Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Makna dan Sarana Ritual Nebusin bagi Umat Hindu Bali: Ada Hubungannya dengan Jiwa dan Pengaruh Negatif

I Putu Suyatra • Minggu, 29 September 2024 | 03:33 WIB

Padang lepas adalah salah satu sarana upakara nebusin bagi umat Hindu Bali.
Padang lepas adalah salah satu sarana upakara nebusin bagi umat Hindu Bali.

BALIEXPRESS.ID - Di tengah hiruk-pikuk modernitas, masyarakat Hindu Bali tetap setia pada ritual-ritual unik yang kaya akan makna spiritual.

Salah satu ritual tersebut adalah nebusin, yang berarti menebus jiwa dari pengaruh negatif atau gangguan yang dialami seseorang.

Ritual ini bukan hanya sekadar upacara, tetapi merupakan jembatan antara dunia fisik dan gaib, yang berfungsi untuk mengembalikan roh seseorang yang terpengaruh oleh sakit, utang lahir, atau peristiwa tragis seperti kecelakaan.

Makna Ritual Nebusin

Nebusin dilakukan di tempat-tempat suci, seperti pura atau catus pata, serta lokasi-lokasi yang berkaitan dengan insiden tertentu.

Dalam pelaksanaannya, ritual ini dipimpin oleh seorang pamangku, yang dibantu oleh keluarga pasien serta sejumlah upakara atau persembahan.

Jro Mangku I Nyoman Netra, yang berperan di Pura Dalem Puri Carangsari, Petang, Badung, mengaku sering kali diminta untuk memandu umat dalam ritual nebusin ini.

“Ritual ini dilaksanakan berdasarkan petunjuk gaib yang diterima melalui mapinunas di balian atau mimpi dari Ida Bhatara Sasuhunan,” ungkap Jro Mangku Netra.

Ini menunjukkan bahwa setiap langkah dalam ritual ini dipenuhi dengan keyakinan yang mendalam akan kekuatan spiritual.

Sarana dan Proses Pelaksanaan

Dalam ritual nebusin, berbagai sarana digunakan, seperti banten soroh, daksina gede, dan penyambutan, serta hewan sebagai penukar, seperti ayam hitam.

Sebelum melaksanakan nebusin, individu yang bersangkutan akan dilukat di sebuah tempat suci untuk menjaga kesucian jeroan pura.

“Panggung catur digunakan untuk melukat dan memercikkan tirta menggunakan enam jenis daun yang memiliki makna spiritual tersendiri,” jelas Jro Mangku.

Daun-daun tersebut, seperti alang-alang dan kelor, memiliki fungsi khusus, misalnya, alang-alang, dadap, tulak, padang lepas, kelor, dan tenggulun berfungsi untuk menghalangi pengaruh negatif.

Keajaiban Saat Ritual Dilakukan

Menariknya, saat proses pemercikan tirta panglukatan, sering kali terjadi hal-hal tak terduga.

Dalam salah satu ritual, seorang remaja perempuan yang sakit tiba-tiba berteriak dan menari dengan mata terpejam, menunjukkan adanya interaksi antara roh dan dunia gaib.

Jro Mangku Istri, yang bertugas melukat, berusaha berkomunikasi dengan roh yang merasuk, berharap agar gangguan tersebut tidak kembali.

Setelah proses melukat, yang bersangkutan akan diarahkan untuk muspa, meminta kesembuhan dengan penuh harapan.

“Kalau memang karma phalanya membawa kesembuhan, maka kami akan mohonkan, tetapi jika waktunya sudah tiba, kami tidak bisa berbuat banyak,” jelas Jro Mangku Netra.

Lebih dari Sekadar Ritual

Nebusin juga dikenal sebagai cara untuk menebus utang lahir, yang mungkin terkait dengan perjanjian dari kehidupan sebelumnya.

Ritual ini tidak hanya memutuskan hubungan dengan roh yang melik (memiliki tanda lahir tertentu), tetapi juga dilakukan di lokasi-lokasi di mana seseorang jatuh atau tewas.

“Pasca jatuh, kondisi jiwa seseorang sering tidak stabil, dan kami percaya ada nyama papat yang terlepas, sehingga perlu ditebus dan diajak pulang,” jelas Jro Mangku.

Kesimpulan

Ritual nebusin adalah contoh nyata bagaimana masyarakat Hindu Bali mempertahankan tradisi spiritual yang mendalam, meski dalam era modern.

Dengan melaksanakan ritual ini, masyarakat tidak hanya mencari kesembuhan, tetapi juga menjaga hubungan harmonis dengan alam gaib.

Melalui pelaksanaan yang penuh keyakinan, ritual ini menjadi sarana untuk mengatasi berbagai permasalahan yang mengganggu kehidupan sehari-hari.

Dengan memahami ritual nebusin, kita dapat melihat betapa kaya dan kompleksnya budaya Bali, yang masih menghormati nilai-nilai tradisional dalam menghadapi tantangan zaman. ***

 
Editor : I Putu Suyatra
#ritual #bali #jiwa #hindu #nebusin #Dadap #tradisi