Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Begini Makna Ngangget Don Bingin saat Ngeroras, Simbol Roh Tubuh

I Putu Mardika • Jumat, 20 September 2024 | 05:31 WIB

Prosesi ngangget don bingin dalam upacara ngeroras pada ritual kematian di Bali
Prosesi ngangget don bingin dalam upacara ngeroras pada ritual kematian di Bali
BALIEXPRESS.ID-Upacara Ngerorasin, yang dilakukan dua belas hari setelah kematian, menjadi momen penting dalam ritus kematian Umat Hindu di Bali. Ngerorasin diyakini sebagai waktu untuk membebaskan atma dari ikatan suksma sarira yang mengikatnya.

Ni Made Evie Kurnia, Dosen Teologi Hindu di STAHN Mpu Kuturan Singaraja, menjelaskan bahwa upacara ngeroras merupakan bagian dari rangkaian Pitra Yadnya, seperti upacara Ngaben. Nama "Ngeroras" berasal dari kata "roras" yang berarti dua belas, sesuai pelaksanaannya yang dilakukan 12 hari setelah Ngaben.

Ngerorasin dimaknai sebagai proses pengembalian manusia kepada Sang Pencipta serta bentuk penghormatan kepada leluhur atau orang yang telah meninggal.

Upacara ini juga bertujuan untuk membersihkan keluarga yang ditinggalkan, rumah, serta alat-alat yang digunakan dalam prosesi pembakaran jenazah.

"Tujuannya adalah untuk mengakhiri 'cuntaka' atau kekotoran secara agama," kata Evie.

Dalam upacara Ngerorasin, karena tidak ada jenazah yang dihadirkan, diperlukan simbol-simbol tubuh halus (suksma sarira) dari atma untuk diupacarai.

Pelaksanaan upacara ini, serta yadnya lainnya, disesuaikan dengan kemampuan pelaksana (yajamana), baik dari segi dana, waktu, maupun pemahaman budaya.

Meskipun pelaksanaannya bervariasi di masyarakat, esensi dari Ngerorasin tetap sama, yaitu pelepasan atma dari ikatan suksma sarira. Perbedaan yang ada lebih disebabkan oleh kemampuan umat dan adanya pengaruh budaya lokal.

Menurut Evie, perbedaan ini justru positif, karena dalam agama Hindu perbedaan diterima sebagai cara untuk mencapai kepuasan batin atau atmanastuti.

Upacara Ngerorasin melanjutkan fungsi Ngaben. Jika Ngaben bertujuan melepaskan atma dari ikatan Panca Maha Bhuta, Ngerorasin berfungsi untuk membebaskan atma dari ikatan suksma sarira.

Keadaan roh setelah meninggal dijelaskan dalam Lontar Wrhaspati Tattwa, di mana atma masih terikat dengan Panca Tan Matra, dasendriya, triguna, citta, dan karma vasana.

Upacara ini membantu mengantar Sang Hyang Atma, yang disebut Dewa Pitara, menuju alam Parama Atma atau alam Ketuhanan.

“Tujuan utama Ngerorasin adalah meningkatkan kesucian Sang Hyang Atma setelah melewati proses Sava Wedana atau Ngaben,” sebutnya.

Upacara Ngeroras di Bali dilakukan melalui berbagai tahapan, dimulai dari Ngaget Don Bingin, Ngajum, Amet Toya Hening, Mepinton, Mepradaksine, Melaspas Bukur, Ngeliwet, Ngenjit Damar Kuning, Ngajum Padudusan, Muspe, Praline, Pendetan, Nyungsung Puspalinga, Sekah Tunggal, hingga Ngayut ke Segara.

Menurut Ni Made Evi Kurnia, Ngaget Don Bingin merupakan tahap awal berupa pengambilan daun beringin untuk digunakan dalam rangkaian puspasarira, yang menjadi simbol tubuh roh.

Daun ini dibentuk menyerupai tumpeng dan dihias dengan ukiran wajah manusia serta bunga ratna. Setelah itu, dilakukan Ngajum di mana daun beringin diolah menjadi sekah, dengan 108 lembar daun yang dirangkai khusus.

Selanjutnya, upacara Amet Toya Hening dilakukan pada pagi hari sebelum puncak upacara, di mana air jernih diambil sebagai bahan air suci (Tirtha) yang akan digunakan oleh pandita dalam memimpin upacara.

Setelah itu, prosesi Mapinton dilaksanakan untuk memberitahukan leluhur di pura-pura terdekat tentang pelaksanaan upacara.

Pada puncak acara, dilakukan Mepradaksine, yaitu prosesi mapeed (arak-arakan) bagi puspasarira yang dipangku oleh keluarga terdekat.

Setelah itu, Melaspas Bukur dilakukan untuk menyucikan wadah suci yang digunakan mengusung puspasarira, yang dihias indah dengan kertas emas.

Upacara Ngeliwet adalah persiapan saji berupa 108 nasi kecil yang dipersembahkan kepada roh dan leluhur. Kemudian Ngenjit Damar Kuning dilakukan dengan menempatkan lampu damar di area upacara untuk menyambut kehadiran para dewa.

Selanjutnya, upacara Ngajum Padudusan dilaksanakan untuk menyucikan Sanggar Tawang dan meminta para dewa hadir menyaksikan upacara.

Muspa adalah persembahyangan yang dipimpin pandita, dimulai dengan memuja Sang Hyang Surya dan diikuti seluruh keluarga untuk melepaskan roh dari ikatan Suksma Sarira. Prosesi Pralina kemudian dilakukan oleh pandita sebagai simbol pelepasan terakhir roh menuju sunya loka.

Upacara berikutnya adalah Ngeseng Puspalingga, di mana puspasarira dibakar di atas dulang tanah liat atau perak. Sisa abu dari pembakaran ini kemudian dikumpulkan dalam kelapa gading yang dibungkus kain putih dan dihias, sebelum disemayamkan di wadah suci.

“Tahapan terakhir adalah Ngayut Sekah ke Segara, yang dilakukan pagi hari sebagai simbol pengiriman roh ke alam bebas,” tutupnya. (dik)

 

 

Editor : I Putu Mardika
#kematian #ngangget don bingin #bali #Beringin #ngaben #ngeroras #hindu