BALI EXPRESS-Keberadaan Pura Gunung Raung di Desa Taro Kecamatan Tegalalang, Kabupaten Gianyar, tak lepas dari perjalanan suci Maha Rsi Markandeya.
Rsi Markandeya datang bersama ratusan pengikutnya untuk membangun peradaban di Bali.
Jero Kubayan Ketut Rata, 51, tokoh adat Desa Taro, yang mengutif lontar Bhwana Tatwa Rsi Markandeya mengatakan, Rsi Markandeya adalah seorang yogi dari India yang melakukan perjalanan suci dari negeri Mahabharata menuju nusantara.
Waktu masih kecil, yogi ini diramalkan akan berumur pendek. Karena tahu takdir akan cepat menjemputnya, ia memuja Siwa.
Namun nasib berkata lain. Siwa memberinya anugerah bahwa selama dunia masih ada, selama itu juga Markandeya ada.
Setelah diberi umur panjang, ia memiliki misi menyebarkan kepercayaan dan peradaban ke sejumlah negara.
Dalam misi menyebarkan kepercayaan, ia melakukan perjalanan suci ke nusantara.
Pertama kali menginjakkan kakinya di Bukit Damalung, wilayah Gunung Dieng, Jawa Tengah.
Dari sana berjalan ke arah timur menuju Gunung Rawung, Jawa Timur.
Di tempat ini sang Rsi mendirikan pertapaan yang memiliki banyak pengikut.
Ketika memandang ke arah timur, ia melihat seberkas sinar terpancar dari sebuah pulau.
Sinar itu berasal dari Gunung Agung yang konon merupakan sempalan ujung Gunung Himalaya.
Takjub dengan sinar itu, Rsi Markandeya menuju Pulau Bali diiringi 400 pengikutnya. Namun sayang, dalam perjalanan, para pengikutnya banyak yang meninggal karena hama penyakit, serangan binatang buas dan kejadian lainnya.
Sang Maharesi memutuskan kembali ke Gunung Rawung. Di tempat itu ia bertapa, minta petunjuk agar bisa mencapai Pulau Bali yang juga disebut pulau Bumi Bangsul, Banten, atau Wali.
Dalam tapanya, ia mendapat petunjuk agar menanam Panca Datu (lima unsure logam) di kawasan pulau yang ditujunya.
Atas petunjuk tersebut, ia kembali menuju Bali diiringi 800 pengikut.
Di kaki Gunung Agung ia menanam lima unsure logam sebagai cikal bakal Pura Besakih yang ada sekarang ini. Selanjutnya menuju arah barat, mendirikan Desa Taro dan sejumlah desa di sekitarnya.
Untuk tidak melupakan kawasan pertapaannya di Gunung Raung, Jawa Timur didirikanlah sebuah tempat pemujaan di Desa Taro yang disebut Pura Gunung Raung.
Sang Maharesi tidak hanya berjasa menyebarkan agama Hindu, tetapi juga membangun peradaban masyarakat Bali.
Organisasi bernama banjar, desa pakraman dan subak merupakan gagasan sang Rsi yang diwariskan hingga saat ini di Bali, termasuk juga mengajarkan tentang cara bertani di Bali.
Rsi Markandya berjasa besar membangun tatanan peradaban dan kebudayaan Bali.
Beliau sangat disucikan dan dipuja sebagai leluhur orang Bali di Pura Gunung Raung sehingga pura itu sangat dikeramatkan. Berbagai kegaiban sebagai pertanda bagi Bali dan nusantara muncul di pura ini.
Editor : Nyoman Suarna