Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Cakra Yadnya saat Galungan, Cara Ampuh Memutar Ekonomi, Gunakan Buah Lokal

I Putu Mardika • Selasa, 24 September 2024 | 05:27 WIB

Buah lokal yang dihasilkan petani di Bali yang digunakan dalam upacara yadnya sebagai implementasi Cakra Yadnya
Buah lokal yang dihasilkan petani di Bali yang digunakan dalam upacara yadnya sebagai implementasi Cakra Yadnya
BALIEXPRESS.ID-Hari Raya Galungan semakin dekat, dan dalam perayaan kemenangan Dharma atas Adharma, umat Hindu di Bali sering mempersembahkan berbagai sarana, terutama buah-buahan.

Konsep Cakra Yadnya, yang mendorong penggunaan buah lokal dalam persembahan, dianggap sebagai solusi untuk menjaga stabilitas ekonomi.

Dr. Putu Maria Ratih Anggraini, M.Fil.H akademisi STAHN Mpu Kuturan Singaraja, menyatakan bahwa Hari Raya Galungan memiliki peran penting dalam memutar roda perekonomian umat Hindu di Bali.

Salah satu solusinya adalah penerapan konsep Cakra Yadnya, di mana berbagai bahan lokal digunakan dalam upacara, mulai dari janur hingga buah-buahan, bahkan hingga hal terkecil seperti lidi semat untuk banten.

Dengan menggunakan bahan-bahan lokal, seperti jeruk, rambutan, mangga, pisang, durian, dan duku, hal ini memberikan dampak positif bagi para petani lokal, karena buah-buahan tersebut akan laku dijual, bahkan dengan harga yang tinggi.

Ratih menekankan bahwa penggunaan bahan lokal ini menciptakan efek berantai bagi perekonomian Bali, menguntungkan para petani yang menghasilkan bahan-bahan upacara tersebut.

Namun, Ratih juga menjelaskan bahwa banyak orang Bali lebih suka menggunakan buah impor dalam persembahan mereka. Hal ini terkait dengan penampilan fisik dan warna buah impor yang lebih menarik lebih seragam dalam ukuran, bersih, dan cerah.

Kondisi ini membuat kaum perempuan cenderung memilih buah impor karena tampilan banten akan terlihat lebih mewah dan rapi, serta proses penataan buah lebih mudah dan cepat.

Selain itu, buah lokal sering kali lebih kecil, kurang cerah, dan sulit diatur dalam banten, yang menyebabkan waktu persiapan lebih lama.

Dari segi rasa, buah lokal dianggap kurang manis dan kualitasnya, seperti jeruk Kintamani yang airnya sedikit, sering kali tidak sebaik buah impor.

Oleh sebab itu, buah impor lebih disukai, terutama oleh perempuan di perkotaan, yang juga meyakini bahwa buah impor lebih kaya akan vitamin.

Kemudahan mendapatkan buah impor di pasaran semakin membuatnya diminati. Sementara itu, buah lokal bersifat musiman, seperti rambutan, duku, durian, dan manggis, yang hanya tersedia pada waktu tertentu.

"Sebaliknya, jeruk ponkam, apel Washington, jambu biji Bangkok, dan anggur Australia bisa dengan mudah ditemukan kapan saja di pasar atau supermarket, tanpa terpengaruh musim," tambahnya.

Ratih menjelaskan bahwa dalam pandangan Hindu, penggunaan buah impor dalam upacara keagamaan tidaklah dilarang. Prinsip utama dalam beryadnya bagi umat Hindu adalah ketulusan dan keikhlasan. Namun, jika buah impor hanya digunakan untuk pamer atau sekadar menunjukkan status ekonomi, hal tersebut tidak sesuai dengan ajaran agama Hindu.

Ratih menegaskan bahwa yadnya yang dilakukan dengan tujuan untuk pamer atau mendapatkan imbalan lebih cenderung bersifat Tamasika.

"Kita semua tahu bahwa Ida Sang Hyang Widhi Wasa tidak pernah menuntut persembahan tertentu, apalagi yang mewah dan mahal," jelasnya.

Ia mengutip sebuah sloka yang menyatakan, "Dengan sebiji buah, sekuntum bunga, dan selembar daun, jika dipersembahkan dengan tulus ikhlas, maka akan diterima oleh-Nya."

Dari sloka ini, sudah jelas bahwa Tuhan tidak meminta persembahan yang spesifik atau mewah, dan cara apa pun kita menyembah akan sampai kepada-Nya.

Namun, karena dorongan pribadi, banyak orang berlomba-lomba memberikan yang terbaik dan terindah dalam upacara.

"Persembahan itu memang dapat membawa kebahagiaan bagi diri manusia. Tetapi akan lebih baik jika kita mempersembahkan buah lokal saat Hari Raya Galungan atau upacara-upacara suci lainnya, karena ini juga membantu perputaran ekonomi masyarakat Bali, sehingga dampaknya dapat dirasakan oleh semua orang," pungkasnya. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#bali #petani #buah #lokal #Cakra Yadnya #hindu #galungan #kuningan