BALIEXPRESS.ID - Pura Dalem Sidhakarya Peraupan yang terletak di Desa Pakraman Peraupan, Desa Peguyangan Kangin, Kecamatan Denpasar Utara, Bali merupakan saksi sejarah peperangan Bali dan Majapahit.
Secara administratif, Pura Dalem Sidhakarya Peraupan terletak di lingkungan Banjar Bantas, Jalan Antasura Gang Batusari.
Pura ini dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor atau mobil, sekitar 4 kilometer dari pusat kota Denpasar.
Pura Dalem Sidhakarya Peraupan merupakan pura dalem jagat yang berfungsi memohon kerahayuan jagat dan juga pemuput karya panca yadnya.
Pura ini termasuk salah satu cagar budaya karena banyak terdapat peninggalan purbakala yang dipercayai oleh masyarakat sebagai tempat memuja kerabat dalem atau trah sentana Dalem Bali.
Dikutif dari jegegsajan.blogspot.com, sejarah Pura Dalem Dalem Sidhakarya Peraupan Denpasar berawal dari kedatangan Patih Gajah Mada dari Majapahit untuk menyerang Bali.
Diceritakan saat penyerangan Gajah Mada ke Bali, raja Bali bernama Si Arya Panji pergi ke Den Bukit, diiringi Bendesa Abian Tiing.
Setibanya di Den Bukit, Arya Panji berpesan kepada warga Den Bukit agar siap siaga, karena musuh dari Majapahit sudah tiba di Bali.
Hutan yang dipergunakan sebagai tempat perunding ini kemudian dinamai Alas Panji.
Setelah itu Si Arya Panji bertolak ke selatan menuju Batur. Di wilayah selatan Batur beliau menyampaikan kepada kerabatnya tentang keberadaan pasukan Gajah Mada di Tianyar dan menuju Bukit Jimbaran.
Pondok Bendesa Abian Tiing tersebut, setelah menjadi desa, disebut Desa Kutuh. Sedangkan tempat Arya Panji menerangkan kedatangan musuh dari Majapahit, menjadi Pura Nataran.
Beberapa saat kemudian Si Arya panji mendapat informasi bahwa peperangan telah berlangsung sengit di hutan Jarak.
Perang tersebut banyak memakan korban hingga membuat mayat bertumpuk-tumpuk seperti gunung.
Karena itu tempat peperang sengit itu, jika kelak menjadi sebuah desa, maka disebut desa Bangkali atau Bangli.
Si Arya Panji berniat pulang ke Puri Semanggen Dalem Tukuwub atau Batu Kuub. Di tengah perjalanan, beliau bertemu dengan prajurit dari bukit bernama Patih Tambiak yang hendak mengungsi ke Batur yakni di Panarajon.
Dalam pengejaran musuh, Arya Panji mengungsi ke tempat ayahnya moksa, yakni Puri Batulu. Disanalah beliau mendekatkan diri ke pada para dewa memohon keselamatan.
Belum selesai beliau berdoa, tiba-tiba Patih Gajah Mada datang menyerang. Si Arya Panji lari dari Puri Batulu, kemudian menjatuhkan diri di sungai dan berenang ke arah selatan. Gajah Mada juga ikut terjun ke sungai membuntuti pelarian Si Arya Panji.
Setelah tiba di tepi laut, Si Arya Panji menuju Tegal Asah. Tiba di tengah tegalan, Patih Gajah Mada sudah berada di belakangnya. Si Arya Panji langsung ditusuk dari belakang. Beliau jatuh dan tewas, mayatnya terkurap ke tanah.
Gajah Mada sangat kesal dan bertolak dari Tegal Asah menuju Puri Bungkasa. Hal ini membuat permaisuri Dalem Bungkasa melarikan diri, tetapi akhirnya tewas dibunuh Patih Gajah Mada di tepi sungai Yeh Ayu.
Patih Gajah Mada kembali bertolak ke ke Puri Bukit Sari. Ia menemukan seorang anak yang ternyata Putra dari Arya Panji.
Patih Gajah Mada hendak membunuhnya serta melenyapkan seluruh keturunan Raja Bali.
Namun tiba-tiba ia teringat akan ajaran agama, tidak boleh membunuh bocah yang tidak berdosa.
Patih Gajah Mada bahkan kemudian mengantarkan si anak untuk melihat mayat ayahnya.
Si anak yang bernama Dalem Alit itu sangat sedih lantaran melihat wajah mayat ayahnya Arya Panji berubah menjadi jangus, waktu dibalikkan oleh Gajah Mada.
Patih Gajah mada kemudian mengambil kayu atau taru untuk membuat prerai atau tapel yang dinamakan Dalem Jangus.
Sejak itulah mayat Si Arya Panji bernama Dalem Jangus. Melihat ayahnya telah wafat dengan wajah jangus, Dalem Alit menangis lalu bertanya kepada Gajah Mada, siapa yang akan memeliharanya kelak.
Mendengar hal itu, Patih Gajah Mada mengambil kayu, memintanya membuat tapel atau topeng yang dinamakan Dalem Jangus.
Dia meminta Dalem Alit untuk melaksanakan upacara dengan memakai tapel Dalem Jangus.
Sejak itulah, Dalem Alit diserahi tugas melakukan upacara yadnya menggunakan topeng jangus yang kemudian disebut Topeng Dalem Sidhakarya
“Aku serahkan lima jenis upacara itu, kaulah yang mengolahnya. Prerai atau tapel itu sekarang dinamakan topeng Sidakarya yang berfungsi sebagai panca yadnya dan tirtanya untuk muput karya.
Kemudian Dalem Alit dijuluki warga Melayu oleh Patih Gajah Mada, sebab ayahnya tewas dalam pelarian.
Sedangkan Tegal Asah diubah namanya menjadi Buruan, sebab Gajah Mada memburu ayahnya dan berhasil membunuhnya di tempat itu.
Salah satu tempat yang menjadi jejak perjalanan Raja Bali Si Arja Panji saat diburu Gajah Mada diabadikan menjadi sebuah pura bernama Pura Dalem Sidhakarya Peraupan.
Layaknya pura-pura lain di Bali, Pura Dalem Sidhakarya Peraupan ini dibagi menjadi tiga mandala, yaitu kanistan mandala atau jaba sisi, madya mandala atau jaba tengah, dan utama mandala atau jeroan.
Dengan luas sekitar 10 are, areal Pura Pura Dalem Sidhakarya Peraupan memiliki beberapa buah bangunan suci dan pelinggih, termasuk pelinggih pokok pura.
Di jaba sisi atau nista mandala, dari arah selatan ke utara, terdapat bale kul-kul, pengelurah yang merupakan Ista dewata Hyang Widhi dan yang paling utaranya terdapat bambu gading.
Memasuki jaba tengah terdapat aling-aling, berupa macan gading. Menuju kejeroan atau utama mandala di arah barat ke timur, terdapat pelinggih Wenara Petak yang berada tepat di belakang aling-aling Macan Gading.
Dari arah selatan Pura Dalem Sidhakarya terdapat pemadegan Ratu Gede Dalem Peed atau Ratu Dalem Lingsir.
Editor : Nyoman Suarna