Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Makna Magis di Balik Tembok Panyengker dalam Arsitektur Bali: Apab Bedanya dengan Pagehan?

I Putu Suyatra • Selasa, 24 September 2024 | 19:23 WIB
Makna dan fungsi tembok penyengker dalam arsitektur Bali
Makna dan fungsi tembok penyengker dalam arsitektur Bali

BALIEXPRESS.ID - Tembok Panyengker, bagian penting dari arsitektur Bali, bukan hanya berfungsi sebagai pagar biasa. Terbuat dari batu, bata, atau beton, tembok ini sering dihiasi ornamen yang serasi dengan bangunan di dalamnya, menciptakan kesan indah.

Namun, lebih dari itu, Tembok Panyengker memiliki peran magis yang menyimpan misteri di balik keberadaannya.

Menurut Dr. Drs. Ketut Sumadi, M. Par, Tembok Panyengker adalah elemen wajib dalam arsitektur Bali.

Secara fisik, tembok ini berfungsi sebagai pelindung dan penanda batas area, seperti di pura yang menandai kawasan suci.

Kehadiran Tembok Panyengker tidak hanya membatasi secara nyata, tetapi juga memengaruhi perilaku orang di dalamnya.

Fungsi Tembok Panyengker di rumah juga sangat penting. Batas ini memisahkan pekarangan dari teba, bahkan melindungi rumah dari ancaman luar seperti hewan liar dan orang asing.

Lebih menarik lagi, Tembok Panyengker ternyata mengadopsi pengaruh arsitektur kerajaan kuno, khususnya Majapahit, yang berakar pada konsep Tri Mandala—membagi area suci menjadi Uttama Mandala (jeroan), Madya Mandala (jaba tengah), dan Nista Mandala (jaba sisi).

Setiap bagian memiliki fungsinya sendiri, baik di pura maupun tata kota.

Namun, apa yang membuat Tembok Panyengker begitu istimewa?

Selain kekuatan fisiknya, tembok ini juga dipercaya memiliki kekuatan magis.

Proses pembangunannya melibatkan perhitungan arsitektur tradisional Asta Kosala Kosali dan Asta Bhumi, serta ritual pasupati atau pangurip-urip, menjadikannya "hidup" secara niskala, atau tak kasat mata.

Kekuatan magis inilah yang dipercaya mampu menangkal energi negatif dari luar.

Pagehan vs. Tembok Panyengker: Apa Bedanya?

Selain Tembok Panyengker, ada istilah lain dalam budaya Bali, yaitu pagehan.

Meski sering disamakan, keduanya sebenarnya berbeda. Pagehan biasanya merujuk pada pagar biasa yang terbuat dari tanaman sejajar, lebih sederhana dibandingkan dengan Tembok Panyengker yang kokoh dan penuh makna magis.

Menurut Sumadi, Tembok Panyengker kerap digunakan untuk rumah, sanggah merajan, dan bahkan pura, sementara pagehan lebih umum ditemukan di kalangan masyarakat biasa untuk lahan pertanian.

Kearifan lokal Bali juga menyiratkan bahwa Tembok Panyengker tak boleh diabaikan.

Ada istilah pamalinan, yang merujuk pada hal-hal pamali yang bisa terjadi jika tembok ini tak dirawat dengan baik.

Misalnya, pohon yang dahannya menjulur melintasi tembok bisa dianggap pamali, baik secara logis maupun spiritual.

Tembok Panyengker dan Tantangan Modernitas

Dalam era modern, keberadaan Tembok Panyengker mulai terabaikan, terutama di kawasan perumahan yang semakin padat.

Sumadi menyarankan untuk tetap membangun Tembok Panyengker jika memungkinkan, namun jika tidak, penghuni rumah bisa membuat pelangkiran di setiap ruangan dan menjaga aura positif melalui perilaku dan doa.

Meskipun dianggap kuno, Tembok Panyengker masih relevan dalam kehidupan masyarakat Bali.

Tidak hanya sebagai elemen pelindung, tapi juga penjaga aura positif di tengah tantangan modernitas.

Apakah Tembok Panyengker ini hanya mitos, atau benar-benar membawa pengaruh? Semua tergantung pada keyakinan Anda, namun satu hal pasti, keberadaannya tetap dihormati dan dipandang penuh makna oleh masyarakat Bali. ***

 

Editor : I Putu Suyatra
#tembok penyengker #bali #pelangkiran #arsitektur