sarana yang digunakan dalam upacara ini termasuk bambu kuning dan daun beringin.
Menurut Wayan Titra Guna Wijaya, sarana-sarana tersebut dirangkai menjadi puspalingga atau puspasarira.
Puspalingga merujuk pada bunga yang menjadi tempat bagi roh leluhur, sementara puspasarira berarti bunga yang mewakili tubuh sang pitara, karena roh tersebut telah terbebas dari tubuh fisiknya (sthulasarira).
“Oleh karena itu, dibuatlah simbol tubuh dari rangkaian bunga yang disebut puspalingga atau puspasarira,” sebutnya.
Pelaksanaan upacara nyekah dimulai dengan membersihkan kerangka sekah, yang terbuat dari bambu, menggunakan air suci. Setelah itu, kerangka ini diperciki minyak wangi dan ditulisi aksara suci (wijaksara) sesuai tingkatan upacara, baik nista, madya, atau utama.
Daun beringin yang sudah disiapkan kemudian dililitkan pada kerangka sekah, yang berbentuk sumbu, dengan arah lilitan ke kanan.
Di bagian dalam buluh yang berisi ulakan, ditempatkan jemek yang berisi dua buah mirahputih, dedes, serta kapuk maduri putih. Di bagian atas buluh, ditempatkan murdha atau menur yang terbuat dari kayu cendana.
Setelah nyekah, dilanjutkan dengan ritual memukur untuk lebih menyucikan roh.
Proses ini bertujuan agar roh sang pitara mencapai tahap Widhi Wasa Pitara, dan melalui upacara Ngaluwer, roh tersebut akan naik ke tingkatan lebih tinggi menjadi Acintya Pramana Pitra.
Seluruh rangkaian upacara ini dirancang untuk membebaskan roh di alam niskala dan bersatu dengan Brahman, tergantung pada karma wasana yang telah diperbuat selama hidupnya.
Menurut Titra, pencapaian moksa tidak hanya bergantung pada besarnya ritual atau PitraYajna, tetapi juga ditentukan oleh perilaku dan karma selama hidup. “Hal inilah yang menjadi bekal utama dalam mencapai moksa atau tidak,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika