Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tak hanya di Bali, Hari Raya Mirip Galungan dan Kuningan juga Ada di India: Ada Kaitannya dengan Cerita Ramayana, Ini Sebutannya

Nyoman Suarna • Selasa, 24 September 2024 | 00:57 WIB
MIRIP: Hari Raya mirip Galungan dan Kuningan juga ada di India yang bersumber dari cerita Ramayana. Namun memiliki nama berbeda,
MIRIP: Hari Raya mirip Galungan dan Kuningan juga ada di India yang bersumber dari cerita Ramayana. Namun memiliki nama berbeda,

BALIEXPRESS.ID – Perayaan Galungan dan Kuningan tidak hanya ada di Indonesia, khususnya Bali. Perayaan serupa juga ada di India dengan nama yang berbeda.

Menurut spiritualis Made Dwija Nurjaya, perayaan Galungan dan Kuningan ini hampir mirip dengan  upacara Sradha Dasa Jayami di India yang juga bermakna sebagai perayaan hari kemenangan dharma atas adharma.

Perayaan ini tak lepas dari mitos Ramayana dimana keangkaramurkaan Prabu Rahwana yang disebut Prabu Dasa Muka akhirnya dapat dikalahkan oleh Rama sebagai awatara Wisnu.

Kata Dwija, satu hal terpenting dari perayaan hari suci Hindu adalah perubahan diri atau transformasi dari yang masih dibelengu sifat amarah, dengki, sirik, irihati atau adharma menjadi sifat dermawan, suka menolong, serta menghargai harkat dan martabat makhluk hidup lainnya.

Setelah melaksanakan hari raya Galungan, sepuluh hari berikutnya dilaksanakan hari raya Kuningan yang jatuh pada Sabtu (26/9).

Istilah Kuningan, menurut Made Dwija Nurjaya, berasal dari kata “kauningan” yang artinya pemberitahuan atau disampaikan. Kosa kata itu kemudian dilafalkan menjadi Kuningan.

Berdasarkan sastra yang ada, menurutnya, hari raya Kuningan merupakan hari untuk menyampaikan kehadapan sang pencipta alam bahwa umat sudah melaksanakan hari raya Galungan.

Perayaan yang berselang sepuluh hari setelah Galungan, mirip dengan perayaan yang ada di India.

Di negeri Lembah Sungai Gangga ini ada upacara yang disebut Sraddha Dasa Jayami yang bermakna perayaan sepuluh hari setelah kemenangan dharma.

Hal ini ada kaitannya dengan mitos Ramayana, di mana Rahwana yang juga disebut prabu Dasa Muka (bermuka sepuluh) dapat dikalahkan oleh Sri Rama.

Inilah yang kemudian dimaknai oleh umat Hindu di Bali dalam perayaan Galungan dan Kuningan yang berjarak sepuluh hari.

Pada perayaan hari Kuningan, umat Hindu Bali membuat nasi atau tumpeng berwarna kuning sebagai ungkapan cinta kasih.

Berbeda dengan perayaan hari suci lainnya yang dilakukan selama sehari penuh, perayaan Kuningan dilaksanakan hanya sampai pukul 12.00 siang hari.

Umat meyakini, bahwa setelah pukul 12.00 para dewa dan leluhur sudah kembali ke kahyangan sehingga mubasir jika dihaturkan sesaji.

Namun menurut instruktur meditasi dan yoga ini, perayaan yang tidak boleh lebih dari pukul 12.00 siang pada hari Kuningan karena melihat siklus alam.

Gugusan bintang-bintang dan planet-planet di galaksi Bima Sakti pada saat itu memancarkan energi kesucian hanya sampai pukul 12.00 siang.

Lebih dari itu, letak tatasurya bergeser sehingga mempengaruhi pancaran energi ke bumi.

Jika melakukan persembahyangan lewat dari titik sentral matahari, maka yang terserap bukan lagi energi kesucian.

Secara ilmiah, menurut instrktur Art of Living, sinar matahari sebelum pukul 12.00 siang sangat bermanfaat bagi kehidupan. Proses fotosintesa bagi tumbuh-tumbuhan terjadi pada pagi hari.

Membangkitkan kundalini dengan memanfaatkan sinar matahari juga dilakukan saat pagi hari.

Lewat dari itu, sinar matahari terasa menyengat tubuh dan tidak baik untuk kesehatan.

Sebelum pukul 12.00 energi akan naik, sebaliknya setelah pukul 12.00, kadar energi akan turun.

Editor : Nyoman Suarna
#india #bali #hari raya #galungan #ramayana #kuningan