Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Hindari Konflik Sedarah, Salah Satu Saudara Raja Blahbatuh Hijrah ke Alas Tarik yang Kini Disebut Angantaka: Begini Sejarahnya

Nyoman Suarna • Senin, 30 September 2024 | 00:17 WIB
KONFLIK SEDARAH: Desa Angantaka merupakan saksi bisu sejarah perjalanan salah satu keturunan Raja Blahbatuh untuk hindari konflik sedarah.
KONFLIK SEDARAH: Desa Angantaka merupakan saksi bisu sejarah perjalanan salah satu keturunan Raja Blahbatuh untuk hindari konflik sedarah.

BALIEXPRESS.ID – Desa Angantaka, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung merupakan sebuah wilayah perbatasan antara Kerajaan Mengwi dan Kerajaan (Kini Badung dan Denpasar).

Desa ini memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan Raja Blahbatuh, Gianyar pada abad ke-18 atau sekitar tahun Caka 1750.

Saat itu Puri Blahbatuh, Gianyar dipimpin seorang raja bernama Ida I Gusti Ngurah Jelantik XV, juga dikenal sebagai Ida I Gusti Ngurah Kedep.

Gusti Ngurah Kedep memiliki lima saudara di antaranya I Gusti Ngurah Gede Abyan yang lahir dari keluarga Puri Bon Biu.

Selanjutnya I Gusti Ngurah Gede Meranggi, I Gusti Made Meranggi, I Gusti Nyoman Meranggi dan  I Gusti Gede Tamsi.

Gusti Ngurah Kedep menikah dengan seorang perempuan dari Tegallinggah dan memiliki lima anak, yaitu Ni Gusti Ayu Dalem, Ki Gusti Ngurah Gede, Ki Gusti Ngurah Jelantik, Ki Gusti Ayu Kompyang, dan Ni Gusti Ayu Ketut Agung.

Setelah Gusti Ngurah Kedep gugur dalam pertempuran di Wanayu, ada beberapa keluarganya masih menetap di Puri Blahbatuh, termasuk I Gusti Ngurah Gede Abyan.

Di tengah konflik di Puri Blahbatuh, muncul dua kelompok yang mendukung tokoh berbeda.

Sebagian mendukung I Gusti Ngurah Gede dan sebagian lagi mendukung I Gusti Ngurah Gede Abyan.

Situasi ini memicu ketegangan yang berpotensi menimbulkan konflik sedarah.

Untuk menghindari terjadinya konflik sedarah hingga perang saudara, I Gusti Ngurah Gede Abyan memutuskan meninggalkan Puri Blahbatuh.

Beliau berangkat bersama lima puluh orang pengikutnya yang berasal dari keluarga Kubayan, Pande, Tangkas, Tegeh Kuri, Gelgel, Bendesa, dan Wayabya Pinatih.

Rombongan ini melakukan perjalanan menuju sebuah wilayah terpencil yang dikenal dengan nama Alas Terik.

Setelah menempuh perjalanan panjang, mereka tiba di sebuah lembah yang kemudian dinamai Karang Dalem.

Nama ini merujuk pada lokasi yang terletak di atas lembah atau jurang yang memiliki pandangan langsung ke Gunung Agung.

Gunung ini sangat dihormati karena leluhur mereka pernah menerima pusaka suci dari Ida Betara Toh Langkir.

Konon pusaka ini digunakan dalam pertempuran melawan Dalem Bungkut, Raja Nusa Penida.

Berita tentang keberadaan I Gusti Ngurah Gede Abyan sampai ke telinga Raja Mengwi.

Merasa satu garis keturunan dari Cri Nararya Kresna Kepakisan, Raja Mengwi menugaskan Gusti Ngurah Gede Abyan untuk menjaga wilayah Mengwi yang berbatasan dengan Kerajaan Badung.

I Gusti Ngurah Gede Abyan menerima tawaran tersebut dan melanjutkan perjalanan ke wilayah perbatasan yang saat itu masih berupa hutan lebat di Desa Bun, tempat asal mertuanya, I Gusti Ayu Pinatih.

Di Desa Bun, mertuanya menyarankan agar Gusti Ngurah Gede Abyan membuka lahan di hutan sebagai tempat tinggal.

Dengan pengikutnya, I Gusti Ngurah Gede Abyan merabas hutan dan membangun sebuah desa baru yang dinamai Desa Angantaka.

Nama ini berasal dari kata "ngetak," yang berarti panas. Hal ini untuk menggambarkan kondisi emosional yang dialaminya saat meninggalkan Puri Blahbatuh akibat konflik internal yang memecah keluarga besar.

Desa Angantaka kemudian berkembang seiring waktu. Banjar pertama yang didirikan adalah Banjar Karang Dalem.

Lama-kelamaan berubah menjadi Banjar Dalem. Selanjutnya, desa ini juga memiliki Banjar Puseh dan Banjar Desa setelah terbentuknya sistem Kahyangan Tiga.

Raja Mengwi kemudian memberikan rakyat dari Kekeran Mengwi untuk tinggal di Desa Angantaka, yang membentuk Banjar Kekeran Angantaka.

Pada masa perang antara Kerajaan Badung dan Mengwi, Puri Sading yang berada di bawah kekuasaan Raja Mengwi dititipkan di Angantaka, bersama dengan rakyat dari Tegal Darmasaba.

Lama kelamaan, mereka membentuk Banjar Tegal, yang kemudian digabung dengan Banjar Desa.

 Baca Juga: Kronologi Kecelakaan Maut: Mahasiswa Asal Gresik Tewas Tertabrak Trailer, Polisi Ungkap Detik-detik Menegangkan Itu

Hingga kini, Desa Angantaka tumbuh menjadi sebuah desa yang dihuni oleh berbagai kelompok masyarakat yang berasal dari berbagai wilayah, seperti Gianyar, Blahbatuh, Kemenuh, Bon Biu, Tojan, Keramas, Kekeran Mengwi, dan Tegal Darmasaba.

Desa ini merupakan simbol kekuatan persatuan di tengah keragaman keturunan dan latar belakang.

Demikianlah sejarah berdirinya Desa Angantaka, yang lahir dari pengorbanan dan perjuangan untuk menghindari konflik serta tumbuh menjadi desa yang kuat dan dinamis berkat kebersamaan dan hubungan kekerabatan yang erat di antara penduduknya.

Editor : Nyoman Suarna
#saudara #blahbatuh #sedarah #alas tarik #sejarah #konflik #raja #Desa Angantaka