BALIEXPRESS.ID - Tatanan penanggalan Bali dalam hitungan hari yang disebut Astawara, sejak wuku Dungulan hingga Kuningan umat Hindu merayakan hari suci Galungan dan Kuningan.
Perayaan yang merupakan satu rangkaian yang jatuh setiap 6 bulan sekali atau 210 hari ini, secara filosofis dalam pemahaman holistic, dimaknai sebagai perayaan hari kemenangan dharma melawan adharma.
Banyak kisah, cerita atau legende dipakai sebagai cermin untuk memaknai perayaan hari tersebut.
Di Bali, perayaan kemenangan dharma melawan adharma ini dilukiskan dengan kisah Mayadenawa yang dihubung-hubungkan dengan nama beberapa desa di kawasan Tampaksiring, Gianyar.
Menurut etemologinya, kata Mayadenawa berarti raksasa (denawa) yang bersifat maya.
Tokoh Mayadenawa, sesuai isi cerita tersebut, dilukiskan sebagai seorang raja Bali yang bertabiat seperti raksasa.
Ia melarang umatnya untuk melakukan yadnya (persembahan) kepada Tuhan.
Jika ada umat yang melaksanakan upacara, akan dihukum sehingga membuat rakyat gelisah.
Seorang pemangku bernama Mpu Sangkul Putih melaporkan hal ini kepada Dewa Indra yang kemudian mengirim balatentaranya untuk memerangi Mayadenawa.
Dalam perang tersebut, Mayadenawa menghalalkan berbagai cara untuk memenangi perang.
Ia membubuhkan racun ke dalam sumber air yang membuat pasukan Dewa Indra kocar-kacir.
Sebagai penawar racun, dengan kesaktiannya Dewa Indra menciptakan sumber air yang kini disebut Tirta Empul, di Desa Tampaksiring, Gianyar.
Perang berjalan panjang dan alot yang membuat Mayadenawa keteter lalu melarikan diri.
Jejak-jejak pelariannya inilah yang kemudian menjadi desa-desa di kawasan tersebut seperti Pejeng, Tatiapi, Tampaksiring dan lain-lain.
Namun kisah tersebut berakhir dengan kematian Mayadenawa yang kemudian diperingati setiap hari raya Galungan dan Kuningan sebagai hari kemenangan dharma melawan adharma.
Menurut Rsi Bintang Dhanu Manik Mas (I.N. Djoni Gingsir) dalam buku Seri Sejarah Mitologi Hari Raya Galungan dan Kuningan, perayaan kemenangan dharma melawan adharma sesuai keyakinan Hindu ini, sejatinya merupakan peristiwa sejarah.
Pada tahun Saka Khecara Wahni Murti atau 835 Saka (913 M) terdapat sebuah kerajaan di Besakih bernama Singhadwala dengan raja bernama Raja Kesari Warmadewa atau Sri Dalem Kesari.
Raja Sri Kesari Warmadewa berasal dari Kerajaan Sriwijaya yang leluhurnya berasal dari Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur dengan leluhur dari Hindia Timur.
Raja Sri Kesari Warmadewa digantikan oleh Raja Chandrabhaya Singhawarmadewa yang berkuasa tahun 878 – 888 Saka.
Sementara di kawasan Batur berdiri sebuah kerajaan bernama Singhamandala yang diperintah oleh seorang ratu bernama Sri Ratu Ugrasena.
Ratu Ugrasena berasal dari Wangsa Kalingga di Jawa atau Sanjaya Wangsa yang leluhur berasal dari Hindia Selatan.
Dua kerajaan ini bersaing untuk saling menguasai hingga terjadi peperangan panjang dan melelahkan.
Pada zaman Raja Candrabaya Warmadewa terjadilah klimaks peperangan antara Kerajaan di Besakih dan Batur hingga tahun 888 Saka wangsa Kalingga dari Dinasti Sanjaya berhasil dikalahkan.
Peristiwa bersejarah ini kemudian diabadikan dengan hari raya Galungan dan Kuningan dengan mitologi Maya Denawa.
Editor : Nyoman Suarna