BALIEXPRESS.ID - Sebagai salah satu desa bersejarah di Bali, Desa Pejeng menyimpan warisan budaya Hindu tak ternilai dengan deretan pura yang berstatus cagar budaya.
Salah satu pura yang cukup unik adalah Pura Batan Klicung, sebuah tempat suci Hindu Bali yang diyakini sebagai lokasi memohon obat sekaligus tempat meditasi yang damai.
Terletak tak jauh dari Pura Manik Corong, Pura Batan Klicung meski kecil, menyimpan banyak cerita yang belum terungkap.
Pura yang Terlupakan di Tengah Kekayaan Budaya Pejeng
Pura Batan Klicung mungkin tidak terlalu mencolok jika dibandingkan dengan Pura Penataran Sasih atau Pura Kebo Edan yang lebih terkenal di Pejeng.
Dengan luas kurang dari tiga are, pura ini terlihat sederhana dengan hanya dua palinggih dan beberapa bangunan lainnya.
Namun, kehadiran belasan arca serta statusnya sebagai cagar budaya menegaskan bahwa Pura Batan Klicung memiliki sejarah yang panjang dan misterius.
Menurut Jro Mangku Ngakan Ketut Rai, pemangku di Pura Batan Klicung, sejarah pasti dari pura ini belum ditemukan dalam lontar atau prasasti.
Meski demikian, berdasarkan arca-arca yang ada, diyakini pura ini memiliki kaitan erat dengan Pura Manik Corong, sebuah tempat yang dikenal masyarakat sebagai lokasi memohon hujan tak turun.
"Tidak ada catatan resmi mengenai asal-usul pura ini, baik di lontar maupun prasasti, sehingga kami juga tak tahu pasti kapan pura ini didirikan dan oleh siapa," ujarnya.
Pemugaran dan Penambahan Bangunan
Pada 2012, saat diadakan upacara besar di Pura Batan Klicung, Ida Pedanda Wayahan Bun dalam dharma wacana menyampaikan bahwa pura ini bukanlah pura keluarga meskipun pangemongnya adalah keluarga Jro Mangku.
Sebelumnya, Pura Batan Klicung hanya memiliki satu bangunan kecil dan dikelilingi tembok panyengker.
Namun, sebelum karya agung tersebut, keluarga pemangku setempat melakukan renovasi total, termasuk membangun tempat khusus untuk menyimpan arca-arca bersejarah.
Kini, Pura Batan Klicung memiliki lebih banyak bangunan, termasuk candi-candi yang memisahkan setiap area pura.
"Untuk posisi arca-arca, saya tidak berani banyak mengubahnya. Hanya batarannya yang kami tinggikan agar tidak terlalu rendah," jelas Jro Mangku.
Misteri Sosok yang Berstana di Pura Batan Klicung
Siapa sebenarnya yang berstana di Pura Batan Klicung? Menurut penerawangan Ida Pedanda Wayahan Bun, diyakini yang berstana di pura ini adalah Ida Sang Hyang Ganapati, yang ditandai dengan keberadaan patung Ganesha serta arca Siwa.
Arca-arca ini ditempatkan di posisi tengah dan diapit oleh beberapa arca lainnya.
Keyakinan bahwa Ida Sang Hyang Ganapati berstana di sini juga membuat pura ini dipercaya memiliki tuah sebagai tempat memohon obat untuk kesembuhan.
Meski demikian, tidak banyak masyarakat yang mengetahui hal ini, sehingga hanya sedikit orang yang datang memohon tamba di pura tersebut.
Namun, beberapa orang dari luar Desa Pejeng sudah mulai datang secara diam-diam untuk memohon kesembuhan.
Pura Batan Klicung: Surga Bagi Meditasi
Selain sebagai tempat memohon obat, Pura Batan Klicung juga dikenal sebagai lokasi meditasi.
Meski terletak di pinggir jalan utama dan dekat dengan pemukiman warga, aura pura ini sangat tenang, membuatnya menjadi tempat yang ideal bagi mereka yang mencari ketenangan batin.
"Biasanya saya tahu ada orang yang bermeditasi di sini dari sisa sesajen yang mereka tinggalkan," ungkap Jro Mangku.
Namun, jumlah orang yang datang untuk meditasi di Pura Batan Klicung tidak sebanyak di Pura Manik Corong, yang memiliki aura lebih kuat. Mereka yang bermeditasi di sini biasanya memiliki ikatan batin khusus dengan pura ini.
Hubungan Mistis Antara Pura Batan Klicung, Pura Manik Corong, dan Pura Galang Sanje
Pura Batan Klicung memiliki hubungan erat dengan Pura Manik Corong dan Pura Galang Sanje, yang juga berada di sekitar lokasi ini.
Menurut keyakinan, ketiga pura ini menggambarkan perjalanan matahari dari terbit hingga terbenam.
Pura Batan Klicung, yang juga dikenal sebagai Galang Kangin, melambangkan matahari terbit di ufuk timur.
Sementara Pura Manik Corong, yang dikenal dengan sebutan Manik Galang, melambangkan matahari di tengah hari, dan Pura Galang Sanje melambangkan matahari terbenam di ufuk barat.
Selain itu, arca-arca di ketiga pura ini memiliki kemiripan yang mencolok, memperkuat hubungan mistis di antara mereka.
"Keberadaan arca-arca di Pura Batan Klicung, Manik Corong, dan Galang Sanje sangat mirip, sehingga ketiga pura ini tidak bisa dipisahkan satu sama lain," tambah Jro Mangku.
Pura Batan Klicung mungkin terlihat kecil dan sederhana, namun di balik kesederhanaannya tersimpan sejarah dan misteri yang belum terungkap sepenuhnya.
Dari keyakinan sebagai tempat memohon obat hingga aura tenang yang membuatnya menjadi lokasi meditasi, pura ini menawarkan pengalaman spiritual yang mendalam bagi siapa saja yang mengunjunginya.
Hubungannya dengan Pura Manik Corong dan Pura Galang Sanje semakin menambah kekayaan cerita mistis dari desa bersejarah Pejeng ini.
Akankah kita menemukan lebih banyak rahasia yang tersembunyi di balik dinding pura ini? ***
Editor : I Putu Suyatra