Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Jejak Ajaran Siwa-Budha di Bali: Menyatu dalam Tradisi Hindu Bali dan Pura Tersembunyi

I Putu Mardika • Selasa, 1 Oktober 2024 | 01:50 WIB
Pura Dasar Bhuwana Siwa Budha Amerta Jati, Desa Tajun, Kecamatan Kubutambahan, Bali.
Pura Dasar Bhuwana Siwa Budha Amerta Jati, Desa Tajun, Kecamatan Kubutambahan, Bali.

BALIEXPRESS.ID - Ajaran Siwa-Budha adalah perpaduan unik antara Hindu dan Buddha yang berkembang di Indonesia, khususnya pada masa kejayaan Majapahit.

Dua agama besar ini menyatu dalam harmoni, sebagaimana terlihat dalam karya sastra kuno seperti Kakawin Sutasoma dan Arjuna Wiwaha.

Kedua ajaran ini bukan hanya sekadar perpaduan, tetapi juga mencerminkan karakter manusia, yaitu sisi feminin dan maskulin.

Tidak hanya dianggap sebagai refleksi dari sifat manusia, Siwa-Budha juga menjadi simbol dari sinkretisme yang berkembang di Nusantara.

Ajaran ini bukanlah agama Barat atau Timur, melainkan sebuah ajaran tengah yang menyatu dengan tradisi Hindu Bali.

Salah satu jejak keberadaan ajaran Siwa-Budha dapat ditemukan di Pura Dasar Bhuwana Siwa Budha Amerta Jati, Desa Tajun, Kecamatan Kubutambahan, Bali.

Pura yang berlokasi di timur Pura Bukit Sinunggal ini cukup tersembunyi, sehingga tidak banyak yang mengetahuinya.

Meski begitu, sebelum bersembahyang di Pura Bukit Sinunggal, umat diwajibkan untuk mampir dan melakukan persembahyangan di Pura Dasar Bhuwana terlebih dahulu.

Pura dengan Simbol Dualitas

Pura yang berada di bawah tebing curam ini memiliki dua palinggih utama, yaitu Palinggih Siwa Raja Dewa setinggi lima meter yang menyerupai lingga, dan Palinggih Hyang Buddha Mahayana berbentuk stupa yang di dalamnya terdapat patung Buddha Mahayana.

Umat yang ingin bersembahyang di pura ini harus menuruni lebih dari seratus anak tangga sepanjang 50 meter.

Menurut Jero Mangku Nyoman Sukrai, pangempon Pura Dasar Bhuwana Siwa Budha Amerta Jati, pura ini melambangkan konsep Purusha dan Pradana.

Palinggih Siwa Raja Dewa merupakan simbol Purusha, sedangkan Palinggih Hyang Buddha Mahayana menyimbolkan Pradana.

Konsep ini mengajarkan dualitas yang selalu ada di dunia, seperti siang-malam, baik-buruk, laki-perempuan.

Jero Sukrai menegaskan bahwa pemahaman Rwa Bhineda, yang berarti dualitas, harus dijadikan panduan hidup untuk meningkatkan kesadaran diri.

Ia menjelaskan, suka-duka, senang-susah akan selalu berdampingan. Keseimbangan dalam menjalani hidup, seperti bersyukur baik saat mendapat rezeki maupun ujian, adalah kunci untuk mencapai ketenangan batin.

Tradisi Pujawali yang Sakral

Setiap Purnama Kapat, Pura Dasar Bhuwana Siwa Budha Amerta Jati menggelar Pujawali.

Upacara ini dilaksanakan sehari penuh dan menarik kedatangan umat Hindu maupun Buddha dari seluruh Bali.

Fenomena ini menunjukkan bahwa ajaran Siwa-Budha masih sangat melekat di hati masyarakat Bali. Umat Buddha yang datang tetap menjalankan ritual sesuai kepercayaan masing-masing, memperlihatkan harmoni antara dua ajaran tersebut.

Jero Sukrai juga merujuk pada karya sastra seperti Arjuna Wiwaha dan Sutasoma yang ditulis oleh Mpu Tantular, di mana penyatuan Siwa dan Buddha sangat jelas.

Dalam sloka 27,2 Arjuna Wiwaha disebutkan bahwa “tidak ada perbedaan antara Buddha dan Siwa, keduanya adalah pelindung Dharma.”

Sedangkan dalam Sutasoma disebutkan bahwa “Jiwa Jina dan Jiwa Siwa adalah satu.”

Perjalanan Spiritual di Pura Dasar Bhuwana

Dalam rangkaian pemujaan, sebelum bersembahyang di Pura Bukit Sinunggal, umat Hindu diwajibkan melakukan penyucian di Pura Goa Raja, yang terletak di bawah Pura Dasar Bhuwana.

Setelah melaksanakan pemujaan di Pura Dasar Bhuwana, umat dianggap telah menguatkan fondasi spiritual mereka, barulah mereka melanjutkan persembahyangan di Pura Bukit Sinunggal.

Jero Sukrai menambahkan, umat yang datang ke Pura Dasar Bhuwana tidak diharuskan membawa sarana persembahyangan tertentu.

Menurutnya, yang terpenting adalah ketulusan hati saat melakukan persembahyangan.

"Sarana persembahyangan tidak dipatok, umat bebas membawa apa saja sesuai kemampuan, yang penting tulus ikhlas," jelasnya.

Pura Dasar Bhuwana Siwa Budha Amerta Jati adalah saksi nyata dari penyatuan ajaran Siwa dan Buddha di Bali, sebuah tradisi yang hingga kini tetap terjaga.

Keberadaan pura ini bukan hanya sebagai tempat bersembahyang, tetapi juga sebagai simbol kebersamaan dan harmoni dua ajaran besar yang pernah berkembang di Nusantara.

Bagi siapa saja yang ingin memperdalam spiritualitas, Pura Dasar Bhuwana Siwa Budha Amerta Jati adalah fondasi awal sebelum melanjutkan perjalanan menuju Pura Bukit Sinunggal. *** 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #Pura Dasar Bhuwana Siwa Budha Amerta Jati #budha #hindu #tradisi #siwa