Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Waspadai Pertemuan Kala-Jaya Tiga Kali Berturut-Turut, Momen Sang Kala Tiga Goda Manusia jelang Galungan

I Putu Mardika • Selasa, 24 September 2024 | 04:17 WIB

Bhuta Amangkurat pada hari Anggara Dunggulan (Selasa), yang disebut Panampahan Galungan, Bhuta ini menggoda perilaku manusia dalam memahami Galungan
Bhuta Amangkurat pada hari Anggara Dunggulan (Selasa), yang disebut Panampahan Galungan, Bhuta ini menggoda perilaku manusia dalam memahami Galungan
BALIEXPRESS.ID- Perayaan Hari Raya Galungan selalu dirayakan dengan penuh semarak. Galungan jatuh pada hari Rabu Kliwon Wuku Dunggulan menurut kalender pawukon, yang diperingati setiap 210 hari atau setiap enam bulan kalender Bali.

Secara filosofis, Hari Raya Galungan dimaknai oleh umat Hindu sebagai kemenangan Dharma atas Adharma. Namun, masih banyak yang belum memahami apa atau siapa sebenarnya musuh (Adharma) yang harus dikalahkan.

Dalam rangkaian peringatan Galungan, umat Hindu mulai menghadapi godaan yang datang sejak Redite Pahing Dunggulan, ketika Kala Tiganing Galungan muncul untuk menggoda keteguhan hati menjelang Galungan.

Tiga makhluk tersebut adalah Bhuta Galungan, Bhuta Dungulan, dan Bhuta Amangkurat, yang mewakili kejahatan dan angkara murka.

Dalam konteks ini, umat Hindu tidak melawan musuh fisik, tetapi musuh batin seperti hawa nafsu dan ketidakbenaran.

Menurut Made Gami Sandi Untara, Dosen Wariga di STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Bhuta Galungan, Bhuta Dungulan, dan Bhuta Amangkurat mengganggu manusia pada waktu yang berbeda.

Berdasarkan perhitungan wewaran, gangguan ini terjadi pada hari Minggu, Senin, dan Selasa Dunggulan, dengan pertemuan Kala-Jaya tiga kali berturut-turut.

Gangguan pertama datang dari Bhuta Galungan pada hari panyekeban, yaitu Redite Dunggulan (Minggu). Bhuta ini mencoba menyerang manusia dengan berbagai cara agar bisa dikalahkan.

Dalam Lontar Sunarigama, disebutkan bahwa manusia harus "Anyekung Jnana" atau menenangkan pikiran agar tidak terpengaruh oleh godaan Bhuta Galungan, yang menyerang pikiran dan pemahaman manusia tentang Galungan. Jika berhasil melawan godaan ini, dianggap sebagai kemenangan pertama atas Bhuta.

Godaan berikutnya berasal dari Bhuta Dungulan pada hari Soma Dunggulan (Senin), yang jatuh pada hari panyajaan. Pada hari ini, umat Hindu melakukan tapa samadhi dan pemujaan kepada Ista Dewata.

Dalam Lontar Sunarigama disebutkan "Pangastawaning Sang Ngamong Yoga Samadhi," yaitu saat umat melaksanakan meditasi untuk menguatkan diri dari godaan Bhuta Dungulan yang menyerang ucapan manusia.

Jika berhasil menjaga perkataan yang baik dan tidak memancing kemarahan, umat dianggap telah menang atas godaan kedua.

Godaan terakhir datang dari Bhuta Amangkurat pada hari Anggara Dunggulan (Selasa), yang disebut Panampahan Galungan. Bhuta ini menggoda perilaku manusia dalam memahami Galungan.

Sesungguhnya, makna Panampahan adalah mengalahkan sifat-sifat kebinatangan dalam diri, bukan sekadar menyembelih hewan korban.

Musuh sejati adalah sifat-sifat buruk dalam diri manusia, bukan dari luar. Dalam Lontar Sundarigama disebutkan "Pamyakala kala malaradan," yang berarti membayar utang kepada ruang dan waktu.

Demikianlah rangkaian godaan yang harus diatasi oleh umat Hindu dalam rangka mencapai kemenangan Dharma atas Adharma pada Hari Raya Galungan.

Gami Sandi menjelaskan bahwa jika unsur Kala lebih dominan, maka pemahaman seseorang terhadap Hari Raya Galungan akan menjadi kabur atau ingkar.

Sebaliknya, jika unsur Jaya yang unggul, seseorang akan memiliki keyakinan yang kuat dan sikap setia dalam melaksanakan perayaan Galungan.

"Kemenangan Dharma atas Adharma dalam konteks wariga dimaknai sebagai dominasi Jaya atas Kala dalam diri kita. Hal ini diwujudkan melalui perayaan Galungan yang jatuh pada wewaran Uma-Mandala," jelasnya.

Lebih lanjut, Gami menjelaskan bahwa Uma-Mandala dalam Wariga memiliki makna simbolis. Uma diartikan sebagai sawah, yang melambangkan kesuburan (padi), sedangkan Mandala berarti dunia atau bumi.

Oleh karena itu, Galungan adalah puncak hari bumi, sebuah perayaan kemenangan Dharma atas Adharma setelah berhasil melewati berbagai godaan dalam kehidupan. Ini adalah momen bagi manusia untuk mengendalikan diri dan berbuat sesuai dengan Dharma.

Tujuannya untuk meningkatkan kualitas hidup serta mencapai kebahagiaan (ananda), kesejahteraan duniawi (jagadhita), pembebasan (moksa), dan kedamaian (shanti) dalam hidup sebagai makhluk yang memiliki kebijaksanaan.

"Hal ini berarti bahwa Hari Raya Galungan, yang merupakan 'Otonan Jagat,' bertujuan untuk mendapatkan kesuburan dan kesejahteraan. Sesajen dipersembahkan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan para leluhur di sanggah atau merajan dengan menghaturkan punjung atau soda sagi," pungkasnya. (dik)


 

Editor : I Putu Mardika
#WEWARAN #hindu bali #Bhuta Dunggulan #hindu #Bhuta Amangkurat #galungan #Bhuta Galungan #kuningan