Umat Hindu di Bali pun disibukkan untuk mempersiapkan sarana upacara, lengkap dengan memotong babi untuk dikonsumsi maupun dipersembahkan.
Hari penampahan identik dengan menyembelih hewan baik berkaki empat maupun berkaki dua. Seperti itik, ayam, babi, maupun kerbau.
Hewan ini disemblih untuk diolah menjadi beragam menu. Seperti lawar, tum, sate, urab, maupun olahan lainnya.
Secara maknawi, Hari Penampahan Galungan ini bermakna untuk menaklukkan godaan Sang Kala Tiga, serta menjauhkan segala sifat-sifat negatif kebinatangan.
Baca Juga: Soal Jagal Mangsa saat Penampahan Galungan: Tidak Ada Rujukan, Ngelawar tetap Dilaksanakan
Tujuannya agar tercipta keharmonisan, ketenteraman, dan kesejahteraan bhuwana agung dan bhuwana alit yang secara simbolis diwujudkan dengan kemenangan dharma.
Pada saat ini pula dilaksanakan pemasangan busana, gantungan-gantungan serta perlengkapan lainnya untuk hari esoknya.
Kemudian sore harinya dilakukan pemasangan Penjor Galungan sebagai simbol cetusan rasa terima kasih kepada Ida Sang Hyang Widhi.
Penjor Galungan ini dilengkapi dengan sanggarnya, sampyan, lamak, gantung-gantungan, tetandingan dengan pala bungkah, pala gantung.
Buah-buahan, jajan, dan hiasan lainnya. Penjor sebagai simbol kemenangan dharma melawan adharma dan simbol kesuburan.
Sedangkan mengenai sarana upakaranya dapat disuguhkan sajen berupa: byakala, prayascita, sesayut, dan suguhan segehan agung serta nasi sasahan berwarna putih lima, sembilan tanding warna merah, empat tanding warna hitam dengan ikatannya berisi urab-uraban, kemudian diisi canang genten, toya anyar, dupa, dan tetabuhan.
Saat menyembelih hewan tidak bisa dilakukan begitu saja. Namun harus diimbangi dengan menyampaikan doa agar hewan yang disemblih dapat berinkarnasi ke makhluk yang derajatnya lebih tinggi.
Dalam Lontar Dharma Caruban diungkapkan mantram yang menyangkut jenis dan jumlah kaki dari hewan yang dipotong.
Semisal, doa menyemblih hewan Dwi Pada atau hewan yang berkaki dua; “Om Swasti swasti sarwa dewa bhuta sukha pradhana purusa sang yoga ya namah, Om Yang Nama Swaha”
Artinya: Bagi binatang sembelihan yang berkaki dua dan yang sejenisnya rohnya dikembalikan ke arah timur kehadapan Bhatara Iswara, dengan harapan kelak apabila numitis rohnya itu kedunia akan menjadi manusia yang sakti dan indah perawakanya, tak tercela dan selalu bisa bersedana (beramal) yang baik serta sepanjang hidupnya selalu berpegangan pada Dharma.
Baca Juga: Makna Penyekeban dan Penyajaan Galungan: Mengendalikan Diri dan Menghindari Pertengkaran
Sedangkan Doa menyembelih hewan Catur Pada atau hewan berkaki empat;
“Om Swasti-swasti sarwa dewa bhuta sukha pradhana purusa sang yoga ya namah, Om Bang Namah Swaha”
Artinya Bagi binatang sembelihan yang berkaki empat seperti kerbau, sapi, babi dan sejenisnya rohnya dikembalikan ke arah selatan kehadapan Betara Brahma. (dik)
Editor : I Putu Mardika