Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Empat Alasan Umat Hindu di Bali Pantang Laksanakan Upacara saat Uncal Balung setelah Galungan

Nyoman Suarna • Minggu, 29 September 2024 | 22:17 WIB
UNCAL BALUNG: Periode 35 setelah hari raya Galungan yang disebut Uncal Balung merupakan pantangan bagi umat Hindu di Bali untuk melaksanakan upacara.
UNCAL BALUNG: Periode 35 setelah hari raya Galungan yang disebut Uncal Balung merupakan pantangan bagi umat Hindu di Bali untuk melaksanakan upacara.

BALIEXPRESS.ID - Uncal Balung yang berlangsung selama 35 hari setelah Hari Raya Galungan hingga Buda Kliwon Pahang, merupakan salah satu hal penting bagi umat Hindu di Bali.

Sebab, selama periode ini, ada pantangan untuk melaksanakan upacara-upacara besar yang sifatnya ngewangun (terencana), seperti perkawinan, ngaben, atau melaspas bangunan.

Mengapa pada rentang waktu ini pantang menggelar upacara besar? Berikut adalah beberapa alasan yang mendasari.

  1. Periode Istirahat Spiritual

Menurut Ida Pedanda Kebayan, secara niskala, periode Uncal Balung dianggap sebagai waktu istirahat bagi Ida Bhatara setelah serangkaian persembahan selama Hari Raya Galungan hingga Kuningan.

Setelah merestui umat yang melakukan persembahan, Ida Bhatara diyakini beristirahat pada Hari Raya Kuningan. Dan selama periode Uncal Balung, dianjurkan untuk tidak melakukan yadnya atau upacara baru yang besar.

Umat Hindu juga dianggap membutuhkan waktu untuk beristirahat setelah melaksanakan rangkaian upacara yang intens, baik secara spiritual maupun fisik.

Setelah pengorbanan waktu, tenaga, dan biaya selama Galungan dan Kuningan, umat disarankan untuk kembali fokus pada kehidupan sehari-hari dan mencari rejeki sebelum melanjutkan yadnya di masa mendatang.

 2. Pengaruh Kekuatan Alam

Secara tradisional, waktu Uncal Balung dianggap kurang baik dari segi padewasan (penentuan waktu baik), karena waktu ini dianggap tidak memiliki "balung" (tulang), yang berarti tidak memiliki pengukuh atau kekuatan yang mendukung keberlangsungan upacara besar.

Menurut kepercayaan, saat Uncal Balung, kekuatan alam dan ciptaan-Nya, seperti tumbuhan, binatang, dan manusia, berada dalam kondisi lemah atau tidak stabil.

Upacara-upacara yang membutuhkan energi besar dan kekuatan spiritual, seperti melaspas bangunan atau upacara perkawinan, dianggap kurang tepat dilakukan pada periode ini, karena dikhawatirkan tidak akan mendapatkan restu penuh dari alam dan para dewa yang sedang beristirahat.

 3. Fokus pada Konsentrasi Spiritual

Rentang waktu Uncal Balung juga dikenal sebagai masa yang penuh dengan hari-hari raya besar dalam kalender Bali, seperti Galungan, Kuningan, dan hari-hari penting lainnya.

Dengan banyaknya perayaan besar, konsentrasi umat sering kali terbagi. Oleh karena itu, tradisi ini bertujuan untuk membantu umat fokus pada perayaan yang sudah ada, daripada menambah beban dengan upacara-upacara besar lainnya.

 Tokoh umat Hindu Drs. I Ketut Wiana dalam beberapa kesempatan, menjelaskan bahwa konsep Nguncal Balung juga terkait dengan upaya untuk mengurangi penyembelihan hewan selama periode ini, sejalan dengan filosofi "membuang tulang" atau mengurangi aktivitas yang membutuhkan pengorbanan besar.

 4. Fleksibilitas dalam Tradisi

Meski begitu, pelarangan ini tidak sepenuhnya kaku. Upacara rutin seperti otonan (ulang tahun) atau piodalan (upacara di pura keluarga) tetap dapat dilakukan.

Selain itu, dalam situasi darurat seperti kematian, upacara ngaben atau kremasi juga bisa dilaksanakan.

Di beberapa daerah seperti Denpasar dan Badung, tradisi ini mengalami sedikit pergeseran. Beberapa keluarga tetap melangsungkan upacara besar saat Uncal Balung, dan upacara tersebut berjalan lancar tanpa hambatan.

Namun, penting untuk diingat bahwa setiap tradisi memiliki makna mendalam yang melibatkan harmonisasi antara manusia, alam, dan dewa.

Tradisi Nguncal Balung bukan hanya sekadar mitos atau larangan tanpa dasar.

Ini merupakan wujud dari penghargaan terhadap ritme alam, kekuatan spiritual, dan keseimbangan antara waktu kerja dan waktu ibadah.

Melalui pantangan melaksanakan upacara besar selama Uncal Balung, umat Hindu diajak untuk beristirahat, berkonsentrasi, dan menyiapkan diri secara spiritual dan fisik sebelum melanjutkan yadnya di masa mendatang.

Editor : Nyoman Suarna
#bali #alasan #uncal balung #hindu #galungan