Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Perjalanan Dang Hyang Dwijendra ke Bali Ada Kaitannya dengan Misi Gajah Mada Buat Miniatur Majapahit: Sejarawan Beberkan Fakta Ini

Nyoman Suarna • Sabtu, 21 September 2024 | 00:41 WIB
MAJAPAHIT BALI: Perjalanan Dang Hyang Dwijendra ke Bali dikaitkan dengan misi Gajah Mada yang menjadikan Bali sebagai miniature Majapahit.
MAJAPAHIT BALI: Perjalanan Dang Hyang Dwijendra ke Bali dikaitkan dengan misi Gajah Mada yang menjadikan Bali sebagai miniature Majapahit.

BALIEXPRESS.ID - Salah satu tokoh yang memiliki andil besar meneruskan visi misi Gajah Mada menjadikan Bali sebagai penerus Majapahit adalah Dang Hyang Nirartha.

Tokoh ini dikenal dengan beberapa nama, di antaranya Dang Hyang Dwijendra atau Pedanda Sakti Wawu Rawuh.

Sejarawan Ida Bagus Sidemen dalam buku “Dari Wilwatikta ke Swecapura, Perjalanan Seorang Actor Religious”, mengungkap, perjalanan Dang Hyang Nirartha dari Jawa ke Bali terkait erat dengan kebijakan Raja Ranawijaya yang memindahkan pusat pemerintahan kerajaan Majapahit dari Wilatikta ke Daha tahun 1468 Masehi.

Saat pusat pemerintahan berpindah, seluruh komponen pemerintahan juga diboyong, mulai dari keluarga kerajaan, para pejabat, penasihat raja dan kaum brahmana (pendeta).

Salah satu di antara para brahmana adalah Dang Hyang Asmaranata beserta istrinya Dewi Somawati serta dua orang anaknya bernama Dang Hyang Angsoka dan Dang Hyang Nirartha.

Dang Hyang Asmaranata adalah anak dari Mpu Tantular sang pengarang kekawin Suthasoma yang juga diberinama Dang Hyang Asokananta.

Ia anak dari Mpu Bahula (tokoh dalam cerita Calonarang) yang juga cucu dari Mpu Bharadah.

Semula Dang Hyang Nirartha adalah penganut mazab Siwa Buddha. Setelah menikah dengan Diah Kombala, ia menganut aliran Siwa Sidhanta untuk memperkuat paham yang sedang berkembang di Bali sesuai rencana Gajah Mada.

Dari tempat tinggalnya di Daha, Dang Hyang Nirartha menuju Wilatikta, tetapi saat melihat kerajaan Majapahit ini sudah hancur, ia melanjutkan perjalanan menuju Pasuruan.

Perjalanannya menuju Pasuruan hanya ditemani dua orang anaknya. Yang dituju di Pusuruan adalah keturunan Dang Hyang Kepakisan yang pernah dinobatkan sebagai raja oleh Gajah Mada bersamaan dengan pelantikan Raja Bali Dalem Kresna Kepakisan tahun 1350 Masehi.

Ia meyakini bahwa kerajaan teresbut masih menganut kepercayaan leluhur Majapahit. Kedatangannya ke Pausuran juga dalam rangka memantapkan ajaran Siwa Sidhanta untuk melindungi Bali sebagai pewaris Majapahit.

Di Pasuruan, Dang Hyang Nirartha menikah dengan putri Dang Hyang Penataran hingga melahirkan empat orang anak.

Dari Pasuruan ia melanjutkan perjalanan menuju Blambangan, ditemani putra dan putrinya dari Daha dan dua orang putra dari Pasuruan.

Yang dituju di Blambangan adalah keturunan Dang Hyang Kepakisan yang diangkat menjadi penguasa Blambangan oleh Gajah Mada.

Di Blambangan ia menikah dengan adik raja Blambangan bernama Sri Patni Keniten.

Setelah melahirkan tiga orang anak, ia bersitegang dengan raja Blambangan karena dituduh mengguna-gunai istri raja.

Konon permaisuri raja tergila-gila dengan Dang Hyang Nirartha karena setiap berkeringat, badannya menebar bau harum.

Fitnah ini membuatnya hengkang dari Blambangan menuju Bali.

Dang Hyang Nirartha memutuskan berlayar dari pabean Muncar Blambangan.

Dalam cerita babad dikisahkan, dalam penyeberangannya ke Bali, ia bersama istri dan tujuh orang anaknya menggunakan perahu bocor yang dinakhodai seorang awak perahu, sedangkan Dang Hyang Nirartha menggunakan batok buah labu yang sudah kering dan menggunakan tangan sebagai dayungnya.

Dengan ilmu pengendali air, ia beserta anak dan istrinya berhasil mendarat di Pantai Purancak, Bali.

Editor : Nyoman Suarna
#bali #gajah mada #dang hyang dwijendra #sejarawan #Misi #miniatur #majapahit