Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Desa Adat Carangsari: Tempat Bertemunya Tradisi Hindu dan Tionghoa dengan Kisah Unik di Baliknya

I Putu Suyatra • Rabu, 25 September 2024 | 02:48 WIB
Pura Dalem Puri Carangsari di Badung, Bali.
Pura Dalem Puri Carangsari di Badung, Bali.

BALIEXPRESS.ID -  Di balik pesona budaya Hindu Bali, Desa Adat Carangsari di Petang, Badung, menyimpan kisah unik yang menarik perhatian banyak orang.

Desa ini memiliki keunikan tersendiri, salah satunya adalah keberadaan tiga Pura Dalem, termasuk Pura Dalem Puri yang diampu oleh empat Banjar adat, yaitu Telugtug, Senapan, Pamijian, dan Mekarsari.

Namun yang lebih mencuri perhatian adalah tradisi yang memperlihatkan harmoni antara penduduk Hindu Bali dan keturunan Tionghoa yang hidup berdampingan selama berabad-abad.

Yang membuat Desa Adat Carangsari istimewa adalah adanya palinggih di Pura Dalem Puri yang digunakan untuk memuja Sang Hyang Siwa-Buddha.

Ini adalah tempat khusus bagi warga keturunan Tionghoa untuk sembahyang.

Kisah menarik muncul dari arca Siwa-Buddha yang ada di pura ini, yang konon bukan merupakan peninggalan kuno, melainkan berasal dari seorang penjual patung di Darmasaba.

Kisahnya bermula ketika seorang warga Tionghoa secara tidak sengaja menabrak patung tersebut hingga pecah.

Sang penjual meminta patung tersebut dibayar, dan akhirnya patung yang hancur itu dibawa pulang ke Carangsari.

Arca yang disusun kembali ini kemudian ditempatkan di Pura Dalem Puri atas petunjuk secara niskala, dan kini dianggap suci serta digunakan dalam upacara piodalan, dihias dengan wastra merah.

Harmoni antara warga Hindu dan Tionghoa tidak hanya terlihat di pura, tetapi juga dalam ritual sehari-hari.

Misalnya, saat persembahyangan purnama-tilem, warga Tionghoa biasanya menghaturkan teh manis di palinggih Siwa-Buddha, sementara warga Hindu menghaturkan canang.

Pada piodalan yang jatuh pada Buddha Cemeng Langkir, warga Tionghoa tetap ikut berdoa sesuai kepercayaan mereka, namun upacara dipimpin oleh Jro Mangku Dalem Puri.

Hubungan erat antara kedua komunitas ini tidak terlepas dari sejarah panjang Desa Carangsari, yang juga menjadi tempat peristirahatan terakhir Pahlawan Nasional I Gusti Ngurah Rai.

Beliau diaben di setra yang terletak di seberang Pura Dalem Puri. Desa ini juga memiliki hubungan dengan kuburan Tionghoa yang berada sekitar satu kilometer ke arah barat.

Di area kuburan tersebut terdapat kelenteng Hok Tik Kong, yang didirikan pada tahun 1932.

Kelenteng ini menjadi tempat penting bagi warga Tionghoa, terutama saat Imlek, di mana mereka berdoa untuk para leluhur.

Menariknya, di dinding kelenteng tersebut terdapat lukisan yang menggambarkan perjalanan roh di alam baka dan nirvananya Sang Buddha.

Meskipun sempat terjadi pasang surut dalam hubungan antara warga Bali dan Tionghoa, kini kedua komunitas kembali erat.

Menurut Jro Mangku Dalem Puri, momen ini merupakan kebangkitan kembali hubungan harmoni Siwa-Buddha yang selama ini terjalin di Desa Adat Carangsari.

Desa ini bukan sekadar tempat persembahyangan, melainkan simbol hidup berdampingan dalam harmoni, di mana tradisi Hindu dan Tionghoa menyatu dalam kekayaan budaya Bali yang begitu memikat. ***

 

Editor : I Putu Suyatra
#PURA DALEM PURI CARANGSARI #tionghoa #desa adat #buddha #hindu