Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Uniknya Mejurag Nasi Takepan di Kedisan saat Galungan, Nasi Satu Ceeng Simbol Penghormatan Leluhur

I Putu Mardika • Jumat, 27 September 2024 | 06:24 WIB

Nasi Takepan di Desa Kedisan Kecamatan Kintamani  yang menjadi simbol penghormatan kepada leluhur
Nasi Takepan di Desa Kedisan Kecamatan Kintamani yang menjadi simbol penghormatan kepada leluhur
BALIEXPRESS.ID-Hari Raya Galungan di Desa Kedisan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli memiliki ciri khas yang membedakannya dari daerah lain di Bali.

Tradisi Nunas Nasi Takepan, yang diadakan di Pura Bale Agung, menjadi pembeda utama dalam perayaan ini, di mana masyarakat memohon keselamatan dan perlindungan dari leluhur mereka.

Desa Kedisan dikenal sebagai "I Krama Wikang Ranu" atau "Masyarakat Bingkang (Bintang) Danu," bersama dengan desa-desa lainnya seperti Songan, Buahan, Abang, dan Trunyan.

Selain disebut sebagai Masyarakat Bingkang Danu, penduduknya juga dikenal sebagai Bali Mula, masyarakat yang telah menetap di Bali sebelum datangnya Bali Majapahit. Desa Kedisan termasuk dalam kelompok Bali Kuno yang sudah ada sejak zaman dahulu.

Sebagai Desa Bali Kuna, tradisi Nunas Nasi Takepan menjadi ciri khas Desa Adat Kedisan. Ritual ini diawali dengan pesu nasi (menyajikan nasi) satu cééng nasi ke Pura Bale Agung, yang dilakukan oleh seluruh warga yang terdaftar dalam pipil krama banjar, yang terdiri dari sekitar 600 kepala keluarga.

Nasi yang dipersembahkan kemudian dicatat oleh Jro Paduluan dan Jro Panyarikan Desa Adat Kedisan.

Menurut Jro Penyarikan Desa Adat, I Nyoman Bawa, kata "takepan" berasal dari kata "jangkep" yang berarti lengkap, merujuk pada mereka yang telah menikah dan menjadi bagian dari adat desa.

Nasi takepan dipandang sebagai simbol persembahan, berupa nasi yang dibentuk khusus menggunakan wadah dari kayu bulu atau batok kelapa.

Pada Hari Raya Galungan, warga yang telah menikah dan masuk dalam adat desa diperbolehkan untuk meminta nasi takepan setelah rapat atau sangkep diadakan. Tradisi ini bertujuan untuk menghormati leluhur yang telah berjasa membangun Desa Kedisan.

Tradisi Nunas Nasi Takepan tercatat dalam Prasasti Kedisan yang berangka tahun 808 Çaka atau 886 Masehi. Prasasti tersebut menyebutkan bahwa pada Hari Raya Galungan, masyarakat harus mempersembahkan nasi takepan yang disajikan dengan alas klakat, daun pisang, serta lauk telur.

Masyarakat juga dianjurkan untuk mempersembahkan nasi takepan di setiap tempat peribadatan. Jika tidak memiliki pelinggih, mereka bisa melakukannya di Sanggar Agung.

Klakat, sebagai salah satu sarana upacara, melambangkan empat penjuru mata angin dan simbol keharmonisan kehidupan.

Daun pisang, atau plawa, menjadi simbol kesucian hati, sering digunakan dalam berbagai ritual di Desa Adat Kedisan.

Baca Juga: Kampanye Perdana di Alasangker, Paket JOSS24 Traktir Jajan Bakso

Telur ayam yang disertakan dalam persembahan melambangkan hubungan antara purusa (dilambangkan oleh putih telur) dan pradana (dilambangkan oleh kuning telur), yang menggambarkan keseimbangan dan keharmonisan.

Sedangkan Canang Sari melambangkan keempat penjuru arah dengan bunga berwarna putih, merah, kuning, hitam, dan kembang rampe di tengah.

Nasi satu cééng, yang berbentuk seperti mangkuk terbalik, menjadi simbol penghormatan kepada leluhur yang telah membangun Desa Kedisan.

Setiap warga desa diwajibkan membawa nasi satu cééng sebagai bentuk penghormatan dan permohonan tuntunan dari leluhur, agar diberikan kemudahan dalam menjalani kehidupan secara turun-temurun.

Dengan pelaksanaan tradisi ini, masyarakat Desa Kedisan diharapkan bisa menjaga keharmonisan dalam kehidupan mereka.

Tradisi Nunas Nasi Takepan hanya bisa dilakukan oleh warga desa yang sudah menikah dan membina rumah tangga. Pada Hari Raya Galungan, setiap warga desa diwajibkan menyajikan nasi sebanyak satu cééng di pagi hari.

Jro Penyarikan Desa Adat, I Nyoman Bawa, menjelaskan bahwa setelah nasi tersebut diatur oleh Jro Paduluan, pada siang harinya, para laki-laki desa akan datang ke pura untuk melakukan rapat terkait urusan desa. Setelah rapat selesai, barulah mereka bisa melanjutkan dengan ritual Nunas Nasi Takepan.

Hanya warga yang sudah menikah atau yang sudah madesa (terikat secara adat) yang diperbolehkan melaksanakan Nunas Nasi Takepan. Namun, mereka harus memperhatikan urutan atau tata cara yang sudah ditentukan.

"Tujuan dari upacara Nunas Nasi Takepan ini adalah untuk memperkuat tekad dalam membangun desa serta menjaga warisan tradisi dan adat yang luhur. Melalui kebersamaan, saling mendukung, dan kasih sayang, desa akan menjadi semakin kuat," ujarnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#Kintamani #nasi takepan #bangli #galungan #kedisan