Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pura Mekah: Tempat Suci Hindu Bali Unik di Denpasar dengan Tradisi Langka yang Mengundang Penasaran, Terutama Saat Sembahyang Terakhir

Putu Agus Adegrantika • Rabu, 25 September 2024 | 02:59 WIB
Pura Mekah, yang terletak di Banjar Binoh, Desa Pakraman Pohgading, Denpasar Utara
Pura Mekah, yang terletak di Banjar Binoh, Desa Pakraman Pohgading, Denpasar Utara

BALIEXPRESS.ID - Pura Mekah, yang terletak di Banjar Binoh, Desa Pakraman Pohgading, Denpasar Utara, memiliki daya tarik tersendiri dengan tradisi Hindu Bali unik yang jarang ditemukan di pura-pura lain di Pulau Dewata.

Tradisi khusus yang dijalankan di pura ini membuat banyak orang penasaran dan tertarik untuk mengetahuinya lebih dalam.

Pangempon Pura Mekah, I Wayan Sudirta, mengungkapkan bahwa salah satu tradisi unik di pura ini adalah arah persembahyangan yang berubah di akhir prosesi.

"Saat piodalan, persembahyangan dimulai seperti biasa menghadap ke timur, tetapi di akhir, pamedek wajib menghadap ke barat," jelas Sudirta.

Sembahyang ke barat ini dilakukan untuk menghaturkan banten dan memohon restu dari leluhur yang diyakini berasal dari Desa Mekah.

Tradisi ini semakin menarik perhatian karena Pura Mekah hanya mengadakan piodalan setiap enam bulan sekali, dan hanya empat keluarga yang awalnya bertanggung jawab atas pura tersebut.

Kini, jumlah pangemponnya bertambah menjadi 50 kepala keluarga seiring dengan berkembangnya keturunan.

Penanganan piodalan dilakukan secara bergiliran.

"Setiap enam bulan, dua keluarga bertugas secara bergantian, sementara yang lainnya membantu dalam persiapan dan pelaksanaan upacara," tambah Sudirta.

Tidak hanya masyarakat setempat, Pura Mekah juga menjadi bahan penelitian para akademisi.

Dr. Pande Wayan Renawati, dosen UHN Sugriwa Denpasar, yang pernah melakukan penelitian di sana, mengungkapkan asal usul nama "Mekah" yang menarik perhatian.

"Nama Mekah di sini merujuk pada Ratu Gede Dalem Mekah, yang merupakan Mpu Tanrupa dari Majapahit. Desa Mekah sendiri ada di Probolinggo, bukan merujuk pada kota suci Mekah di Arab Saudi," jelasnya.

Struktur bangunan Pura Mekah juga sarat dengan simbolisme.

Dari gapura paduraksa yang melambangkan persatuan purusha dan pradana hingga dua mandala utama—utama mandala dan nista mandala.

Di utama mandala, terdapat tiga palinggih pokok yang dipercaya sebagai tempat bersthananya para dewa dan dewi, yaitu Palinggih Ratu Gede, Palinggih Ratu Ayu, Gedong Ratu Gede, dan Gedong Artha.

Renawati juga menambahkan, Palinggih Ratu Gede Bagus dipercaya sebagai tempat berkumpulnya para dewa dan pusat rapat besar atau paruman, sedangkan Palinggih Ratu Ayu berperan menciptakan kesuburan di lingkungan sekitar pura.

Gedong Artha diyakini sebagai tempat yang menaungi kemakmuran dan harta kekayaan.

"Persembahyangan yang menghadap ke barat ini dilakukan untuk memohon restu kepada leluhur yang berasal dari Desa Mekah, Probolinggo," lanjut Renawati.

Keunikan Pura Mekah ini menarik banyak perhatian, tidak hanya dari masyarakat Bali, tetapi juga para peneliti dan mahasiswa yang tertarik untuk mengkaji lebih lanjut.

Meskipun merupakan pura keluarga dari Arya Kepakisan, Pura Mekah terbuka bagi siapa saja yang ingin melakukan penelitian. ***

 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #unik #hindu #denpasar #Pohgading #sembahyang #tradisi #PURA MEKAH