BALIEXPRESS.ID - Bagi umat Hindu Bali, kematian dipandang sebagai bagian alami dari siklus kehidupan. Meski bisa datang tiba-tiba, jenazah tetap harus diperlakukan dengan layak sesuai adat dan tradisi setempat.
Namun, tidak semua hari baik untuk penguburan. Ada beberapa pantangan, terutama saat Kala Gotongan dan Semut Sadulur.
Jika dilanggar, akibatnya bisa fatal, tidak hanya bagi keluarga yang ditinggalkan, tetapi juga bagi seluruh masyarakat desa.
Menurut kepercayaan Hindu Bali, setiap prosesi pemakaman harus mengikuti aturan adat yang ketat, termasuk memilih hari baik (dewasa ayu) untuk mengubur jenazah.
Jenazah tidak boleh dikuburkan sembarangan, terutama jika bertepatan dengan hari-hari yang dianggap buruk seperti Kala Gotongan dan Semut Sadulur.
Jika hari buruk ini dilanggar, bencana bisa datang, baik secara nyata maupun gaib.
Apa Itu Kala Gotongan dan Semut Sadulur?
Jro Mangku Nyoman Subata dari Desa Adat Pupuan, Tabanan, menjelaskan bahwa Kala Gotongan adalah hari di mana penguburan jenazah sangat pantang dilakukan.
Nama "Gotongan" mengacu pada tindakan menggotong atau membawa jenazah.
Jika dilakukan saat Kala Gotongan, dipercaya akan ada kematian beruntun yang menyusul, sehingga masyarakat akan terus "menggotong" jenazah secara berturut-turut.
Sementara itu, Semut Sadulur merujuk pada fenomena semut yang berjalan beriringan, melambangkan kematian yang akan datang secara beruntun jika hari tersebut dipilih untuk mengubur jenazah.
Kedua hari ini memiliki efek yang sama, yaitu meningkatkan kemungkinan terjadinya kematian berturut-turut dalam waktu dekat.
Cara Menghitung Kala Gotongan dan Semut Sadulur
Perhitungan hari buruk seperti Kala Gotongan dan Semut Sadulur dilakukan menggunakan sistem wariga, yaitu kalender tradisional Bali yang menggabungkan dua unsur waktu: Sapta Wara dan Panca Wara.
Kala Gotongan terjadi jika jumlah kedua unsur tersebut menghasilkan angka 14 selama tiga hari berturut-turut, sementara Semut Sadulur muncul jika hasilnya 13 selama tiga hari berturut-turut.
Contohnya, Kala Gotongan terjadi dari Sukra Kliwon hingga Redite Paing (Jumat hingga Minggu), sementara Semut Sadulur muncul dari Sukra Pon hingga Redite Kliwon.
Meski perhitungan ini terkesan rumit, kalender Bali biasanya sudah mencantumkan hari-hari tersebut, meskipun tanpa penjelasan detail.
Pasah: Hari Lain yang Perlu Diwaspadai
Selain Kala Gotongan dan Semut Sadulur, ada juga waktu Pasah yang datang setiap tiga hari sekali.
Pasah dianggap tidak baik untuk penguburan karena membawa efek buruk bagi krama desa adat. Jika tetap dilakukan, diyakini akan ada dampak negatif bagi seluruh masyarakat.
Mengapa Hal Ini Penting?
Mengubur jenazah bukan hanya soal memenuhi kewajiban terakhir kepada yang meninggal, tetapi juga menjaga keseimbangan spiritual dan harmoni di desa.
Jika aturan adat ini dilanggar, masyarakat percaya akan ada konsekuensi serius, baik dalam bentuk penyakit, bencana, atau bahkan kematian beruntun.
Dengan memahami perhitungan waktu seperti Kala Gotongan, Semut Sadulur, dan Pasah, diharapkan masyarakat Bali bisa lebih bijaksana dalam menentukan waktu penguburan.
Kepercayaan ini telah menjadi bagian dari tradisi yang diwariskan turun-temurun, menjaga hubungan antara dunia nyata dan dunia gaib agar tetap harmonis.
Mengapa Harus Dipatuhi?
Sebagai umat Hindu Bali, keyakinan terhadap pengaruh dewasa ala (hari buruk) seperti Kala Gotongan dan Semut Sadulur tak bisa dianggap remeh.
Meskipun mungkin tampak sepele, pelanggaran terhadap aturan ini dipercaya bisa membawa petaka yang menimpa tidak hanya keluarga, tetapi juga seluruh komunitas. ***