BALIEXPRESS.ID - Di Bali, banyak benda kuna yang dianggap suci dan disakralkan oleh masyarakat, seperti halnya Selonding, alat musik tradisional yang ditemukan di Desa Pakraman Padangan, Pupuan, Tabanan.
Meskipun sudah menjadi bagian dari budaya Bali, sejarah keberadaan Selonding hingga kini masih penuh misteri dan menarik perhatian banyak orang.
Gamelan Kuna dengan Suara Pelog yang Misterius
Selonding adalah alat musik gamelan kuno berlaraskan pelog yang terbuat dari besi dan menghasilkan nada-nada unik.
Namun, asal-usul alat musik ini hingga kini masih menjadi tanda tanya. Menurut Tokoh Desa Padangan, I Wayan Wardita, masyarakat setempat mempercayai bahwa gamelan Selonding ini ditemukan di hulu sungai kecil yang disebut Yeh Selonding, yang berada di dekat Pura Luhur Pesimpangan Pucak Kedaton, tempat yang sangat dikeramatkan oleh warga desa.
Suara Aneh yang Mengundang Tanda Tanya
Sebelum ditemukan, warga Desa Pakraman Padangan sering kali mendengar suara gamelan aneh pada malam hari dan saat hari-hari suci seperti rahinan.
Suara tersebut diduga berasal dari gamelan Selonding yang belum diketahui wujudnya.
Akhirnya, melalui musyawarah desa yang dipimpin para sesepuh, masyarakat berhasil menemukan seperangkat gamelan dengan bilah yang terbuat dari campuran besi dan perunggu.
“Bilah-bilah gamelan ini memiliki nada yang berbeda-beda dan disakralkan oleh masyarakat. Sejak saat itu, Selonding hanya digunakan untuk mengiringi tarian khusus yang dipersembahkan dalam upacara Yadnya,” ungkap Wardita kepada Bali Express.
Tarian Sakral yang Hanya Bisa Ditarikan oleh Gadis Suci
Gamelan Selonding bukan sembarang gamelan. Alat musik ini hanya dimainkan untuk mengiringi tarian tertentu yang penuh nilai magis, seperti Tari Cecondongan, Lelangkaran, Gegandangan, Lelegongan, hingga Rarejangan.
Uniknya, penari yang bisa membawakan tarian tersebut haruslah gadis (daha) yang belum mengalami menstruasi, sementara juru gamel (pemain gamelan) merupakan keturunan langsung dari pemain sebelumnya.
“Tukang gamelnya turun-temurun, dari kakek ke cucu. Namun, karena banyak tukang gamel yang sudah berusia lanjut atau meninggal, beberapa gending (lagu) terkadang terlupakan,” tambah Wardita.
Kehilangan Juru Gamel, Misteri yang Semakin Dalam
Dengan semakin berkurangnya generasi tua yang memahami cara memainkan gamelan Selonding, beberapa gending khasnya pun mulai hilang dari ingatan.
Masyarakat setempat terus berupaya melestarikan tradisi ini meskipun tantangan besar harus dihadapi, terutama dalam menemukan penerus yang layak.
Misteri keberadaan dan suara gamelan yang menggetarkan jiwa pada malam hari masih menjadi cerita yang terus hidup di tengah masyarakat Desa Pakraman Padangan.
Siapakah yang pertama kali menemukan gamelan ini, dan apa makna suara-suara aneh yang sering terdengar pada malam hari? Hingga kini, misteri itu masih terus mengundang penasaran. ***
Editor : I Putu Suyatra